×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Diaspora Indonesia: Peluang dan Tantangannya (1)

Wednesday, February 26, 2020 | 00:21 WIB Last Updated 2020-02-25T17:21:58Z


Oleh: Imam Shamsi Ali*

DALAM beberapa hari terakhir ini saya keliling ke beberapa negara/kota di Eropa. Saya sempat kunjungi kota-kota besar antara lain Frankfurt, Bonn, Berlin, Brussels, Wina, Utrecht, Den Haag, Bratislava, Hamburg, dan Beograd. Di kota-kota itu ragam acara telah saya hadiri sebagai pembicara.

Di antara berbagai acara itu ada beberapa sesi yang didesain secara khusus “bersama dan untuk” masyarakat atau Diaspora Indonesia di kota-kota itu. Acara ini bagi saya sangat penting. Sebab memang salah satu tujuan penting dari Perjalanan ke Eropa kali ini adalah membangun kesadaran akan peranan penting Diaspora di negara tempat tinggal masing-masing.


Sesungguhnya, diaspora Indonesia di berbagai negara dunia memiliki potensi dan kapasitas besar untuk memainkan peranan penting dalam mempromosikan kebesaran Indonesia dalam segala aspeknya. Secara khusus tentunya adalah kebesaran Indonesia dalam aspek keagamaan. Dan lebih khusus lagi posisinya sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia.

Kita semua sadar bahwa Indonesia adalah negara besar. Kebesarannya tidak saja secara geografis yang membentang dari Sabang sampai Marauke. Yang jika ditempuh dengan pesawat terbang akan menempuh waktu selama 6 jam. Lebih lama dari Perjalanan dari New York bagian timur Amerika ke California bagian barat Amerika.

Kebesaran Indonesia sesungguhnya hampir dalam segala aspek negeri ini. Dari sejarah, geografis hingga kepada jumlah pulau-pulau yang membentang dan membentang negara kesatuan Republik Indonesia. Demikian pula kekayaan dan keindahan alamnya. Semua itu tentu perlu dan harus dipromosikan secara baik ke dunia global.

Tapi saya kira kebesaran dan keindahan Indonesia tidak saja pada alamnya. Tetapi lebih utama ada pada manusianya. Manusia Indonesia itu memiliki kelebihan-kelebihan yang membanggakan. Itulah yang kemudian terlihat pada kreasi atau karya yang terkadang sederhana tapi menakjubkan.

Ambillah salah satunya di bidang kulinari. Jika anda mengatakan “Indian food” maka anda akan mengenal curry, roti, bryani, dan lain-lain yang dapat dinikmati hampir sama di semua restoran India. Tapi jika anda mengatakan “Indonesian food” sesungguhnya anda akan bingung menentukan yang mana. Semua daerah/pulau memiliki bahkan bukan satu macam bentuk makanan. Tapi bermacam-macam bentuk dan rasanya.

Ambillah sebagai contoh makanan ala Bugis Makassar. Anda akan menemukan puluhan bentuk dan rasa makanan di daerah itu. Dari Coto Mangkasara, Pallu Kongro, Pallu Basa, Pallu Mara, Sop Sodara, hingga Pallu Butung, Pisang Epek, dan lain-lain.

Demikian pula ketika kita berbicara tentang keindahan dan keragaman budaya bangsa ini. Setiap daerah memiliki pakaian adat yang cantik. Setiap daerah juga memiliki tarian yang juga luar biasa.

Belum lagi praktek agama dan budaya yang luar biasa ragam itu. Dari keyakinan dan praktek agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan juga Konghucu. Walaupun yang diakui oleh negara adalah 6 agama ini. Tapi sesungguhnya begitu banyak keyakinan dan prakteknya di negeri Indonesia itu.

Dari semua itu saya kira kebesaran dan keindahan terutama dan yang terpenting Indonesia ada pada karakter bangsanya. Karakter Kebangsaan ini menjadi unik dan khas karena memang merupakan bagian dari darah dagingnya.

