PROMOSI PRODUK

Istighatsah Majelis Taklim Fastabiqul Khairat di Sinyiur

On Monday, January 20, 2020



  
PASURUAN (DutaJatim.com) - Sebanyak 500 jamaah menghadiri istighatsah dan pengajian rutin yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Fastabiqul Khairat dan Majelis Maulid Wat Taklim Rooudhatussalaf Indonesia. Acara istighatsah dipimpin langsung oleh Al Habib Umar bin Abdullah Assegaf selaku pengasuh Majelis Maulid Wat Taklim Rooudhatussalaf Indonesia, yang diadakan di Ballroom Hotel Senyiur, Prigen, Pasuruan, Minggu (19/01/2020). 

Setelah istighatsah, acara dilanjutkan dengan pengajian umum. Sebagai pengisi pengajian adalah Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Jawa Timur, DR. KH Ahmad Muzakki.

Dalam ceramahnya yang bertema ‘Istiqamah yang membawa Mahabbah’, Kiai Ahmad Muzakki menjelaskan tentang keistimewaan istiqamah dalam beribadah. Menurutnya, seorang hamba baru bisa merasakan kenikmatan beribadah jika ia telah istiqamah.

“Karena itu, mari kita belajar untuk istiqamah dalam beribadah. Jika belum istiqamah, maka jangan mimpi bakalan bisa merasakan nikmatnya beribadah,” katanya.

Kiai Ahmad Muzakki melanjutkan, bagaimana cara meraih istiqamah dalam beribadah, sehingga nantinya bisa mencapai tingkatan mahabbah atau cinta, semuanya hanya bisa dilakukan jika mau belajar. Salah satunya melalui sarana pengajian atau majelis taklim.

“Nah, bagaimana meraih cinta inilah yang kita kejar dalam Majelis Taklim Fastabiqul Khairat ini,” katanya.

Sekedar diketahui, acara istighatsah dan pengajian rutin ini merupakan edisi yang perdana setelah peresmian  Majelis Taklim Fastabiqul Khairat akhir 2019 lalu. Pembina Majelis, Jos Soetomo, mengatakan, dia menyediakan tempat dan menggagas berdirinya Majelis Taklim Fastabiqul Khairat, karena terpanggil untuk memenuhi salah satu pesan Nabi Muhammad SAW.

“Beliau pernah bersabda tentang tiga doa yang Beliau panjatkan kepada Allah. Dari tiga hal itu, hanya dua yang dikabulkan, yaitu umatnya diselamatkan dari pacelik berkepanjangan, serta diselamatkan dari bencana alam. Satu permohonan yang ditolak oleh Allah, yaitu ketika Beliau memohon agar umatnya diselamatkan dari bahaya dari pertikaian di antara sesama mereka,” katanya. 

Dijelaskan Jos Soetomo, makna dari doa yang ketiga menurutnya adalah bahwa persatuan dan kesatuan umat Islam itu harus diusahakan dan diperjuangkan terus-menerus. Melalui sarana Majelis Taklim yang dirintisnya, dia berharap dapat menjadi ladang amal untuk menyebar kebaikan dan berlomba-lomba membentuk umat yang memiliki mentalitas rahmatal lil alamin.

 “Karena apa? Ajaran Islam itu sesungguhnya memberikan kesejukan bagi semesta alam, menciptakan harmoni, kerukunan dan saling berbuat sebanyak kebaikan untuk dunia. Kalaupun ada pihak yang merusak kebaikan, itu bukan islamnya yang salah. Tetapi oknum yang sesat dalam menjalankan atau memahami keagamaannya,” katanya. (tam)



SDM Unggul Menuju Masyarakat Madani dalam Perspektif Al-Quran (Bagian 3)

On Sunday, January 19, 2020


Oleh Imam Shamsi Ali* 

PADA bagian yang lalu disebutkan bahwa ummatan wasathan itu memiliki tujuh karakterirsitk dasar. Empat di antaranya telah disebutkan. Yaitu  bahwa ummatan wasathan itu berkeadilan, berkeseimbangan, toleran, dan mengedepankan musyawarah dalam urusan bersama. 

