PROMOSI PRODUK

Ini Hal Menakjubkan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat

On Friday, October 04, 2019


"Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” 

(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

SIDOARJO (DutaJatim.com) - Sungguh merugi bagi setiap orang yang diberi peluang tapi tidak dimanfaatkan. Peluang itu salah satunya membaca Surat Al Kahfi.

Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. 

Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits yang membicarakan hal ini kami bawakan sebagian pada posting yang singkat ini. Semoga bermanfaat.

 Hadits pertama:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

Hadits kedua:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” 

(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Begitu pula Muaz Ibnu Anas Al-Juhari. Beliau mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Siapa yang membaca dari Surah Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya dan siapa yang membaca keseluruhannya, maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi,” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW Bersabda: “Barang siapa membaca Surah Al Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya,” (HR-Dailami).

Nabi Muhammad SAW telah memerintahkan untuk membaca awal-awal surat Al Kahfi agar terlindung dari fitnah Dajjal. Dalam riwayat lain disebutkan akhir-akhir surat Al Kahfi yang dibaca. Intinya, surat Al Kahfi yang dibaca bisa awal atau akhir surat. Dan yang lebih sempurna adalah menghafal seluruh ayat dari surat tersebut.

Dari Abu Darda’, Nabi saw bersabda: “Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal,” (HR. Muslim).

Imam Nawawi RA berkata, “(Kenapa yang dianjurkan untuk dibaca adalah surat Al Kahfi?) Karena di awal surat tersebut terdapat ayat-ayat yang menakjubkan. Siapa yang mau merenungkannya, niscaya ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal. Sebagaimana pula dalam akhir-akhir ayat surat tersebut, Allah berfirman, “Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil (hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?),” (QS. Al Kahfi: 102)” (Syarh Shahih Muslim, 6: 93).

Dan di antara waktu yang terbaik untuk membaca surat Al Kahfi adalah di hari Jum’at.  


MAKA SELAMAT BERHARI RAYA JUMAT 

Baca surat Al-Kahfi 
Perbanyak sholawat
Perbanyak dzikir
Muliakan malamnya
Muliakan siangnya

InsyaAllah kita semua akan dimuliakanNya...
Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin (*)

JK Lantik Pengurus DMI Jatim: Dukung Program Gubernur Khofifah Jatim Berkah hingga Tangkal Kaum Radikal Kuasai Masjid

On Thursday, October 03, 2019


SURABAYA (DutaJatim.com) - Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla, selaku Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), melantik Ketua Dewan Masjid Provinsi Jatim, M. Roziqi, dan jajaran pengurus lain, di Islamic Center, Kota Surabaya, Kamis (3/10/2019). Usai acara pelantikan, M. Roziqi mengatakan, DMI siap  membantu program memakmurkan masjid yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertajuk Jatim Berkah.

DMI siap menyukseskan program Jatim Berkah, di mana  pada tahun 2019 ini memberikan uang kehormatan pada 11 imam masjid di pedesaan di Jawa Timur. "Insya Allah program ini akan berlanjut di tahun-tahun selanjutnya," kata Roziqi.

Tidak hanya itu, DMI Jawa Timur juga siap melaksanakan program DMI pusat untuk memperbaiki kualitas pengeras suara di masjid-masjid di Jawa Timur.

Hal itu sudah menjadi hasil muswil DMI selain beberapa program yang lain.

"Kita sudah mendapatkan sebanyak 19 kendaraan keliling untuk memperbaiki pengeras suara masjid. Dan kami akan melanjutkan program tersebut," kata Roziqi.

Dengan bantuan kendaraan tersebut, DMI Jawa Timur menyediakan teknisi untuk melakukan perbaikan titik masjid yang membutuhkan perbaikan.


Paham Radikal

M. Roziqi juga mengungkapkan, salah satu tugas berat yang menanti DMI Jawa Timur ke depan adalah mencegah tersebarnya paham Radikalisme.

"Kita memang harus bekerja keras, jangan sampai masjid kemasukan paham-paham radikal karena jika bisa masuk lewat masjid akan sangat mudah sekali menggaet remaja-remaja," ucap M Roziqi.

