-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Putra Putri Batik Pamekasan, Ekspresi Ruang Budaya Berbasis Ekonomi

Sabtu, 10 Oktober 2020 | 12.33 WIB Last Updated 2020-10-10T09:13:13Z


PAMEKASAN (DutaJatim.com) - Sekdakab Pamekasan Ir Totok Hartono MA menegaskan pemilihan Putra Putri Batik Pamekasan   merupakan ruang ekspresi batik sebagai identitas budaya berbasis ekonomi. Karena itu kreasi anak muda Pamekasan harus diapresiasikan untuk melahirkan generasi yang cerdas dan berbudaya.



Totok Hartono mengungkapkan hal itu saat memberi sambutan pada Malam Grand Final Pemilihan Putra Putri Batik Pamekasan Tahun 2020, di Pendopo Rogosukowati, Jumat (9/10/2020) malam. Grang Final ini diikuti 10 finalis putra dan 10 finalis putri batik yang telah mengikuti  proses seleksi sebelumnya.
Sekalipun dilaksanakan dengan protap covid 19, suasana tampak meriah. 


Dihadiri oleh orang tua finalis, Forkopimda, pimpinan instansi terkait, pengusaha dan pengamat batik. Dan yang tak kalah pentingnya panitia menghadirkan tiga dewan ujian handal, yakni akademisi dari Fakultas Psykologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), putri batik nasional tahun 2018 serta pengamat dan pengusaha batik.


Ir Totok Hartono MA 




Totok Hartono mengatakan pemilihan putra putri batik ini pada dasarnya memilih putra putri terbaik Pamekasan yang berbakat dan memiliki kapasitas kepribadian, intelektual, social dan spiritual. Pelaksanaan pemilihan putra putri batik ini bukti kesungguhan Pamekasan dalam mengawal salah satu potensi unggulan daerah dibidang pembinaan dan pengembangan usaha kecil menengah yaitu indsutri batik tulis. 


Totok mengungkapkan pemilihan putra putri batik berawal dari dicanangkannya Pamekasan Sebagai Kabupaten Batik oleh Gubernur Jatim 24 Juni 2009. Pada saat itu Pamekasan pertama kali menyiapkan duta batik dan pemilihan putri batik yang kemudian menjadi ajang pemilihan putra putri batik Pamekasan.


“Alhamdulillah di tahun 2016 kita berhasil mengantarkan putri batik Pamekasan mengikuti pemilihan putra putri batik nusantara ditingkat nasional. Setelah mengikuti proses audisi yang sangat berat dan panjang, putri batik Pamekasan berhasil meraih juara ke 3,” ungkap Totok Hartono. 


“Pada saat pencanangan Pamekasan juga berhasil memecahkan rekor MURI dengan kegiatan ‘’Super Batik’’ atau 1000 perempuan membatik pada kain sepanjang 1.530 meter, sesuai dengan tahun kelahiran Pamekasan atau hari jadi Pamekasan tahun 1530 masehi,’ imbuhnya. 


Pada perkembangan selanjutnya, kata Totok, Pamekasan terus perkuat batik tulis tidak hanya dikenal secara nasional tetapi juga di internasional. Pada tahun 2019 Pamekasan kembali berhasil mendapat rekor MURI dengan program branding batik pada semua kendaraan dinas, yang kemudian disusul dengan kebijakan seluruh masyarakat Pamekasan menggunakan baju dan sarung batik pada Hari Raya Idul Fitri.

 
Dari hasil penilaian dewan juri terpilih tiga orang jura putra batik dan tiga juara putri batik. Antara lain lain juara 1 Putra  Batik atas nama Moh Halil Setiawan, juara II atas nama Moh Farhan MA dan juara III atas nama Muhammad Iqbal AB. Sedangkan juara1 Putri batik atas nama Amalia Mauydy, juara II atas nama Shahnas Larasati, juara III atas nama Risqa Ramadhani.


Panitia juga memilih peserta berbusana terbaik putra atas nama  Moh Alvian Efendi dan busana terbaik putri atas nama Alya Shabira. Lalu juga dipilih peserta persahabatan putra atas nama Moh Iqbal Arif dan putri atas nama Febriya Amalia. Dan terakhir dipilih peserta bertalenta putra atas nama Moh Henjang dan putri atas nama Denisda Annoerzi. (mas)
×
Berita Terbaru Update