Kali ini saya akan sampaikan dua lainnya. Sementara yang satu lagi akan saya sampaikan secara terpisah. Karena yang terakhir ini akan sangat krusial dan relevan dengan kehidupan Umat dan bangsa Indonesia saat ini. 

Kelima, bahwa ummatan wasathan atau masyarakat madani dalam perspektif Al-Quran itu berwawasan “al-ishlaah” (perbaikan). 

Jika pada  tataran individu Al-Quran memproses terbentuknya manusia yang saleh atau baik maka pada tingkatan masyarakat diharapkan dari manusia-manusia itu tidak saja baik, tapi juga membawa perbaikan kepada alam sekitarnya. 

Orang yang baik pada dirinya disebut “shaleh” (orang baik). Tapi ketika orang baik tersebut mentransfer kebaikan itu pada orang lain, atau kebaikannya Itu membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam masyarakat maka orang tersebut disebut “mushlih” (pembawa kebaikan”. 

Ketika ummatan wasathan terbentuk dan hadir dalam kehidupan manusia maka manusia akan merasakan “perbaikan-perbaikan” itu. 

Di bidang ekonomi misalnya masyarakat madani (ummatan wasathan) akan membawa sistem perekonomian dari sistem yang kerap mencekik dan manipulaif ke sistem yang bermoral dan berkeadilan. Karena sesungguhnya sistem ekonomi Islam (syariah) senantiasa menjaga nilai-nilai moralitas dan keadilan. 

Di bidang politik ketika masyarakat madani (ummatan wasathan) terbentuk maka akan terwujud politik yang bermoral, santun dan berorientasi kemaslahatan publik. Dari politik yang kerap manipulatif dan mementingkan kepentingan pribadi dan golongan ke sistem politik yang terbangun di atas nilai-nilai moralitas dan orientasinya untuk kebaikan umum. 

Demikianlah seterusnya. Ketika ummatan wasathan hadir maka akan terjadi perbaikan-perbaikan dalam segala lini kehidupan masyarakat. Tentu perbaikan yang terutama akan terjadi dalam bidang akhlak dan moralitas. Anggota masyarakatnya akan saling sayang, saling tenggang rasa, dan menghindari segala kekejian dan kemungkaran. 

Intinya masyarakat madani akan menghadirkan setiap saat perbaikan-perbaikan dalam setiap aspek kehidupan kolektif manusia. Di bidang ekonomi, politik, budaya, sosial dan seterusnya. Akan hadir perubahan-perubahan itu ke arah yang lebih baik. Yang dengannya masyarakat akan hidup secara tenang, tenteram dan bahagia secara kolektif. 

Keenam, bahwa masyarakat madani atau ummatan wasathan itu berwawasan ketauladanan (al-Qudwah). 

Oleh karena ummatan wasathan itu memang selalu baik dan membawa perbaikan maka dengan sendirinya masyarakat itu akan terbentuk menjadi Ummah atau masyarakat yang baik, bahkan terbaik (khaer ummah). 

“Kamu telah dihadirkan sebagai Umat terbaik. Kamu menyeru kepada kebaikan, melarang dari kemungkaran, dan beriman kepada Allah” (Al-Imran). 

Karena ummatan wasathan atau masyarakat madani itulah yang terbaik (best) maka dengan sendirinya akan menjadi panutan bagi masyarakat lainnya. Masyarakat madani akan menjadi rujukan dan juga sumber kebaikan untuk masyarakat lainnya. 

Al-Quqwah sejatinya tidak sekedar berarti contoh tauladan. Tapi lebih dari itu ketauladanan (al-qudwah) ini juga mengindikasikan makna kepemimpinan. 

Bahwa ummatan wasathan yang dibangun oleh Al-Quran itu memiliki orientasi ke posisi kepemimpinan. Artinya masyarakat madani (Islami/Qurani) sebagai masyarakat “terbaik” (Khaer) selain akan menjadi tauladan dalam kehidupan masyarakat, juga harus mengambil alih tanggung jawab “imamah” (kepemimpinan) dalam kehidupan manusia. 