Bangsa Indonesia itu lemah lembut, walau tidak lemah (gentle, not weak). Bangsa ini adalah bangsa yang ramah (friendly), mudah tersenyum, mudah bergaul, bersahabat dan rendah hati. Bangsa ini adalah bangsa yang sejarahnya mengedepankan kerjasama di atas konflik dan perpecahan.

Semua karakteristik yang merupakan bagian dari kebesaran dan kehebatan Indonesia di atas menjadi dasar atau alasan-alasan penting kenapa warga Indonesia di luar negeri, yang kerap dikenal dengan diaspora Indonesia, punya kapasitas, pontensi sekaligus integritas untuk memainkan peranan penting untuk mempromosikan Indonesia. Dan secara khusus tentunya Indonesia sebagai nagara Muslim terbesar dunia.

Perlu Berbenah Diri

Kendati dengan kehebatan-kehebatan di atas untuk memainkan peranan pentingnya di luar negeri, diaspora Indonesia perlu bahkan harus berbenah diri. Ada beberapa kekurangan yang perlu dibenahi oleh mereka.

Kekurangan ini dalam pandangan saya bukan karakteristik dasar bangsa ini. Tapi justeru terpengaruh oleh berbagai aspek luar, dan juga mindset yang berkembang atau dikembangkan selama ini.

Lembut dalam karakter misalnya kerap dipersepsikan sebagai kelemahan. Lembut sering diartikan sebagai kelemahan dalam menunjukkan kapasitas dan kemampuan di hadapan orang lain.

Biasanya justifikasi yang dipakai adalah karakter positif lain. Yaitu kesantunan. Kekhawatiran dianggap tidak santun menjadikan warga Indonesia kerap kali tidak mau atau ragù tampil dengan kapasitasnya.

Tanpa tendensi memburukkan, tapi sebagai “self introspection” sekaligus “self correction” berikut saya sampaikan beberapa kekurangan warga Indonesia di luar negeri (diaspora) yang perlu dibenahi.

Pertama, terkadang tidak menempatkan karakter keindonesiaan yang positif itu secara proporsional. Seperti contoh yang saya sebutkan di atas, seringkali karakter-karakter positif disikapi secara negatif. Lemah lembut disikapi sebagai kelemahan.

Kesopanan dan kesantunan karakter bangsa seringkali juga berubah menjadi “rasa malu” bahkan takut menampilkan diri di hadapan orang lain. Biasanya sadar bahwa dia mampu. Hanya saja karena khawatir tidak dianggap sopan atau santun maka dia tidak mau tampil untuk menampilkan potensi atau kelebihan yang dimilikinya.

Kedua, diakui atau tidak, disadari atau tidak, bangsa Indonesia sedang mengalami penyakit “minder” yang cukup kronis. Hal ini juga cukup berdampak kepada mentalitas diaspora (warga Indonesia di luar negeri).

Penyakit minder (inferiority complex) itu adalah sebuah fenomena kejiwaan yang merasa tidak mampu, lemah bahkan kalah. Penyakit ini dengan sendirinya mengantar kepada sikap apatis dan frustrasi.

Maka untuk diaspora bisa memainkan peranannya diperlukan segera untuk membenahi penyakit inferioritàs ini. Bangsa ini penting untuk membangun “self confidence”. Harus membangun kesadaran penuh jika pada mereka ada kapabilitas dan potensi besar untuk melakukan hal-hal besar di dunia.

Ketiga, diaspora Indonesia juga seringkali mengalami penyakit “don’t care” (tidak peduli). Mereka tahu bahwa mereka punya tanggung jawab besar dalam banyak hal. Tapi tanggung jawab itu tidak terpedulikan.

Entah apa penyebab karakter negatif ini. Barangkali karena memang sudah menjadi bagian dari sikap apatis panjang akibat banyaknya harapan-harapan yang tidak terpenuhi. Sehingga merasa bahwa melakukan sesuatu juga tidak akan menghasilkan apa-apa.