Untuk mencegah hal tersebut, M Roziqi mengaku bekerja sama dengan DMI kabupaten/kota beserta takmir masjid.

"Kita tunjukan bagaimana bahaya Radikalisme dengan menggandeng kepolisian terutama di desa-desa," ucapnya.

M Roziqi mengungkapkan, radikalisme saat ini sudah mulai masuk ke kampus.

"Dan ini akan kita coba untuk cegah jangan sampai masuk ke masjid," ucap dia.

"Salah satunya kita menyarankan agar ketika menugaskan khotib jangan sembarangan, jangan yang keras itu. Soalnya kita sering mendapatkan laporan," lanjutnya.

M Roziqi juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang menepati janji kampanyenya.

Khofifah Indar Parawansa akan memberikan uang penghargaan ke pengurus masjid melalui salah satu program nawa bakti satya yaitu Jatim Berkah.

"Tahun ini ada 11ribu imam masjid yang mendapatkan uang penghormatan, ini kita prioritaskan untuk imam yang ada di pedesaan dan terpencil serta jauh dari perkotaan," ucapnya.

Menurut dia, setiap imam masjid mendapatkan dua juta rupiah dalam satu tahun.

"Untuk tahap pertama sudah selesai 5000 untuk tahap November akan diselesaikan 6000 imam masjid," katanya. (nas/tbn)

JK Lantik Pengurus Baru DMI Jatim: Masjid Makmur Negara Unggul

On Wednesday, October 02, 2019



SURABAYA (DutaJatim.com) –  Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) M. Jusuf Kalla (JK)  melantik pengurus Pimpinan Wilayah (PW) DMI Jatim 2019-2024 di Gedung Islamic Center, Surabaya, Kamis (3/10/2019)  pagi. Acara pelantikan dimulai pukul 08.00 WIB.

“Insya Allah Pak JK sudah confirm hadir. Harapan kita para menteri di Kabinet Kerja yang pengurus DMI juga bisa hadir,” kata Ketua Panitia, KH Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans), saat memberi penjelasan kepada wartawan di Surabaya, Rabu (2/10/2019) siang.

Selain JK yang juga menjabat Wakil Presiden, kata Gus Hans, acara itu juga dihadiri KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) asal Yogyakarta untuk memberi mauidhoh hasanah. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, juga diagendakan hadir.


Sebanyak 3.500 undangan, di antaranya para tokoh agama, tokoh masyarakat, Forkopimda, dan pengurus DMI se-Jatim, diperkirakan hadir dalam acara tersebut.
“Ada penyerahan secara simbolisasi program gubernur dalam rangka memberikan kesejahteraan kepada sekitar 11 ribu imam masjid di Jatim,” kata Gus Hans.

Pengurus DMI Jatim masa bakti 2019-2024 diketuai KH M. Roziqi. Di jajaran wakil ketua terdapat sejumlah tokoh, mulai kalangan pesantren, mantan pejabat, hingga berlatar belakang pengusaha. Selain Gus Hans, ada nama Masnuh, Sudjak, Arum Sabil, dan Hadi Santoso.


Terkait banyak pengurus dari latar belakang santri yang pengusaha, Gus Hans menjelaskan hal itu sesuai dengan semangat dan tema pelantikan: Masjid makmur, Indonesia unggul.

“Ketika masjidnya makmur, otomatis isinya juga makmur. Ketika orang-orang yang ahli masjid itu makmur, maka insya Allah Indonesia akan menjadi negara yang unggul,” katanya.

Pemahaman Gus Hans, masjid harus makmur.  Dalam kegiatannya bisa pula memakmurkan orang-orang yang aktif di dalam masjid tersebut.

“Nah, kehadiran pengusaha, santri dan sebagainya dalam komposisi kepengurusan ini, kita harapakan bisa nge-grab dengan hal-hal seperti itu. Jadi konekting ke pemberdayaan masjid, dan sebagainya,” jelasnya.

Ketua PW DMI Jatim masa bakti 2019-2024, KH M. Roziqi menuturkan, organisasi yang dipimpinnya akan fokus mamakmurkan dan dimakmurkan masjid.