Dan itulah sesungguhnya makna “litakuunu syuhadaa alan naas” (agar kamu menjadi saksi-saksi atas manusia). Mempersaksikan ketauladanan dan menyaksikan (menjaga) agar manusia selalu berada dalam batas-batas moral dan kebaikan. 

Tragisnya memang umat saat ini gagal menghadirkan ketauladanan itu. Apalagi untuk mengambil posisinya sebagai “imaam al-umam” (pemimpin bagi Umat-Umat) lainnya. 

Sebaliknya yang terjadi adalah Umat sedang terjangkiti penyakit “inferiority complex” (minder). Umat merasa lemah dan tidak mampu. Akibatnya mereka yang terwarnai dan terjerat oleh hawa nafsu buas umat-umat yang lain. Umat bagaikan semut-semut yang berhamburan di selah-selah para gajah dan harimau yang sedang berlaga. 

Memang menyedihkan. Tapi itulah realita! (Bersambung)

Pulau Bungo Jambi, 19 Januari 2020

* Imam Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation/Pesantren Nur Inka Nusantara Madani.

Ngaku Bisa Panggil Nabi dan Malaikat, Ningsih Tinampi Sesat dan Harus Dibina!

On Saturday, January 18, 2020


SURABAYA (DutaJatim.com) - Masyarakat diminta cerdas dalam melihat sebuah peristiwa. Termasuk peristiwa yang dibikin oleh Ningsih Tinampi.


Seorang perempuan dukun yang membuat berbagai kontroversi. Mulai mengaku bisa mengobati segala macam penyakit, mengalahkan pasukan dukun yang jumlahnya banyak,  hingga ngaku-ngaku  bisa memanggil malaikat dan nabi. Ini aneh. Yang lebih aneh lagi adalah orang-orang percaya kepadanya.

Omongannya yang semakin nglantur itu sejatinya tanda bagi masyarakat agar tidak lagi percaya kepada Ningsih Tinampi. Tidak percaya pada semua klaimnnya. Sebuah tanda yang ditunjukkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa.


Karena itu mestinya tokoh agama Islam dan aparat keamanan mestinya segera bertindak, mendatanginya untuk memeriksa apakah semua klaimnya itu benar atau  abal-abal. Apakah dia menipu masyarakat? Baik dengan tujuan agar channel youtubenya dibanjiri pemirsa atau agar pasiennya semakin banyak. 

Pengakuan Ningsih yang menyebut dirinya bisa memanggil nabi dan malaikat itu terekam dalam video yang diunggah di channel Youtube Ningsih Tinampi. Video itu berjudul 'Ningsih Tinampi, Penunjukan Ilmu Milik Ningsih'.

Dalam video itu, Ningsih tampak tengah mengobati pasien yang disebutnya punya indra keenam. Melalui pasien perempuan itu, Ningsih seakan ingin menegaskan ke pemirsa channel-nya bahwa ilmu pengobatan dan kesaktian yang dimilikinya bukan berasal dari jin.


Ningsih lalu mengatakan pada pasien perempuan itu, bahwa dia akan menunjukkan makhluk-makhluk yang selama ini bersamanya. Untuk meyakinkan tak ada rekayasa, Ningsih menegaskan bahwa dia sebelumnya tak mengenal si pasien. 

Setelah itu Ningsih membaca doa. Sesaat kemudian Ningsih bertanya pada pasien. Pasien kemudian menangis sesenggukan. 

"Kenapa nangis? Kamu nggak kuat melihatnya. Padahal ini para malaikat yang aku undang. Sekarang yang saya undang adalah para nabi," kata Ningsih seperti dalam video yang dilihat paa Jumat (17/1/2020).

Setelah berdoa, pasien kembali menangis. Tangisannya semakin panjang. "Ini yang datang adalah para nabi. Saya tidak bohong. Demi Allah," katanya.

