-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dikritik Sutradara Joko Anwar, Menteri Tjahjo Kumolo Minta Maaf soal Bagi-bagi Link Film Perjuangan

Monday, August 17, 2020 | 4:07 PM WIB Last Updated 2020-08-17T09:32:20Z

 




SURABAYA (DutaJatim.com) -  Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (PAN RB) Tjahjo Kumolo jadi trending topic di Twitter setelah membagi link film perjuangan di YouTube. Link film perjuangan itu juga beredar di media sosial lain seperti WhatsApp.

Menteri Tjahjo dikritik terkait etika mengingat film itu memiliki hak cipta. Namun demikian banyak netizen mendukung Tjahjo mengingat film itu sudah lama diapload di YouTube dan media sosial lain. Hanya saja unggahan di YouTube banyak dilakukan secara ilegal.


Misalnya film "Pedjuang" karya sutradara Usmar Ismail hingga film Sang Kyai. Untuk itu Tjahjo pun melalui akun Twitternya meminta maaf kepada Joko Anwar. Bahkan dia siap membayar bila harus melakukannya.

"Yth Bp JokoAnwar Sutradara Film Perjuangan - sy mendpt kiriman WA koleksi film Perj. tsb - mengingat Hari Kemerdekaan RI - saya berbagi saja kpd Group via Twitts - mohon maaf kalau sy salah dan khilaf - kalau sy hrs membayar krn sy berbagi sy siap semampu saya, dmk Trims," kata Tjahjo Kumolo lewat akun Twitternya @tjahjo_kumolo Senin 17 Agustus 2020 sore.

Hal itu menjawab cuitan sutradara Joko Anwar yang menyoal bagi-bagi link film perjuangan tersebut. Pada cuitan sebelumnya Joko Anwar menyinggung ada menteri bagi bagi link film perjuangan. Yang dia maksud tentu saja Menteri Tjahjo.

"Banyak tautan yg dibagikan di sini diunggah secara ilegal tanpa ijin pemilik hak cipta filmnya. Gak ada gunanya kita merayakan 75 tahun merdeka kalau mengambil hak orang lain, apapun alasannya. Gak mungkin juga mengedukasi rakyat ttg HAKI kalau pemerintahnya aja gak paham," kata Joko Anwar seperti dikutip dari akun Twitternya @jokoanwar Senin sore.


Sama dengan kegiatan 17 Agustusan lainnya seperti lomba-lomba, di saat 
pandemi COVID-19 acara perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di luar ruangan harus dibatasi, tapi semangat 17 Agustusan tetap menggelora. Dan semakin menggelora semangat juang itu bila kita menonton film-film perjuangan yang membangkitkan jiwa nasionalisme.

Menteri PAN RB  TJAHJO KUMOLO seperti dilihat di  akun Twitternya @tjahjo_kumolo Senin  17 Agustus 2020 membagikan sejumlah link film perjuangan yang bisa ditonton di YouTube. 

Film yang dibagikan Tjahjo Kumolo itu adalah:  Cut Nyak Dien, Sang Pencerah,  Ketika Bung Karno di Ende,  Sang Kyai,  Kartini Baru, Senja Merah di Magelang,  Jendral Sudirman, Kereta Api Terakhir, 
-Perawan di Sektor Selatan, Tapal Batas Jendral Sudirman, Merdeka atau Mati Surabaya 1945, PEJOEANG, Enam Jam di Jogja, Janur Kuning, Serangan Fajar, Pasukan Berani Mati.


Sinopsis


Berikut sinopsis sebagian film perjuangan.


Trilogi "Merah Putih"

"Merah Putih" merupakan sebuah film trilogi perjuangan rakyat Indonesia melawan Belanda setelah kemerdekaan. Berlatar belakang tahun 1947, film ini mengisahkan tentang para pemuda dari berbagai suku yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Tanah Air.

Trilogi "Merah Putih" dibintangi oleh Darius Sinathrya (Marius), Donny Alamsyah (Tomas), Rahayu Saraswati (Senja), Lukman Sardi (Amir), Joe Sims (Sergeant De Graffe).

Film pertama "Merah Putih" rilis pada 2009, menyusul sekuel selanjutnya "Darah Garuda" pada 2010 dan "Hati Merdeka" 2011.


