-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kisah Arek Suroboyo Penunggang Moge di Amerika: Pendeta Keren Itu Selalu Santun di Atas Harley

Saturday, November 21, 2020 | 6:09 AM WIB Last Updated 2020-11-20T23:09:30Z
Melkysedek Tirtasaputra bersama istri dan mogenya.


Insiden pengendara motor gede (moge) mengeroyok dua anggota TNI di Bukittinggi Sumatera Barat menjadi keprihatinan masyarakat luas. Bahkan, diaspora Indonesia anggota Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) di Amerika Serikat, Melkysedek Tirtasaputra, juga ikut bersedih  atas kejadian yang mencoreng nama klub moge tersebut. Dengan menjaga sikap santun, pria asal Surabaya yang sekarang jadi pendeta ini toh tetap gagah dan keren di atas mogenya.


Oleh Gatot Susanto


MELKYSEDEK TIRTASAPUTRA bersama istri suka touring ke sejumlah daerah di Amerika Serikat. Selama touring bersama rekan-rekannya dia selalu menjaga sopan santun di jalan. Menghormati pengguna jalan lain. Apalagi pejalan kaki atau kendaraan kecil. Karena itu, ketika mendengar ada kabar kurang baik soal pengendara moge, Melkysedek yang anggota HDCI di Kota Philadelphia, negara bagian Pennsyvalia, langsung meminta maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut. 


Namun, kata dia, kejadian semacam itu hanya kasus perseorangan saja dan tidak mewakili klub moge secara keseluruhan sebab tujuan klub moge sesungguhnya sangat baik. Salah satunya mengadakan bhakti sosial membantu masyarakat.  


"Kalau di Amerika moge hanya kelompok untuk fun saja, kita nge-ride bareng, atau ada juga untuk tujuan lebih irit bila pergi ke kantor, sebab kalau memakai mobil kan mahal," kata Melky, yang arek Suroboyo dan pernah tinggal di Dharmahusada serta terakhir di Citraland tersebut, kepada DutaJatim.com, Rabu 18 November 2020. 


Tidak seperti pada umumnya di Indonesia, kata Melky, banyak sekali grup moge di Amerika Serikat. Klub itu bisa berdasarkan jenis kendaraan atau mungkin sesuai tujuan tertentu dibentuknya klub tersebut. Lalu di Amerika banyak juga grup lokal atau nasional yang tujuannya untuk nge-ride bareng. "Tapi memang ada juga grup motor di Amerika yang kesannya eksklusif," katanya.


Melky mengatakan, di Indonesia moge termasuk hobi yang sangat mahal sebab harga motor ini bisa mencapai miliaran. Namun di Amerika harga moge masih terjangkau. Dia membandingkan antara Indonesia dan Amerika, harga moge bisa 3-4 kali lebih mahal ketimbang harga di Amerika. "Bisa terjangkau karena bisa bayar cicil. Beda di Indonesia pada umumnya mereka beli cash. Di sini asal gajinya cukup untuk membayar kredit moge ya oke," katanya. 


Melky di Amerika memiliki 4 grup pemotor. Dua grup nation wide dan dua grup lokal.  Salah satunya HDCI-USA yang berasal dari Indonesia. Lalu ada di beberapa state Amerika jumlahnya sekitar 80-an dan terus bertambah. Khusus orang Indonesia. 


"Harley Davidson Biker (HDB) juga berasal dari Indonesia. Juga nation wide tapi terbuka untuk seluruh warga negara, anggotanya dari seluruh dunia. Harley Owner Group (HOG) dan grup lokal dari dealer setempat. United Biker Crew (UBC) grup yang saya buat di Philadelphia, untuk pengendara motor merek dan jenis apa saja. Ada Harley, sport, Yamaha, Honda dan Suzuki Triump, Ducati. Pada umumnya grup ini untuk nge-ride bareng dan  have fun serta mengadakan kegiatan bakti sosial," katanya.


Yang juga membedakan dengan di Indonesia, di Amerika motor di atas 150 CC  boleh masuk highway dan jalan  tol. Jalanan di Amerika juga lebar sehingga lebih leluasa bagi para rider atau biker. Mereka tidak sampai bersinggungan dengan pengendara lain seperti di Indonesia, terutama bila jalan macet. Karena itu konvoi motor tidak pakai sirine atau pengawalan. Yang unik, justru di jalanan Amerika, pengendara moge jadi korban pengendara mobil yang melaju sangat cepat.


"Motor biasa tidak boleh pakai sirine atau lampu yang menyerupai polisi.  Ada sih pengawalan polisi tapi jika ada acara khusus saja, dan yang nge-ride lebih dari ratusan motor. Namun demikian kita tetap harus sopan dan tidak punya perlakuan istimewa.  Bisa check itu di channel youtube saya," katanya. 