Sudah Sesat

Video berdurasi 47.51 menit ini juga menyedot perhatian banyak pemirsa. Video ini sudah ditonton ribuan kali dan menuai beragam komentar. Umumnya banyak yang mengecam Ningsih.

Dalam video itu justru terlihat bahwa Ningsih sendiri yang dikuasai jin. Sifat-sifat jin salah satunya suka menyelinap dalam diri manusia, menguasainya, lalu memengaruhi manusia lain. Jin juga mengajarkan agar manusia menyombongkan diri. Klaim bisa memanggil malaikat dan nabi salah satu pamer kesombongan itu.

Karena itu wajar MUI Kabupaten Pasuruan menilai Ningsih  sesat.

"Niku lek'e pancene ngaku ketok barang gaib, ketok malaikat, iku sesat. (Itu kalau benar mengaku melihat hal gaib, melihat malaikat, itu sesat)," kata Ketua MUI Kabupaten Pasuruan KH Nurul Huda Jumat (17/1/2020) seperti dikutip dari detik.com.

Gus Huda, sapaan KH Nurul Huda, kemudian menyitir ayat dalam Al-Quran dan hadis. "Dalam Surat Annaml Ayat 65 dikatakan, tidak akan ada yang tahu seluruh penduduk langit dan bumi tentang perkara gaib kecuali Allah yang Maha Mengetahui," paparnya.

"Kemudian ada hadis nabi, barang siapa datang kepada orang yang sok tahu lalu bertanya tentang sesuatu, lalu ia percaya dengan dia, maka solatnya 40 hari tidak diterima," tambah Gus Huda, mengutip Hadis Riwayat Muslim.

Gus Huda berharap segera ada pembinaan pada Ningsih agar tak kebablasan. "Jadi kalau bisa ya dibina saja. Jangan sampai begitu. Mengobati ya mengobati, mengobati dengan cara agama," katanya. (nas/det)


Foto: Islampos

Sayidina Ali dan 8 Nasihatnya yang Dahsyat

On Saturday, January 18, 2020



SURABAYA (DutaJatim.com) - Sahabat Nabi SAW,  Sayidina Ali bin Abi Thalib, dikenal karena kepandaiannya. Kebijaksanaannya. Cendekia. 

Beliau Khalifah keempat dari Khulafaurrasyidin, setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.  Sayidina Ali adalah khalifah pertama dari kalangan Bani Hasyim. Ayahnya adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf, dan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf.

Sayidina Ali dilahirkan di dalam Kakbah dan mempunyai nama kecil Haidarah. Untuk meringankan beban Abu Thalib yang mempunyai anak banyak, Rasulullah SAW kemudian merawat Ali.

Selanjutnya Sayidina Ali tinggal bersama Rasulullah SAW di rumahnya dan mendapatkan pengajaran langsung dari Beliau. Ia baru menginjak usia sepuluh tahun ketika Rasulullah menerima wahyu yang pertama.

Sejak kecil Sayidina Ali telah menunjukkan pemikirannya yang kritis dan brilian. Kesederhanaan, kerendah-hatian, ketenangan dan kecerdasannya yang bersumber dari Al-Qur'an dan wawasan yang luas, membuatnya menempati posisi istimewa di antara para sahabat Rasulullah SAW lainnya. 

Dan kedekatan Ali dengan keluarga Rasulullah SAW kian erat, ketika Beliau menikahi Fatimah, putri Rasulullah yang paling bungsu.

Dari segi agama, Sayidina Ali bin Abi Thalib adalah seorang ahli agama yang faqih di samping ahli sastra yang terkenal. Beliau sangat terkenal, antara lain lewat bukunya "Nahjul Balaghah".

Dalam bukunya tersebut banyak nasihat yang mencerahkan kehidupan kita. Nasihat hidup dan kehidupan. Nasihat yang sangat perlu kita terapkan dalam hidup sehari-hari kita dalam beribadah dan bermasyarakat.