“Mamakmurkan masjid yaitu melakukan dakwah bil lisan, ya khotbah, pengajian, memperingati hari besar Islam dan seterusnya. Tapi yang perlu diperhatikan yaitu dimakmurkan masjid,” ujarnya.


Maknanya, kata Roziqi, DMI bersama-sama takmur masjid akan berupaya keras untuk menjadikan dan membawa jamaah menjadi makmur, baik secara lahir maupun batin.
“Maka dari sisi ekonomi juga makmur, karena kita mencoba menjadikan masjid dengan manajemen yang baik. Misalnya punya koperasi, serta kegiatan-kegiatan pos pemberdayaan yang berbasis masjid,” katanya.

Selain itu, perlu meningkatkan zakat maupun wakaf untuk dijadikan modal bergulir bagi jamaah yang perlu mendapatkan perhatian. Begitu pula dari sisi lain, misalnya menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan.

“Mulai dari RA, TK sampai Aliyah dan seterusnya. Dari masjid inilah akan berkembang pendidikan sampai ke  perguraun tinggi kalau bisa, sehingga dari masjid akan tumbuh generasi yang islami dan kuat,” katanya. (brj)

Kemarau Panjang di Zaman Sayyidina Umar, Begini Doa   Istisqa Sayyidina Abbas

On Wednesday, October 02, 2019

(ilustrasi)

SIDOARJO (DutaJatim.com) - Musim kemarau selalu berulang. Selalu berulang pula tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di mana-mana. Bahkan, kabut asapnya sampai membuat orang meninggal dunia. Juga banyak yang terkena sakit ISPA.

Allah SWT sudah memberi contoh masalah musim paceklik seperti ini. Musim kemarau. Saat air menipis. Bahkan habis. Indonesia masih beruntung diberi karunia air yang melimpah. Lalu, nikmat apa lagi yang hendak kau dustakan?

Kisah Nabi Yusuf AS juga warning soal musim kemarau. Tapi kita tidak peka terhadap warning dari Allah SWT. Juga ada kisah yang lain di zaman Khalifaurrasyidin.

Mengutip dari islam.nu.or,id, kemarau panjang pernah terjadi pada tahun 18 H sehingga tanah berdebu karena kekeringan. Kemarau panjang terus mendera. Hingga lewat sembilan bulan, masyarakat tidak tahan. Mereka melaporkan bencana kekeringan ini kepada Sayyidina Umar bin Khattab.

Amirul Mukminin Sayyidina Umar lalu mendatangi Sayyidina Abbas RA untuk berdoa kepada Allah SWT. Benar saja, tidak berapa lama, Allah menurunkan air hujan kepada mereka.

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Ibanatul Ahkam mengutip doa istisqa yang dibaca oleh Sayyidina Abbas RA sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنَّهُ لَمْ يُنْزَلْ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَمْ يُرْفَعْ إِلَّا بِتَوْبَةٍ وَهَذِهِ أَيْدِيْنَا إِلَيْكَ بِالذُّنُوْبِ وَنَوَاصِيْنَا إِلَيْكَ بِالتَّوْبَةِ فَاسْقِنَا الغَيْثَ

Allāhumma innahū lam yunzal balā’un illā bi dzanbin, wa lam yurfa‘ illā bi taubatin. Wa hādzihī aydīnā ilaika bid dzunūb. Wa nawāshīnā ilaika bit taubah. Fasqinal gaytsa.

Artinya, “Ya Allah, sungguh bala tidak diturunkan kecuali karena dosa dan ia tidak diangkat kecuali karena tobat. Ini tangan kami berlumur dosa menyerah kepada-Mu dan ini kepala kami bertobat menghadap-Mu. Oleh karena itu, turunkan hujan untuk kami,” (Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 128).

Adapun berikut ini adalah doa istisqa Sayyidina Abbas RA pada riwayat lain:

اَللَّهُمَّ إِنَّهُ لَمْ يُنْزَلْ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَمْ يُكْشَفْ إِلَّا بِتَوْبَةٍ، وَقَدْ تَوَجَّهَ القَوْمُ بِيْ إِلَيْكَ لِمَكَانِيْ مِنْ نَبِيِّكَ، وَهَذِهِ أَيْدِيْنَا إِلَيْكَ بِالذُّنُوْبِ وَنَوَاصِيْنَا إِلَيْكَ بِالتَّوْبَةِ فَاسْقِنَا الغَيْثَ 

Allāhumma innahū lam yunzal balā’un illā bi dzanbin, wa lam yuksyaf illā bi taubatin. Wa qad tawajjahal qawmu bī ilaika li makānī min nabiyyika. Wa hādzihī aydīnā ilaika bid dzunūb. Wa nawāshīnā ilaika bit taubah. Fasqinal gaytsa.