Pengawalaan polisi biasanya hanya untuk keberangkatan sampai ke tempat tujuan. Setelah itu bubar dan bebas balik ke tempat masing-masing. "Ya tujuannya agar tertib dan terkendali," kata pria yang pernah tinggal di Menganti ini. 


Suka Duka di Amerika 


Lalu bagaimana Melkysedek bisa sampai ke Amerika? Ternyata semua berawal dari iming-iming tetangga yang sudah sukses lebih dulu hijrah ke Amerika. "Seperti diketahui bahwa negeri Paman Sam adalah negeri impian, ditambah ada iming- iming dari tetangga saya di Surabaya bahwa di Amerika segalanya mudah asal mau bekerja," katanya.


Setelah mencari jalan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan visa agar bisa merantau ke negeri impian maka pada Januari tahun 2001 Melky bersama istri berangkat ke Amerika. Pasangan ini harus berpisah dengan dua anak perempuannya yang saat itu baru berumur 4 dan 1 tahun. "Dua anak cewek kami tidak diperbolehkan dibawa  oleh orang tua dengan alasan masih kecil dan belum tahu rimba di negeri seberang," katanya. 


Dan itu semua akhirnya ada hikmahnya, karena dengan bekal uang yang minim-- sekitar $500--, keduanya akhirnya tiba di LA untuk transit yang kemudian diajak ke Kota Philadelphia. Hal itu karena tetangga di Surabaya tadi ada di kota Philadelphia. 


"Dengan bekal uang yang minim dan terbatas kami berdua memutuskan naik bus antarkota greyhound selama 3 hari 3 malam dengan masih hitung-hitungan makan seadanya yaitu 1 kotak KFC tanpa nasi dan 1 botol 2 liter Coca Cola. Setiba di Philadelphia jam 12 tengah malam dan baru turun salju hingga selutut," katanya.


Pasangan suami istri ini langsung mencari kamar untuk tidur dan tempat tinggal. Ternyata mereka mendapat kamar kosong seukuran 1,5 X 2,5 meter  tanpa kasur maupun penghangat ruangan. 


"Setelah perjalanan 3 hari 3 malam di atas bus, kami mencoba tidur tapi karena cuaca yang dingin dan tanpa penghangat istri saya menggigil, sedangkan penghuni lain belum pulang sedang bekerja. Puji Tuhan kami menemukan pengering rambut, yang bisa dipakai untuk menghangatkan badan," katanya, mengenang masa sulit saat tiba di negeri impian. 


Dan karena Kota Philadelphia terkenal sebagai tempat untuk bekerja maka dengan bantuan teman, Melky bisa menghubungi agen tenaga kerja asal Surabaya. Tujuannya untuk mendapatkan pekerjaan. Usahanya berjalan lancar sebab dia akhirnya bisa bekerja 7 hari seminggu. Hal ini dilakukan selama setahun demi menguber “setoran”. Selanjutnya pada tahun kedua ekonominya sudah mulai membaik.


"Dan karena dari awal ingin menetap dan membawa anak-anak ke Amerika juga maka saya mencari jalan bagaimana caranya untuk bisa membawa dan tinggal di Amerika. Dari mulai bekerja  di pabrikan dan menjadi pegawai tetap hingga pada tahun 2007 ada kesempatan memulai usaha sebagai independent contractor Fedex, pengiriman barang lokal  mulai dari 1 truk bekerja sendiri hingga berkembang menjadi 20 truk dan mempekerjakan warga Amerika," katanya. 


Selain usaha Fedex juga punya usaha lain. Mobil towing. "Fedex saya jalani hingga tahun 2016. Lalu beralih usaha lain jual beli rumah dan remodelling hingga sekarang," katanya.


Kini kehidupannya sudah semakin makmur. Dia menikmati impian Amerika. Bahkan, Melky juga menjalani kehidupan sebagai pendeta di daerah Allentown, Whitehall Mennonite Church bersama pendeta wanita warga Amerika. 


"Kegiatan lain untuk mengisi kekosongan dengan menyalurkan hobi dan membentuk club motor gede bagi orang Indonesia di Phily bernama United Bike Club, dengan berjenis macam motor. Selain itu juga terdaftar sebagai anggota club motor di Indonesia yaitu Harley Davidson Club Indonesia-USA serta anggota Harley Davidson Biker International dari berbagai bangsa serta club dealer lokal Harley Owner Group. Pada tahun 2003, kami mempunyai anak cowok, kelahiran Philadelphia," katanya. (*) 


×
Berita Terbaru Update