Berikut nasihat Sayidina Ali Bin Abi Thalib kepada kita semua :

1. Tidak ada kebaikan di dalam Sholat yang tanpa disertai dengan perasaan khusu' di dalamnya.

2. Tidak ada kebaikan di dalam Puasa yang tidak bisa mencegah dari perbuatan sia-sia.

3. Tidak ada kebaikan di di dalam baca'an Al-Qur'an yang tidak dibarengi dengan perenungan maknanya.

4. Tidak ada kebaikan di dalam ilmu yang tidak ada sifat kewara'an ( kehati-hatian dari yang haram dan subhat ).

5. Tidak ada kebaikan di dalam harta yang tidak ada kedermawanan.

6. Tidak ada kebaikan di dalam persaudaraan dan persahabatan yang tidak ada penjagaan ( saling menjaga ).

7. Tidak ada kebaikan di dalam suatu kenikmatan yang tidak ada kesyukuran.

8. Tidak ada kebaikan di dalam do'a yang tidak dibarengi dengan keikhlasan.


(Dikutip dari kumpulan kata-kata mutiara para Ulama dan Habaib)

Ilustrasi:  Pixabay

Perlu Rekontekstualisasi Agama-Agama Ibrahimiyah di Abad 21: Paparan Gus Yahya Disambut Antusias Peserta AFI

On Friday, January 17, 2020



VATIKAN (DutaJatim.com) - Perlu Rekontekstualisasi Agama - Agama Ibrahimiyah di Abad 21: Paparan Gus Yahya Disambut Antusias Peserta AFI.

Dalam Forum Inisiatif Agama-agama Ibrahimiyah (Abrahamic Faiths Initiative - AFI) di Vatikan, tanggal 14-16 Januari, KH Yahya Staquf mengajak para pemimpin agama untuk melakukan refleksi sejujur-jujurnya tentang posisi teologis agama masing-masing dalam upaya perdamaian.

“Harus diakui, ada norma-norma ortodoksi yang memang masih mendorong segregasi, diskriminasi dan konflik”, kata Gus Yahya. 

Norma-norma itu, kata dia,  harus dihadapkan dengan konteks realitas globalisasi Abad ke 21 ini, yaitu bahwa konflik antar agama tidak mungkin lagi dilokalisir sehingga akan memicu benturan universal yang kaotik dan sudah pasti pada ujungnya akan meruntuhkan seluruh peradaban dunia.

Gus Yahya kemudian memaparkan upaya-upaya rekontekstualisasi fiqih yang telah dilakukan di lingkungan NU sejak 1984, yaitu ketika Rais Am KH Achmad Shiddiq meletakkan kerangka teologis bagi “Ukhuwwah Basyariyyah”.

“Pada bulan Februari 2019 yang lalu, Musyawarah Nasional Alim-ulama NU menetapkan bahwa kategori kafir tidak lagi relevan untuk di ruang publik dalam konteks negara-bangsa modern. Dimensi sosial-politik dari terma kafir sebenarnya terkait konteks keberadaan satu teokrasi tunggal yang universal, yang sekarang sudah tidak ada lagi," katanya.

Monsignor Khaled Akasheh, seorang uskup Katholik asal Yordania menyatakan amat terharu mendengar semua paparan itu.

“Ini adalah perwujudan mimpi saya selama 25 tahun”, katanya.

Selanjutnya ia menegaskan bahwa bukan hanya Islam yang perlu melakukan rekontekstualisasi semacam itu, semua agama-agama dari keluarga Ibrahimiyah harus melakukannya. Ia pun menjelaskan bahwa Gereja Katholik telah memulai upaya tersebut sejak didirikannya Dewan Ekumenikal Vatikan Kedua pada masa Paus Johanes XXIII, tahun 1962.

“Agama-agama Ibrahimiyyah harus merenungkan kembali hakikat kehadiran dan perannya dalam konteks realitas Abad ke-21 ini”, tegasnya.