Artinya, “Ya Allah, sungguh bala tidak diturunkan kecuali karena dosa dan ia tidak diangkat kecuali karena tobat. Umat ini tengah menghadap kepada-Mu melaluiku karena kedudukanku di sisi nabi-Mu (Nabi Muhammad SAW). Ini tangan kami berlumur dosa menyerah kepada-Mu dan ini kepala kami bertobat menghadap-Mu. Oleh karena itu, turunkan hujan untuk kami.”

Sebagaimana diketahui, Sayyidina Umar bin Khattab bertawasul melalui Sayyidina Abbas RA untuk mengatasi bencana kekeringan dan kemarau panjang yang membuat pasokan air berkurang sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.

وَعَنْ أَنَسٍ; - أَنَّ عُمَرَ - رضي الله عنه - كَانَ إِذَا قَحِطُوا يَسْتَسْقِي بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ. وَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَسْقِي إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، فَيُسْقَوْنَ - رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Artinya, “Dari Sahabat Anas RA, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab RA ketika masyarakat mengalami kekeringan berkepanjangan bertawasul dalam istisqa melalui sahabat Sayyidina Abbas bin Abdul Muththallib RA. Sayyidina Umar RA dalam doa istisqanya mengatakan, ‘Allāhumma innā kunnā nastaqī ilaika bi nabiyyinā, fa tasqīnā. Wa innā natawassalu ilaika bi ‘ammi nabiyyinā, fasqinā,’ lalu hujan pun turun kepada mereka,” (HR Bukhari).

Hadits ini menjadi dalil atas (anjuran) permohonan syafaat terhadap orang baik, orang saleh, dan ahlul bait; keutamaan dan kemuliaan derajat Sayyidina Abbas di sisi Allah melalui ijabah doa, dan keutamaan Sayyidina Umar RA atas ketawadhuannya terhadap Sayyidina Abbas RA, (Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 129). Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan/nu.or.id)

Berpikir Positif Saja!

On Wednesday, September 25, 2019



Oleh
Imam Shamsi Ali* 

NEW YORK (DutaJatim.com) - Ada sesuatu yang “kurang pas” bahkan keliru dalam upaya memperbaiki lingkungan sosial sekitar kita. Upaya Yang saya maksud adalah keinginan, bahkan yang tulus sekalipun, untuk memperbaiki manusia di sekitar kita. 

Dan ini terjadi kerap tanpa disadari. Biasanya karena keinginan keras (azam) sebagian untuk segera terwujudnya suasana sempurna, sesuai idealisme yang diyakini. 

Di sinilah pentingnya menyadari bahwa upaya memperbaiki apa yang kita anggap tidak baik, ada beberapa hal yang harusnya dihadirkan di benak kita. 

Pertama, dalam hidup ini segala sesuatu memiliki prosesnya masing-masing. Tidak ada yang secara tiba-tiba sempurna dan ideal seperti yang diharapkan. 

Ketika Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk sempurna dalam beragama, Allah telah memanggil mereka dengan panggilan agung: “Aamaanuu” (mereka yang telah beriman). Bukan karena ketidak sempurnaan itu lalu dinafikan keimanan mereka. 

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, Masuklah ke dalam agama Islam secara sempurna”. Pastinya yang diperintah masuk belum masuk secara sempurna. Tapi Allah telah memanggil mereka dengan “aamanuu”. 

Berbeda dengan sebagian orang yang justru mencari di mana ada kekurangan untuk dijadikan alasan untuk menafikan atau minimal mengecilkan iman orang lain. 