"Soekarno"

Film yang sempat menjadi kontroversi ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo pada 2013. Dibintangi oleh Ario Bayu sebagai sang proklamator, "Soekarno" berkisah tentang masa kecil Presiden pertama RI yang bernama Kusno, masa remaja, kisah cinta hingga saat memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Dalam film tersebut juga ditampilkan pidato-pidato Soekarno yang membakar semangat nasionalisme, masa-masa pengasingan hingga detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia yang membuat haru.


"Jendral Soedirman"

Dirilis tahun 2015, film garapan Viva Westi ini berkisah tentang Jenderal Soedirman (Adipati Dolken) yang melawan Belanda secara gerilya meski sedang sakit paru-paru.

Film tersebut juga memperlihatkan taktik dan strategi perjuangan Jenderal Soedirman yang membuat Belanda kehabisan logistik dan waktu. Dia juga bersembunyi di balik hutan-hutan Jawa untuk melakukan penyerangan.


"Guru Bangsa Tjokroaminoto"

Dirilis tahun 2015, "Guru Bangsa Tjokroaminoto" berkisah tentang Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang memiliki andil besar pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Di sini diperlihatkan perjuangan Tjokroaminoto yang menyadarkan masyarakat untuk merebut kemerdekaan.

Kala itu, pendidikan masih minim, rakyat miskin di mana-mana dan tidak ada sekolah untuk rakyat. Tjokroaminoto pun mendirikan organisasi Sarekat Islam untuk melakukan aksi dan sosialiasi yang tujuannya mengajak masyarakat terlibat dalam usaha kemerdekaan.

"Guru Bangsa Tjokroaminoto" dibintangi oleh Reza Rahardian (Tjokroaminoto), Alex Abbad (Abdullah), Putri Ayudya (Soeharsikin), Maia Estianty (Mrs. Mangoenkoesoemo), Didi Petet (Haji Hasan), Chelsea Islan (Stella) dan lainnya. Film ini juga disutradarai oleh Garin Nugroho.


"Kartini"

Film arahan Hanung Bramantyo ini merupakan biografi dari RA Kartini yang mengupayakan kesetaraan hak untuk perempuan khususnya di bidang sosial dan pendidikan.

Kartini yang dibintangi Dian Sastro Wardoyo tumbuh dengan menyaksikan ibu kandungnya, Ngasirah yang terbuang di rumahnya sendiri. Kartini merupakan keturunan ningrat sehingga berkesempatan mengenyam pendidikan.

Dia kemudian menulis surat-surat dalam upaya menyediakan lapangan kerja dan kesetaraan bagi perempuan di Jepara. Selain Dian Sastro, film yang dirilis tahun 2017 ini juga dibintangi oleh Acha Septriasa serta Ayushita.

"Wage"

Film ini merupakan biografi dari pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", Wage Rudolf Soepratman yang dirilis pada 2017. Lagu ini pertama kali dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda 2 atau yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Dalam pembuatannya, lagu "Indonesia Raya" merupakan perwujudan dari bangkitnya kesadaran pemuda-pemuda Indonesia dalam melawan penjajah. Semangat itulah yang membuat Wage berani meninggalkan segala kemewahan yang didapatnya di Makassar dan kembali ke tanah Jawa.

Wage kemudian aktif dalam pergerakan kemerdekaan dan menjadi jurnalis sebagai penyambung suara rakyat. Film ini juga memperlihatkan Wage yang merasakan ditahan oleh Belanda karena terlalu vokal dan hingga akhir hayatnya saat menderita penyakit paru-paru.

Film arahan sutradara John De Rantau ini dibintangi oleh Rendra Bagus Pamungkas dan Prisia Nasution.

"Perburuan"

Film yang diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul sama ini bercerita tentang enam bulan setelah kegagalan PETA melawan Jepang. Hardo (Adipati Dolken) diburu oleh tentara Jepang karena dianggap sebagai otak dari pemberontakan.

Dalam sebuah pengejaran selama satu hari dan satu malam menjelang proklamasi kemerdekaan, sebuah drama perjuangan terungkap. Kekejaman Jepang, pengkhianatan ayah tunangannya serta sahabat tak membuat Hardo patah semangat merebut kemerdekaan.

Film rilisan tahun 2019 ini disutradarai oleh Richard Oh dan diperankan oleh Ayushita, Ernest Samudra, Khiva Ishak dan Michael Kho. (gas/ant)


×
Berita Terbaru Update