Wakil dari kalangan Yahudi ultra-ortodoks Israel serta-merta menyambut ajakan itu dengan antusias. Rabinat Adina Bar-Shalom, puteri mendiang Rabi Ovadia Yosef yang dulu adalah Rabbi Kepala (Chief Rabbi) Sephardi yang paling berpengaruh di kalangan Yahudi ultra-ortodoks di Israel, mengajak untuk menciptakan momentum bersama, misalnya dengan menggalang pertemuan pemimpin-pemimpin agama Ibrahimiyah untuk mendialogkan topik tersebut. Ia bertekad untuk memobilisasi seluruh komunitas Yahudi ortodoks di Israel untuk ikut serta dan sungguh-sungguh terlibat dalam pergulatan rekontekstualisasi itu.

Dengan emosional ia mengatakan,
“Segala kekerasan dan pembunuhan ini harus dihentikan! Seluruh hamparan tanah di muka bumi ini tak sebanding nilainya dengan satu nyawa manusia!”

Di akhir forum disepakati bahwa dalam 45 hari ke depan akan diumumkan negara mana yang akan menjadi tujuan kiprah AFI, yaitu setelah mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat. (huda sabily)

SDM Unggul Menuju Masyarakat Madani dalam Perspektif Al-Quran (bagian 2)

On Wednesday, January 15, 2020


Oleh Imam Shamsi Ali* 

PADA bagian lalu disampaikan beberapa kriteria manusia atau SDM unggul dalam pandangan Al-Quran. Salah satunya adalah bahwa SDM unggul itu harus berwawasan kesalehan dengan 5 tingkatannya. 

Akan tetapi kesalehan itu seharusnya dibawa ke tingkatan yang lebih tinggi, yang lebih dikenal dengan tingkatan “muslih”. Yaitu kemampuan mentransformasikan kesalehan pribadi  menjadi kesalehan kolektif melalui perubahan kepada alam sekitar. 

Komitmen “islaah” (perbaikan), lebih populer dengan istilah “amar nahi mungkar”,  inilah yang kemudian akan mengantar kepada terbentuknya masyarakat yang Islami. Sebuah bangunan masyarakat yang lebih dikenal dengan “masyarakat madani”. 

Saya tidak bermaksud membahas apa defenisi masyarakat madani itu. Walaupun kata ini sangat dikenal dalam bahasa asing dengan “Civil Society”. Civil dan Madani sesungguhnya tidak semakna. 

Walau demikian, kedua kata masyarakat madani ataupun civil society sama-sama mengandung makna tentang masyarakat yang memiliki karakter peradaban maju. 

Kata “madani” sendiri  bermakna sebuah tatanan yang berkarakter “tamaddun” atau peradaban. Madani yang seakar dengan kata “madinah” menunjukkan sebuah tatanan masyarakat kota yang tentunya lebih maju, berpendidikan, dan lebih beradab. 

Dalam Al-Quran sendiri ada beberapa kata yang dipakai untuk menggambarkan kata masyarakat. Dari sekian kata itu yang paling populer adalah kata “ummah” (ummat). 

Kata Umat memang populer menggambarkan pengikut Muhammad SAW secara kolektif. Semua yang mengimani dan mengikuti ajaran agama ini (Al-Quran dan as-Sunnah), dan mengikrarkan “laa ilaaha illallah-Muhammadun Rasulullah” adalah bagian dari Umat itu. 

Di antara ayat-ayat dalam Al-Quran yang menggambarkan makna itu adalah “Katakanlah sesungguhnya umat kamu ini adalah ummat yang satu”. 

Tapi ayat yang paling populer dan sering dikutip dalam menggambarkan kolektifitas Umat ini adalah Surah 2 ayat 143 Al-Quran. Allah berfirman: 

“Dan demikianlah kami jadikan kamu ‘ummatan wasathan’ agar kalian menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian”. 

Kata “ummatan wasathan” sengaja saya tidak terjemahkan. Sebab selama ini kita sering mendengarkan beberapa terjemahan dari kata ini secara tidak adil dan proporsional. Bahkan dengan terjemahan itu terasa ada penyempitan makna dari kata yang sesungguhnya. 

Sebagian orang menterjemahkan kata “wasathan” dengan moderasi. Kata ini sudah pasti tidak mewakili kedalaman dan keluasan kata  itu. 