Beberapa kali saya kembali ke Indonesia dan mendengar kritikan keras kepada saudari-saudari kita mulai berjilbab (menutup kepala) tapi masih memakai pakaian yang kurang layaknya sebagai pemakai jilbab. Baju yang agak ketat misalnya. 

Saya paham keinginsempurnaan itu. Tapi saya sayangkan jika saudari-saudari kita itu menjadi target kritikan, bahkan kerap dengan cara yang kasar, hanya karena belum sempurna (ideal) dalam melakukan ajaran agamanya. 

Bukankah semua berproses? Dan tidakkah lebih bijak jika sebaliknya, justru diapresiasi apa yang telah dia capai (lakukan), walau tidak sempurna? 

Kedua, dalam Al-Quran ada dua metode menyadarkan orang. Yaitu “tabsyiir” (memberikan kabar gembira) dan “tandziir” (memberikan ancaman). Kedua metode ini imbang tapi tidak sejajar. Imbang dalam arti saling melengkapi. Tapi tidak sejajar dalam artian bahwa menyampaikan “tabsyiir” jauh berulang kali disebut ketimbang “tandziir”. 

Semua itu merupakan bagian dari realisasi  “Rahmah” dalam Islam. Rahmah Allah, Rahmah Rasul dan Rahmah Islam itu sendiri sebagai ajaran. “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus kamu kecuali sebagai rahmah” tidak berarti “membawa rahmah. Tapi pada diri pembawa (Rasul) itu sendiri adalah rahmah, dengan karakternya yang Rahmah. 

Kerenanya menekankan kenegatifan dalam menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran adalah “self contradictory”, bahkan bersifat paradoks pada dirinya.

Ketiga, dalam upaya memperbaiki ada masa-masa untuk kita meletakkan diri kita pada posisi mereka. Kita harus menyelami mentalitas dan lingkungan di mana mereka terkurung. 

Saya seringkali dikritik oleh teman-teman karena saya hadir dan menikahkan pemuda-pemudi Muslim-Muslimah di tengah-tengah pergaulan yang jauh dari idealisme lingkungan Islami. Pakaian wanita yang kurang sopan, ada musik dan dance, dan lain-lain. 

Banyak yang tidak paham bahwa dengan menghadirkan saya dan menikahkan mereka secara Islam sudah sebuah hasil yang luar biasa. Mentalitas dan lingkungan mereka mengatakan: apa bedanya dengan kehadiran seorang Imam dengan caranya dan menikah di kantor catatan sipil dengan seorang Hakim? 

Artinya dalam pandangan sebagian generasi muda itu, mungkin tidak diucapkan, mengatakan bahwa nikah secara agama atau sekedar nikah secara sipil sama saja. Toh yang menentukan kemudian adalah bagaimana kedua mampelai mampu membangun rumah tangga yang baik. 

Maka memahami cara pandang dan kecenderungan mentalitàs serta keadaan lingkungan yang mengungkung mereka menjadikan kita harusnya justru mengapresiasi kenyataan bahwa mereka sudah menerima urgensi ajaran agama dan menghormati hukum Islam dalam pernikahan. 

Bukan pakaiannya, bukan musiknya atau bagaimana mereka manata ruangan pernikahan yang menjadi fokus dalam penilaian. 

Keempat, yang paling berbahaya adalah ketika melihat orang lain kurang dari diri kita. Merasa kita lebih Islami, bahkan sempurna dalam berislam. Sementara orang lain yang akan selalu nampak adalah kekurangan dan kesalahannya.

Saya pernah mengirim foto sebuah acara Islam di kota New York. Dalam foto itu ada beberapa hadirin dari kalangan wanita yang tidak berjilbab. Justru yang saya terima adalah “kok acara Islam tapi pakaiannya tidak Islami”. 

Mentalitas seperti ini berbahaya. Karena “tend to jump for judgment” (cenderung melompat menghakimi) tanpa pertimbangan positif. Bahwa siapapun wanita itu, Muslim atau tidak, walau belum memakai pakaian sopan, harusnya dihargai karena telah hadir dalam acara Islam itu. 

Contoh lain adalah ketika saya mengirimlan sebuah video perkawinan antara pasangan Bangladesh dan muallaf blasteran China dan Iran. Karena sang suami adalah mantan non Muslim maka yang banyak hadir dalam pernikahan itu mayoritasnya adalah teman-teman non Muslimnya. 

