-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Nayla Badrut Tamam : ‘’Perempuan Ujung Tombak Turunkan Stunting’’

Senin, 28 September 2020 | 18.20 WIB Last Updated 2020-09-28T11:20:55Z

 


Nayla Badrut Tamam (kanan) dan Yuni Lailatul Fitriyah Raja'e.



PAMEKASAN (DutaJatim.com) - Ketua TP PKK Kabupaten Pamekasan Ibu Nayla Badrut Tamam menegaskan untuk menangani stunting perlu kekompakan seluruh elemen masyarakat termasuk organisasi perempuan. Hal ini karena perempuan menjadi ujung tombak dari penanggulangan stunting di Kabupaten Pamekasan. 


Ibu Nayla mengungkapkan hal itu dalam pertemuan pelaksanaan program Stunting bagi PKK dan organisasi wanita di Pamekasan, yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Pamekasan, di Ruang Pertemuan Dharma Wanita, Senin (28/9/2020). Ibu Nayla hadir sebagai pemateri dalam pertemuan itu. Dia didampingi oleh Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Ibu Yuni Lailatul Fitriyah Raja’e.


Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan seluruh organisasi wanita di Pamekasan itu Nayla Badrut Tamam mengaku cukup lama vacum bertemu membahas stunting akibat  focus pada penanganan Covid 19. Sekarang, kata dia, sudah bisa tatap muka lagi karenanya dia mengingatkan kembali untuk bersama sama menangani kembali angka stunting di Pamekasan. 


Dia mengungkapkan angka stunting di Pamekasan tahun 2020 ini mencapai 18 persen dari jumlah balita yang ada di Pamekasan sekitar 63 ribu anak. Targetnya nanti pada tahun 2024 turun menjadi 14%.


Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan  Pamekasan dr Marsuki mengungkapkan stunting harus diturunkan di Pamekasan. Dan untuk menurunkan, Dinkes butuh kerjasama dengan lintas sector termasuk organisasi wanita, karena mereka lebih dekat dengan masyarakat supaya bisa memberikan edukasi tentang stunting.


“Stunting itu dimulai sejak dari kandungan yang dikenal dengan nama 1000 hari pertama kehidupan atau 1000 HPK jadi insya Allah para organisasi wanita termasuk didalamnya PKK, fatayat NU, muslimat NU, Aisyiah dan Muhammadiyah mereka sudah kita beri pemahaman bagaimana cara edukasi supaya bayi yang lahir sehat dan tidak stunting,” katanya.


Marsuki mengatakan jika terjadi stunting maka remaja setelah dewasa akan menurunkan pertumbuhan termasuk metabolismenya sehingga produktivtias akan menurun. Stunting itu, kata Marsuki, adalah kondisi kurang gizi, pendek atau kerdil, sangat mempengaruhi pertumbuhan perkembangan dan metabolisme tubuh.


“Kalau pertumbuhan perkembangan dan metabolisme terganggu dibawa sampe usia remaja dewasa akan mengakibatkan tingkat produktivitas rendah, kalau masyarakat sudah tidak produktif otomatis negara akan kehilangan SDM, kalau produktivitas masyarakat rendah akhirnya GNP satu negara rendah sehingga ekonomi rendah bahkan pendidikan juga rendah," ungkapnya. 


Senada dengan Ibu Nayla,  dr Marsuki juga mengakui kondisi stunting di Pamekasan kisaran 18 persen. 

Diharapkan tahun 2030 jadi 0 % sesuai harapan WHO. Kata dia ada 4 faktor yang mempengaruhi, pertama lingkungan, kedua perilaku, ketiga pelayanan kesehatan, keempat genetic. Genetic mempengaruhi 10 % nya, sedangkan 90% itu dipengaruhi oleh yang lain, 40 % lingkungan, 30 % dari perilaku 20% dari askes. (mas)
×
Berita Terbaru Update