Sebagian pula mengekspresikan dalam bahasa Inggris dengan kata “justly balance” (imbang berkeadilan). Terjemahan inipun jauh dari makna sesungguhnya. 

Lalu apa makna “ummatan wasathan”? 

Sejujurnya saya belum bisa menemukan terjemahan yang dapat mewakili kata itu. Olehnya saya hanya memberikan beberapa kriteria dari “ummatan wasathan” ini. Sekaligus barangkali konsep inilah yang secara minimal terwakili dalam terminologi “masyarakat madani” itu. 

Saya ingin menyampaikan 7 karakterisitk dasar dari ummatan wasathan atau masyarakat madani. Ke 7 karakteristik ini tersimpulkan dalam konferensi internasional yang diinisiasi oleh Prof. Din Syamsuddin selaku Special Envoy Presiden RI di Istana Bogor beberapa waktu lalu. 

Pertama, bahwa ummatan wasathan itu berkarakter “i’tidal”. Kata i’tidal berasal dari kata “adl” (keadilan). Tapi kata ini menggambarkan sebuah komitmen, tidak saja adil dalam hidup. Tapi juga memiliki komitmen yang tinggi dalam menegakkan  keadilan dalam segala segmen kehidupan dan kepada semua manusia.  

Keadilan itu universal. Tidak ada keadilan ekslusif. Tidak ada keadilan Islam, keadilan Kristen, Buddha atau Hindu. Adil ya adil. Karenanya keadilan harus ditegakkan walau terkadang bertentangan dengan kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri. 

Rasulullah SAW bahkan mengatakan: “kalau sekiranya Fatimah, putri Muhammad, mencuri niscaya akan kupotong tangannya”. 

Sebuah ketauladanan dalam komitmen penegakan keadilan dalam masyarakat. Bahwa siapapun dan bagaimanapun posisinya dalam masyarakat, semuanya sejajar di hadapan hukum. 

Kedua,  bahwa ummatan wasathan itu berkarakter tawazun (keseimbangan). Keseimbangan dalam segala aspek kehidupan manusia. Imbang antara relasi vertikal dengan Pencipta dan relasi horizontal dengan sesama makhluk. Antara kehidupan pribadi (fardi) dan masyarakat (ijtima’i). Antara fisik dan ruh, dunia dan akhirat, dan seterusnya. 

Karakteristik ini menjadi krusial kemudian ketika manusia semakin pincang dalam hidupnya. Perhatikan dunia barat dengan kemajuan material yang dahsyat. Namun mereka menjerit karena kekosongan batin dan spiritualitas. 

Maka masyakarat madani atau ummatan wasathan memang ditunggu untuk menjadi masyarakat alternatif bagi dunia yang semakin usang ini. 

Ketiga, bahwa ummatan wasathan itu berkarakter as-samhah (toleransi) yang tinggi. Sebuah karakter keagamaan yang sangat mendasar. 

Toleransi itu adalah karakter agama dan masyarakatnya sekaligus. Al-Quran dan sirah Rasul penuh dengan acuan dan panduan dalam hal toleransi ini. Praktek toleransi Rasul terwariskan secara baik oleh para sahabat dan generasi selanjutnya. Itulah yang menjadikan gereja-gereja bahkan dari zaman Romawi masih bertahan di beberapa negara Timur Tengah (Suriah, Mesir, dll). 

Hanya saja toleransi harusnya dipahami secara benar dan proporsional. Toleransi bukan saling mengintervensi agama. Bukan juga barteran keyakinan. Tapi membangun komitmen keyakinan masing-masing sambil menjaga sensitivit├ás serta menghormati keyakinan dan praktek agama orang lain. 

Toleransi dalam tatanan ummatan wasathan menjadi ciri khasnya. Maka dengan sendirinya sejatinya Umat ini tidak parlu lagi diragukan dalam tolerasi dan komitmen kerukunannya. 

Keempat, bahwa ummatan wasathan itu berkarakter shura atau mengedepankan nilai-nilai musyawarah. 