Sebagian mereka yang menerima video itu justru pertama kali menilai pakaian. Kenapa banyak yang berpakaian terbuka? Kenapa mampelai wanita tidak pakai jilbab? Bahkan apakah kedua mampelai ini Muslim? 

Sebuah pertanyaan yang tidak logis. Karena bagaimana mungkin saya akan menikahkan pasangan yang tidak muslim secara Islam? Tapi di situlah sebuah realita akan mentalitas manusia yang serba mendahulukan mata negatif dalam menilai orang lain. 

Sejujurnya saya agak gerah dengan sikap muslim seperti itu. Karena sikap seperti itu tidak saja menjadi bumerang dalam kerja-kerja dakwah yang kita lakukan. Justru menjadi pemicu keretakan relasi di antara sesama. 

Akhirnya saya ingin kembali mengingatkan bagian dari sebuah catatan yang pernah saya baca di sebuah media sosial. Semoga dengan ini kita bisa mengubah sikap dan cara pandang kita kepada orang. 

Karakter positif itu adalah.....: 

▫Membina, bukan menghina.

▫Mendidik, bukan 'membidik'

▫Mengobati, bukan melukai.

▫Mengukuhkan bukan meruntuhkan.

▫Menguatkan, bukan melemahkan.

▫Mengajak, bukan mengejek.

▫Menyejukkan, bukan memojokkan.

▫Mengajar, bukan menghajar.

▫Menasehati, bukan mencaci. 

▫Merangkul, bukan memukul.

▫Solusi, bukan intimidasi.

▫Khidmat, bukan mengumpat.

Dan positif itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan. Menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari-cari aib dan membeberkannya.

Pandangan positif itu menerima perbedaan, bukan memonopoli kebenaran. Dan juga hidup positif itu adalah berpikir manis, bukan memvonis.

Benarlah kata seorang ulama besar Islam: nahnu du’aatun lasnaa qudhootun. Kita adalah para dai/pengajak. Kami bukan qadhi (yang menghakimi). (*)

New York, 24 September 2019 

* Presiden Nusantara Foundation 

Friends, do not forget to have & read our book: Menapak Jalan Dakwah di Bumi Barat. You can get it from Gramedia stores throughout the country. Get yours! 

Rektor UMM Ajak Sinergi Masjid Cheng Hoo Surabaya

On Friday, September 20, 2019


SURABAYA (DutaJatim.com) - Rombongan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (20/9/2019) siang, mengadakan silaturrahim ke Masjid Cheng Hoo Surabaya. Para tamu tersebut disambut langsung oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI), HMY Bambang Sujanto didampingi Ketua Umum  YHMCHI H. Abdul Nurawi dan Ketua PITI Jatim, H. Haryanto beserta pengurus lainnya.

Rektor UMM,  Dr Fauzan, M.Pd mengatakan bahwa kedatangannya semata-semata untuk mempererat  tali silaturrahim dengan segenap jajaran YHMCHI dan PITI. 

“Saya berharap pada saatnya pengurus YHMCHI dan PITI dapat berkunjung ke UMM. Kami juga mempunyai masjid Cheng Hoo dan sangat mungkin dapat melakukan sinergi dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya,” kata Dr Fauzan.

Bambang Sujanto menyambut  hangat para tamu tersebut dan mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Semoga kunjungan dapat bermanfaat bagi keduanya.

“Kunjungan ini cukup punya arti. Apalagi dipimpin langsung oleh rektornya. Kami (YHMCHI dan PITI) sangat butuh bimibingan atau belajar  terutama dalam hal keummatan dan social,” katanya.

YHMCHI-PITI Jatim memang banyak berkecimpung di bidang dakwah dan kemasyarakatan. Karena itu, kata Bambang, pengurus YHMCHI dan PITI harus netral.

“Pengurus harus bertaqwa kepada Allah. YHMCHI dan PITI menjadi  jembatan dengan masyaratat umum, pengurus dilarang berpolitik (harus netral). Kalau ada pengurus yang tersangkut pidana harus keluar dari kepengurusan,” kata Bambang. (gas)