-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hujan Meteor, Isu Dukhan Hari Ini, dan Fenomena Langit Bulan Ramadhan

Friday, May 8, 2020 | 12:19 PM WIB Last Updated 2020-05-08T05:33:51Z






SIDOARJO (DutaJatim.com) - Seorang pembaca DutaJatim.com mengirim video hujan meteor dengan narasi suara seseorang seolah direkam di Kota Surabaya pada Kamis 7 Mei 2020. 

Namun video itu sepertinya direkam beberapa hari sebelumnya tapi tetap di musim hujan meteor pada Mei 2020 ini. Hanya saja suaranya dikesankan di Surabaya tadi malam.


Mengutip informasi dari akun Instagram Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ,.(Lapan) RI, hujan meteor itu adalah Eta Aquarids. Yakni  hujan meteor dengan intensitas di atas rata-rata, yang mampu menghasilkan hingga 60 meteor per jam pada saat puncak. Di belahan Bumi Utara angka ini mencapai sekitar 30 meteor per jam.


Kelompok meteor itu diproduksi oleh partikel debu yang ditinggalkan oleh komet Halley yang telah dikenal dan diamati sejak zaman kuno. Dan hujan meteor ini berlangsung setiap tahun dari 19 April hingga 28 Mei. Puncaknya pada tahun ini terjadi pada malam 6 Mei dan pagi hari 7 Mei.

Hujan meteor terasa indah di langit Ramadhan 2020. Namun bulan purnama akan mengganggu penglihatan ke meteor yang muncul keculai meteor yang paling terang.

Tetapi jika Anda sabar, bisa melihat beberapa yang cukup terang.

Tampilan terbaik akan berasal dari lokasi yang gelap setelah tengah malam.

Radiant hujan meteor ini adalah konstelasi Auaris, tetapi dapat muncul di mana saja di langit. Meski indah, hujan meteor bisa juga jadi ancaman penduduk bumi.


Isu Dukhan Hari Ini


Yang menarik, saat hujan meteor ini berbarengan dengan isu  Dukhan yang viral di medsos.

Dukhan diisukan terjadi pada hari Jumat 15 Ramadhan 1441 H atau 8 Mei 2020 hari ini. Isu itu beredar viral di medsos dan grup WhatsApp. Di tengah pandemi atau wabah virus Corona, isu Dukhan menarik. Apalagi dibumbui dengan kisah yang diambil dalam film Deep Impact yang menceritakan kiamat bumi gegara tsunami dahsyat yang dipicu hantaman megameteor.

Dukhan sendiri dalam bahasa Arab adalah kabut atau asap tebal yang menyelimuti Bumi. Sebuah kabut diyakini sebagai pertanda hari kiamat.


Dalam salah satu hadis, disebutkan Dukhan terjadi pada hari Jumat di pertengahan Ramadhan atau 15 Ramadhan.

Kebetulan, tahun ini pertengahan Ramadhan 1441 H adalah hari Jumat atau tanggal 8 Mei 2020 ini. Dan pas ada musim hujan meteor.

Namun, hadis itu telah dibantah sejumlah ulama dan dikatakan sebagai hadis lemah bahkan palsu.

Dukhan dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi tahun ini lantaran adanya fenomena hujan meteor serta adanya asteroid besar yang sedang mendekat ke Planet Bumi.


7 Mei Bulan Purnama

Pada saat hampir bersamaan  juga terjadi bulan purnama.  Ketika bulan  terletak di belakang Bumi bila dilihat dari matahari dan wajahnya akan sepenuhnya diterangi cahaya Matahari.

Fase ini terjadi pada pukul 17.45 WIB.


Jarak Bumi dengan Bulan adalah 361.184 Km(0,967 x jarak rata-rata Bumi Bulan) dengan ukuran diameter mencapai 33.08 menit busur.

Bulan purnama ini dikenal oleh suku-suku asli Amerika awal sebagai Bulan bunga musim semi muncul jumlah besar.

Bulan ini juga dikenal sebagai Bulan Tanam Jagung Penuh dan Bulan Susu.

Ini juga yang terakhir dari empat supermoon untuk tahun 2020.

Bulan akan berada pada posisi terdekatnya ke Bumi dan mungkin terlihat sedikit lebih besar dan lebih terang dari biasanya.


 22 Mei Bulan Baru



Bulan akan terletak di sisi Bumi yang sama dengan Matahari dan tidak akan terlihat di langit malam. Fase ini terjadi pada pukul 00.39 UTC.

Ini adalah waktu terbaik dalam sebulan untuk mengamati benda-benda redup seperti galaksi dan gugusan bintang karena tidak ada cahaya bulan yang mengganggu.



28 Mei 2020 (Matahari di Atas Kakbah)


Pada tanggal ini, matahari berada tegak lurus di atas Ka'bah. Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki kiblat.

"Mari kita lakukan penyempurnaan arah kiblat," jelas Thomas dalam referensi tulisan pada blog pribadinya.

Thomas menjelaskan, perlunya penyempurnan atau pemeriksaan ulang karena sebagian besar masjid atau musala arah kiblatnya ditentukan sekadar perkiraan dengan mengacu secara kasar arah kiblat masjid yang sudah ada atau dengan menggunakan kompas yang tidak akurat.


"Dengan bayangan matahari pada saat-saat tertentu yang disebutkan di bawah ini, arah kiblat dapat lebih mudah dan lebih akurat ditentukan. Waktunya diberikan banyak pilihan, silakan gunakan waktu yang sesuai dengan mempertimbangkan keadaan cuaca dan konversi waktu setempat. Arah kiblat bisa ditentukan dari bayangan benda vertikal, misalnya tongkat, kusen jendela/pintu, atau sisi bangunan," paparnya seperti tertuang dalam blog.


Thomas mereferensikan untuk menggunakan benda tegak, misalnya kusen jendela, untuk menentukan arah kiblat dari bayangannya pada waktu yang ditentukan. Beri tanda arah bayangan, misalnya dengan sajadah.

"Buat garis saf baru berdasarkan arah yang telah ditentukan. Jangan ragu menyempurnakan arah kiblat demi kebenaran". (L6/hud)




×
Berita Terbaru Update