Keempat, seringkali diaspora Indonesia di luar negeri kurang peduli lingkungan sekitarnya. Ketidak pedulian ini biasa terbangun karena memang kurang faham tentang lingkungan di mana mereka sedang tinggal.

Akibatnya sering warga Indonesia di luar negeri ketinggalan kendaraan untuk menangkap peluang-peluang yang tersedia. Apakah itu peluang ekonom, pendidikan maupun peluang-peluang politik yang tersedia di negara mereka menetap.


Kelima, warga Indonesia juga memiliki kecenderungan untuk membatasi diri dalam pergaulan. Sejak saya mahasiswa saya mengamati jika warga Indonesia di luar negeri sering membatasi pergaulan mereka dengan sesama warga saja.

Saya kurang tahu apakah ini bagian dari fenomena kurang percaya diri atau ada penyebab lain? Tapi yang pasti ini berakibat kepada kurang berkembangnya pengalaman sekaligus wawasan global para diaspora.

Satu hal yang paling pasti adalah dengan kecenderungan ini diaspora Indonesia kurang berkembang dalam berkomunikasi dalam bahasa asing. Inggris misalnya bagi mereka yang tinggal di Amerika.

Keenam, kecenderungan mengedepankan “negative minds” ketimbang berpikiran positif. Hal ini mengantar kepada sebuah prilaku yang cepat “menghakimi” (judgmental).

Selain cepat menghakimi di kalangan diaspora Indonesia di luar negeri juga paling sering kita dapatkan “gossip” yang tiada berujung. Bahkan menimbulkan kecurigaan-kecurigaan kepada sesama warga atau orang lain.

Semua itu dengan sendirinya kerap kali menimbulkan ketidaknyamanan (unpleasant) sekaligus rasa “tidak aman” (insecurity) dalam masyarakat.

Ketujuh, masyarakat Indonesia di luar negeri masih sangat terikat oleh keadaan di dalam negeri. Keadaan di dalam negara Indonesia juga seringkali menjadi keadaan yang mempengaruhi prilaku warga Indonesia di luar negeri.

Polarisasi bangsa dalam negeri akibat pemilu misalnya ternyata juga berimbas besar kepada kejiwaan dan perilaku warga di luar negeri. Hal ini menjadikan warga di luar negeri seolah pergerakannya ditentukan oleh pergerakan yang terjadi di dalam negeri.

Akibat terbesar dari itu adalah rentangnya terjadi perpecahan di kalangan Komunitas Indonesia. Yang sudah pasti berakibat kepada lemahnya nilai kontribusi diaspora di negara di mana mereka menetap.

Kedelapan, diakui atau tidak ada fenomena tersendiri di kalangan diaspora yang perlu dikiritisi. Yaitu cepat mengalami keadaan jiwa sosial yang tidak sehat.

Fenomena ini dapat dilihat pada situasi sebagai misal, jika ada yang di atas, maka dia cenderung merendahkan yang di bawah. Atau sebaliknya, yang ada di bawah cenderung menarik yang di atas untuk jatuh.

Fenomena pertama itu disebut kecenderungan arogansi sering terjadi kepada sesama. Memandang enteng atau merendahkan sesama bangsa karena kurang dari dirinya.

Fenomena sebaliknya disebut “dengki” atau iri hati kepada sesama yang kebetulan mendapatkan kelebihan tertentu. Berusaha untuk menjatuhkan sesama diaspora terkadang dengan cara-cara jahat.

Itulah beberapa hal yang diaspora Indonesia perlu benahi. Jika tidak rasanya akan berat untuk mereka akan bisa memainkan peranan penting itu di luar negeri.

Lalu apa saja dan bagaimana harusnya diaspora memainkan peranan itu? (Bersambung)

Udara Frankfurt-Beograd, 23 Februari 2020

* Imam Shamsi Ali adalah Diaspora Indonesia dan Imam Masjid di kota New York, USA.




No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update