Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gubernur Khofifah : Ibu Sinta Nuriyah Mengajarkan Persaudaraan Tanpa Batas

Wednesday, December 18, 2019 | 21:08 WIB Last Updated 2019-12-18T14:08:27Z

YOGYAKARTA (DutaJatim.com) - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menghadiri  penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (H.C.) Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid M.Hum selaku ibu negara dari Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid, oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (18/12/2019). 

Gubernur Khofifah yang pernah menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI di era Presiden Abdurrahman Wahid tersebut mengaku bangga atas penganugerahan gelar Doktor HC yang diraih Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. 

Menurutnya, Ibu Sinta Nuriyah merupakan tokoh perempuan guru bangsa yang sangat lengkap  serta sosok yang tak henti mencari ilmu. Beliau  figur perempuan pembelajar yang mengamalkan sekaligus mengajarkan ilmunya.  

"Beliau adalah sosok pembelajar  yang mengamalkan sekaligus mengajarkan ilmunya tanpa kenal lelah," ungkapnya. 

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu menyimpulkan, bahwa sosok ibu Sinta Nuriyah selalu memberikan keteladan tentang kehidupan yang  inklusif.  Inklusifitas yang diajarkan Sinta Nuriyah tidak hanya tentang beragama semata, tetapi inklusifitas dalam persaudaraan, bersosial dan berbudaya. 

Inklusifitas seperti itu diharapkan terus dilakukan. Beliau melakukan acara berbuka dan sahur bersama setiap bulan Ramadhan dengan berkeliling ke berbagai komunitas , bisa di masjid, di gereja, di pesantren, di pinggir rel kereta dan di berbagai tempat lainnya. 

Bentuk-bentuk solidaritas kemanusiaan yang dilakukannya memberikan pelajaran bahwa persaudaraan harus dibangun melalui berbagai lapis tanpa mengenal batas sosial, ekonomi, agama, suku, adat dan ras.  Sosok seperti inilah yang dipandang Gubernur Khofifiah sangat sulit ditemui.

"Penganugerahan gelar Doktor H.C. bagi Ibu Sinta dari  UIN Sunan Kalijaga ini menjadi referensi bagi para ilmuwan untuk bisa mengikuti referensi kehidupan keilmuan, pemikiran serta  tindakan seorang ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.   Beliau  sosok  pembelajar yang  mengajarkan dan  mengamalkan ilmunya.  Itu tidaklah mudah," tutupnya. 

Solidaritas Kemanusiaan

Sementara saat menyampaikan pidato ilmiahnya bertemakan Inklusi Dalam Solidaritas Kemanusiaan : Pengalaman Spiritualitas Perempuan Dalam Kebhinekaan, Dra. Sinta Nuriyah, MHum  menganalogikan Sahur Keliling yang dilakukannya itu sebagai sarana mencapai ketakwaan, dan memperkokoh persatuan serta kesatuan bangsa. 

Lewat Sahur Keliling itulah sebuah ketakwaan ditempa. Sekaligus mempertajam pengertian tentang Pancasila dan Kebhineka Tunggal Ikaan, yakni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

"Inilah yang mendorong saya untuk menciptakan program-program pluralisme dan kemanusiaan, sebagaimana yang saya lakukan sampai sekarang," ujarnya. 

Masih menurut Sinta Nuriyah, selama ini banyak orang yang melaksanakan ibadah puasa hanya sebagai upacara seremonial ibadah tahunan belaka. Akibatnya, kesenjangan antara ibadah puasa dengan nilai moral dan budi pekerti luhur yang diajarkannya masih tetap ada.

Bila demikian halnya, sebut Sinta Nuriyah, maka puasa Ramadhan hanya dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban, atau masih berupa ibadah rutin yang formalistik semata. Dan belum sampai pada tataran puasa yang “revolutif”, yang mampu mengubah perilaku, gaya hidup serta pola pikir pelakunya ke arah yang lebih baik, lebih positif serta mengangkat derajat ketaqwaannya. 

Ini artinya, bahwa puasa juga mengajarkan tentang persaudaraan sejati diantara sesama umat manusia, tanpa memandang latar belakang agama, suku, golongan maupun status sosialnya.

Dirinya menjabarkan, bahwa inklusi dalam solidaritas kemanusiaan lewat pengalaman spiritualitas perempuan dalam kebhinekaan dikisahkan lewat kegiatan Sahur Keliling yang menyasar kaum dhuafa, kaum marjinal, tukang becak, pengamen, pemulung dan sebagainya. 

Pelaksanaannya juga tidak bisa di tempat yang mentereng dan terang benderang seperti Buka Puasa Bersama, melainkan di tempat mereka berada, seperti di kolong jembatan, di dekat terminal atau stasiun, di tengah pasar, di lokasi bencana dan sebagainya. 

Dalam rapat senat terbuka penganugerahan gelar H.C Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid selain Gubernur Khofifah tampak hadir Menkopolhukam RI Prof. Mahfud MD. (gas/hms)


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update