-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Produksi Vaksin Indonesia Dipercepat, Disiapkan 250 Juta Dosis

Selasa, 04 Agustus 2020 | 22.26 WIB Last Updated 2020-08-04T15:26:13Z
Menteri Erick Thohir
Menteri Erick Thohir mengunjungi Bio Farma.

 
BANDUNG (DutaJatim.com)  -Alhamdulillah, di tengah kecemasan akibat pandemi Covid-19, ada kabar gembira terkait penemuan vaksin anti-Corona. Kabar gembira itu disampaikan 
Menteri BUMN Erick Thohir setelah mengecek kesiapan  produksi vaksin Covid-19, yang saat ini memasuki tahap persiapan uji klinis fase 3 pada Agustus 2020 ini. Produksi vaksin ini dipercepat hingga akhir tahun 2020 dari rencana semula awal tahun 2021.

Erick mengatakan, Bio Farma saat ini memiliki kapasitas produki awal 100 juta. Selanjutnya sampai Desember 2020, akan siap 150 juta dosis tambahan sehingga total menjadi 250 juta dosis.

“Tahun depan siap diproduksi sebanyak 250 juta dosis, dan jumlahnya akan mencukupi untuk Indonesia. Bukan tidak mungkin, Bio Farma bisa mengekspor juga vaksin Covid-19 untuk membantu negara lain,” kata  Erick dalam rilisnya yang diterima redaksi, Selasa (4/8/2020).

Menteri yang juga Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional ini selanjutnya meminta masyarakat tidak ragu dengan kabar gembira ini. Vaksin Covid-19 ini dipastikan lulus uji klinis fase 3 dan siap diproduksi. Mengapa?

Sebab Bio Farma sudah berpengalaman dalam memproduksi vaksin sejak tahun 1890. Bahkan hingga kini, sudah ada 15 produk vaksinnya  lulus Pre-Kualifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Produk-produk tersebut digunakan 150 negara, termasuk negara–negara di Timur Tengah. Bahkan mereka belajar vaksin kepada Bio Farma.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir menambahkan, kapasitas produksi maksimal yang akan digunakan untuk memproduksi vaksin Covid-19 sebesar 250 juta dosis per tahun.

“Bio Farma sedang menyiapkan fasilitas produksi tambahan sebesar 150 juta dosis. Fasilitas produksi tambahan ini akan siap pada Desember 2020, dari rencana semula awal tahun 2021,” tutur dia.

Efek Samping

Vaksin Covid-19 saat ini sedang menjadi kebutuhan dunia. Seluruh lembaga penelitian dunia berlomba–lomba menemukan vaksin Covid-19.

Di Indonesia, Bio Farma menggandeng perusahaan Sinovac asal China. Alasannya, karena vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac, menggunakan platform inactivated (virus yang diinaktivasi) yang metodenya sudah dikuasai Bio Farma sejak lama.

Faktor lainnya, hingga kini mereka memiliki kemampuan pengembangan vaksin Covid-19 tercepat, mempunyai pengalaman sebagai perusahaan pertama di dunia yang menyelesaikan fase 1 untuk vaksin SARS, dan memiliki produk vaksin H1N1 (Swine Flu) pertama yang disetujui dunia.


Selanjutnya Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama BUMN Bio Farma akan melakukan uji klinis calon vaksin Covid-19 yang disuntikkan kepada 1.620 orang.

Penelitian akan dilakukan pada awal Agustus 2020 setelah mendapatkan izin penelitian dari Komite Etik Penelitian Universitas Padjadjaran. Saat ini banyak warga bersedia menjadi relawan. Mereka ada yang dari kalangan bankir maupun dokter. 

Dokter Eddy Fadliana, selaku Manajer Lapangan Tim Penelitian Uji Klinis Tahap 3 Calon Vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, mengatakan, meski dinyatakan aman untuk manusia, pada uji klinis fase pertama dan kedua yang telah dilakukan di China,  ada efek samping yang akan ditimbulkan ketika vaksin tersebut disuntikkan kepada manusia.

"Kita berpatokan pada penelitian. Dari penelitian yang dipublikasikan, ada reaksi lokal berupa nyeri di tempat suntikan  20 sampai 25 persen (dari jumlah orang yang menjadi relawan uji klinis fase satu dan dua)," kata Eddy saat konferensi pers di Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unpad Jalan Prof Eyckman, Kota Bandung.

Lebih lanjut, Eddy menambahkan, pada uji klinis fase satu dan fase dua, beberapa relawan yang telah disuntik calon vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech Ltd (Sinovac), mengalami radang paru-paru, diare, dan penyakit lainnya.

"Setelah diaudit tidak berhubungan dengan vaksin," ungkapnya.

Selain itu, dari uji klinis fase satu dan dua, calon vaksin yang dibuat dari virus corona yang dimatikan ini dipastikan tidak menimbulkan penyakit baru.

"Fase satu dan fase dua menunjukkan tingkat keamanan cukup tinggi. Pada fase satu dan dua tidak timbul demam, hanya reaksi lokal nyeri di tempat suntikan tadi," jelasnya. 

Ketua Tim Penelitian Uji Klinis Tahap 3 Calon Vaksin Covid 19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Profesor Kusnandi Rusmil menambahkan, nyeri bekas suntikan calon vaksin covid-19 tersebut akan hilang dengan sendirinya.

"Nyerinya akan hilang sendiri dalam berapa jam. Yang nyerinya hilang sampai dua hari paling hanya beberapa orang," tandasnya.

Seperti diketahui, sebanyak 2.400 sampel calon vaksin Covid-19 dari Sinovac Biotech Ltd, China, tiba di Indonesia. Bakal vaksin itu akan diuji klinis di laboratorium milik PT Bio Farma (Persero) dan fasilitas penelitian lain di dalam negeri. 


Kedatangan ribuan kandidat vaksin tersebut diharapkan membuat peluang produksi vaksin virus corona (Covid-19) di Indonesia bisa dilakukan pada awal tahun depan. Uji klinis di Indonesia akan dilakukan selama enam bulan.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, calon vaksin yang dikirim Sinovac diterima Bio Farma pada 19 Juli 2020. Dia berharap produksinya bisa dipercepat akhir tahun 2020 ini. (kcm/wis)
×
Berita Terbaru Update