Musyawarah menjadi tabiat dasar Umat yang diilustrasikan dalam Al-Quran: “Dan dalam urusan mereka musyawarahkan”. 

Bahkan sesungguhnya Rasul diperintah oleh Allah: “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-urusan (keumatan)”. 

Dalam kepemimpinannya Rasulullah SAW mengedepankan musyawarah dengan para sahabatnya ketika hal tersebut bersentuhan dengan urusan publik (public affairs). 

Salah satunya misalnya ketika akan mempertahankan kota Madinah dari serangan luar. Mayoritas sahabat menghendaki agar dilakukan pertahanan dalam kota. Maka terjadilah sebuah perang yang dikenal dengan perang Khandaq.

Demikianlah ummatan wasathan (civil society) atau masyarakat madani akan selalu mengedepankan perilaku musyawarah dalam urusan bersama. Termasuk para pemimpinnya akan selalu mengedepankan musyawarah. Bukan kepemimpinan diktatator seperti yang kita saksikan di beberapa negara Islam, justeru yang mengaku lebih Islami.  (*)

(Bersambung)

Jakarta, 14 Januari 2020 

* Imam Shamsi Ali adalah Presiden  Nusantara Foundation/Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA

Imam Shamsi Ali: Habis Keliling Indonesia, Akan Safari Dakwah di Eropa

On Tuesday, January 14, 2020



SURABAYA (DutaJatim.com) - Imam Shamsi Ali terus melakukan dakwah menebar Islam rahmatan lil alamin. Dakwah keliling dunia sudah biasa dilakukan Imam Shamsi Ali. Namun pada Januari 2020 ini, pendiri pondok pesantren pertama di Amerika Serikat itu, Pesantren Nur Inka Nusantara Madani di Kota New York, sudah melakukan safari dakwah keliling Indonesia, seperti di daerahnya sendiri Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Jambi, Yogyakarta, Riau, dan Papua. 

Saat di Papua, Imam Shamsi disambut dengan antusias oleh warga muslim di Bumi Cenderawasih. Bahkan disambut dengan acara adat daerah setempat. 

Imam Shamsi mengisi acara tabligh akbar dan doa awal tahun untuk Papua di Masjid Raya Baiturrahman Jayapura Sabtu 11 Januari 2020 dilanjutkan Seminar Dakwah Internasional Urgensi Ukhuwah Islamiyah dalam Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Dakwah di era Globalisasi di IAIN Fattahul Muluk Jayapura serta kajian Islam di Masjid Baitul Makmur Perumnas 1 Wamena.

Keesokan harinya, Minggu 12 Januari 2020, mengisi safari Subuh di Masjid Ababil Lanud Jayapura dan tabligh akbar serta doa awal tahun di Masjid Agung Al Aqso Sentani. 

Selesai keliling Indonesia, Imam Shamsi akan keliling Eropa. "Insya Allah dengan izin Allah SWT, saya akan tour di beberapa negara Eropa February mendatang. Tema yang diusung kali ini adalah: “An Indonesian on Peace Mission to Europe”.   Mohon doanya. Ini usaha kecil kami untuk mengenalkan Islam yang rahmatan lil-alamin, khususnya dalam karakter sosial keindonesiaan kita," kata Imam Shamsi Ali Selasa 14 Januari 2020 pagi. 

Imam Shamsi memohon doa dan dukungannya bagi kesuksesan acara di Eropa tersebut. "Juga pendirian Pondok Pesantren kita di Amerika. Semoga langkah juang ini menjadi salah satu benih dan pilar kebangkitan peradaban Islam di Barat. Salam cinta dari Jakarte, Ibukota negeri tercinta," katanya. 

==========

Friends, next month 9-24 February I will be on a peace mission tour to Europe. The theme we bring at this time is “an Indonesian on Peace Mission to Europe”. 

Our mission is to introduce the true face of Islam which is moderate,  inline with modern advancement and universal values such respect of human rights, women, freedom, human dignity and equality. 

Pray for it’s success. And may Allah help us in our efforts to spread peace and Islam to all corners of the world. 

For those of you in Europe, hope to see you soon!