-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Yang Tua Yang Masih Serba Bisa

Saturday, November 21, 2020 | 2:02 PM WIB Last Updated 2020-11-21T07:03:00Z

 

Edwin Kusuma dan Rita Gunawan adalah sepasang suami istri asal Indonesia yang bekerja sebagai sopir bus untuk perusahaan transportasi di Sydney, Australia bernama Busways.



Oleh Achmad Supardi*


TUA bisa jadi adalah fase yang dihindari, lalu  dijalani dengan keterpaksaan. Bagi yang lain, tua adalah fase wajar yang disambut dengan layak. Sepertinya benar, tua adalah soal jiwa. Tentang bagaimana kita melihat diri kita, hidup, dan garis akhir. 

Di Queensland (Australia) ini saya melihat banyak orang tua penuh semangat. Sopir bus, banyak di antara mereka adalah kakek dan nenek. Lincah, energik, dan sangat awas. 


Mereka menaklukkan medan Brisbane yang berbukit-bukit, berhenti di halte berkali-kali dan masih sempat turun untuk menyiapkan ramp (jembatan penghubung portable) bila ada penumpang (yang betul-betul) Lansia atau berkursi roda. Bukankah para sopir itu adalah juga lansia untuk ukuran Indonesia?

Di Stasiun Roma Street, stasiun kereta antar negara bagian tempat status ini dibuat, para lansia dengan sigap menyeret kopor mereka. Sebagian tubuh mereka --maaf-- sudah kendor. Tidak ada lagi sisa six pack atau sintalnya badan mereka. Sebagian malah sedikit tremor saat turun ke peron atau mengangkat kopor. Tapi mereka trengginas. Wajahnya optimistis dan gembira, seolah dengan lantang berkata, "Aku bisa".

Di Queen Street Mall dan sekitarnya, para lansia tak kalah energiknya. Para nenek berbedak dan bergincu. Mereka sadar pada perlunya berpenampilan baik. Tidak menor, tapi layak dilihat orang luar. Ketuaan mereka terpinggirkan. Semangat menikmati hidup, itu yang terpancar.

Di Zaraffa, Starbuck, Merlo, San Churro dan kedai-kedai kopi-penganan lainnya, mereka bercengkerama dengan sesama lansia. Mereka nongki. Mereka menikmati a slice of their life. 

Melihat mereka, saya teringat para lansia di negeri saya, Indonesia. Paman, bibi, para tetangga. Betapa mereka menjadi tua demikian cepatnya. 

Cepat sekali mereka memutuskan hanya tinggal di rumah saja. Mengambil alih pemeliharaan cucu dari para orangtua mereka. Merasa sudah beraktivitas hanya dengan berkebun satu atau dua jam sehari saja. Rajin ke masjid atau musholla, seolah hanya itu yang bisa dan layak dilakukan.

Tentu itu semua tidak salah. Bahkan mungkin baik dan bermanfaat. Tapi apakah hanya itu?

Banyak saya saksikan para orangtua langsung drop setelah pensiun. Mereka seperti kehilangan jati diri, bahkan eksistensi mereka. 

Sialnya, ini bukan hanya pola pikir mereka. Generasi yang lebih muda, anak-anak para lansia ini, punya pemikiran yang sama. Ayah-ibu mereka sudah tua. Nyetir sendiri dibatasi. Pergi berwisata dikira genit. Ambil kerja lain dinilai kemaruk. Lebih celaka, ada yang sok-sokan bertanya, "Memangnya pensiun bapak-ibu tidak cukup? Apakah pemberian kami masih kurang?"

Di Brisbane, sebagian kakek-nenek yang jadi sopir bus adalah juga pensiunan. Ada pensiunan tentara. Ada yang berhenti dari guru dan sebagainya. 


Ketika mereka nyetir sendiri tidak bisa disebut anaknya pasti tidak peduli. Ketika mereka berbelanja atau ngopi, dengan bedak dan gincu di wajah, bukan ganjen atau gak ngertiin tuanya. 


Mereka menikmati hidup karena memang hidup mereka belum berakhir. Kadang saya bertanya, apakah kita menyambut garis akhir terlalu awal, terlalu bersemangat hingga terlihat kendor dan bahkan ada masa hidup yang seperti tersia-sia?

Tentu tidak semua lansia di Indonesia seperti itu. Ada yang tetap menyunggi dulang berisi ketela, kacang tanah dan pisang rebus, menjajakannya dari kampung ke kampung dengan langkah lemah.

Ada yang di masa tuanya tetap mengayuh becak, terengah-engah karena tak bisa memakai hape dan mengepung jalan dengan jaket hijaunya.

Mereka ini memantik keharuan. Simpati. Bahkan sedih. Mengapa mereka harus terpaksa banting tulang seperti itu ketika tenaganya sudah merosot jauh? 


Tapi di sisi lain, semoga mereka termasuk lansia yang gembira. Yang masih menikmati (setidaknya menjalani) hidup mereka sepenuh tenaga. Mereka tidak terlalu awal menyongsong garis akhir mereka. Semoga ada kebahagiaan di sana, meski di hati saya yang tersisa hanya iba. (*)


* Achmad Supardi adalah dosen yang melanjutkan studi S3 di Australia.



×
Berita Terbaru Update