-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Semeru Masih Meletus, Setelah Kepala BNPB, Gubernur Khofifah, Kapolda, dan Pangdam Tinjau Lokasi Bencana

Thursday, December 3, 2020 | 2:30 AM WIB Last Updated 2020-12-02T19:30:04Z

 


LUMAJANG (DutaJatim.com) - Masyarakat diminta mewaspadai musim bencana alam. Saat ini terjadi erupsi Gunung Semeru yang hingga Rabu 2 Desember 2020 masih mengeluarkan awan panas guguran. Setelah letusan pada Selasa 1 Desember 2020 dini hari, kali ini luncuran awan panas melaju hingga sejauh 2,5 kilometer ke arah tenggara.

Semeru Masih Meletus, Setelah Kepala BNPB, Gubernur Khofifah, Kapolda, dan Pangdam Tinjau Lokasi Bencana 

Bencana akibat letusan Gunung Semeru mengakibatkan ratusan warga di sekitar lokasi mengungsi. Selain itu, area di kawasan puncak Semeru juga hancur diterjang lava panas. Sejumlah bangunan dan eskavator juga terkubur. Bahaya susulan mengancam warga saat lahar dari Gunung Merapi terbawa banjir akibat curah hujan tinggi. 

 

Karena itu Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur segera melakukan asesmen di wilayah rentan sekitar aliran lahar dingin Gunung Semeru. Tujuannya untuk memetakan lokasi aliran lahar sehingga lokasi tersebut harus dihindari masyarakat.


"Teman-teman masih mengasesmen wilayah-wilayah mana yang rentan terkena atau aliran lahar panas. Jadi masih kita petakan juga lahar panas akan meluber ke mana," kata Kasi Kedaruratan BPBD Jatim, Satriyo Nurseno, saat dikonfirmasi, Rabu, 2 Desember 2020.


Satriyo mengatakan asesmen itu dilakukan di wilayah Desa Curah Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, yang mana lahar dingin biasa mengalir. Menurutnya ke depannya BPBD bisa memetakan jalur-jalur untuk evakuasi jika kembali terjadi guguran lahar Semeru.


"Jadi asesmen itu untuk mengetahui evakuasi tercepat ke mana kalau terjadi lahar dingin lagi. Karena masyarakat setempat yang semalam di pengungsian pagi tadi kembali ke rumah untuk melaksanakan kegiatan masing-masing," jelasnya.


Selain untuk memetakan jalur evakuasi tercepat, asesmen yang dilakukan TRC BPBD Jatim itu juga untuk memetakan daerah yang perlu pemasangan rambu peringatan bagi masyarakat agar tidak mendekati lokasi itu. Kata Satriyo lahar dingin yang sekarang memenuhi Sungai Besuk di Desa Curah Kobokan, bisa kembali mengalir deras dan meluber ke sekitar lokasi sungai. "Apalagi kawah Gunung Semeru masih kemungkinan bergejolak," ujarnya.


Ahli vulkanologi, Surono, mengatakan hal senada. Saat musim hujan seperti sekarang masyarakat sekitar wilayah Gunung Semeru harus berhati-hati jika akan memasuki area Besuk Kobokan karena material awan panas masih sangat panas, meskipun bagus untuk bahan bangunan. "Hati-hati lahar hujan, utamanya mereka yang beraktivitas di dalam dan di bantaran sungai yang berhulu di Semeru," kata pria yang akrab disapa Mbah Rono ini. 


Sedang mengenai berapa lama Gunung Semeru meletus, menurut Mbah Rono, kejadian letusan sudah selesai. "Saya kira sudah selesai, enggak tahu lagi nanti,"  ucap dia. 

Namun, berdasarkan data Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru periode Rabu 2 Desember 2020 pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran satu kali, guguran 11 kali, dan tremor harmonik 2 kali.

 

"Dari data Pos PGA Semeru terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 2.500 meter ke arah tenggara. Status Gunung Semeru masih waspada, level II," kata Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo, Rabu (2/12/2020).


Luncuran awan panas tersebut masih jauh dari permukiman warga. Status Gunung Semeru masih waspada atau berada di level II. Secara visual Gunung Semeru tertutup kabut.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius satu kilometer. Lalu sejauh empat kilometer di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif. Itu merupakan jalur luncuran awan panas.


"BPBD mengimbau kepada masyarakat di sekitar Gunung Semeru tetap tenang dan menjaga kewaspadaan serta tidak melakukan aktivitas sejauh 4 kilometer di sektor lereng selatan-tenggara," pungkas Wawan.


Sebelumnya Selasa (1/12/2020) sekitar pukul 03.10 WIB, Gunung Semeru meletus. Ada 7 letusan yang terjadi hingga membuat ratusan warga di kaki Gunung Semeru mengungsi. Namun kemarin sebagian di antara mereka nekat kembali pulang ke desanya. "Sebagian besar warga trauma awan panas. Mereka melihat sendiri awan panas itu. Tapi ada yang kembali ke rumah lihat kondisinya rumah dan ternaknya," kata Rahmad, warga Supiturang, Rabu 2 Desember 2020.   


Warga Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo yang berada di kawasan rawan dampak bencana letusan Semeru memang hanya mengungsi di malam hari. Warga kembali ke rumah masing-masing pada pagi harinya untuk melihat kondisi rumah mereka. 


“Jadi warga mengungsi malam hari,” kata Asisten Administrasi Sekda Lumajang, Nugroho Dwi Atmoko, yang mendapat tugas dari Bupati sebagai pejabat koordinasi bencana Semeru saat dihubungi  Rabu (2/12/2020).


Masih kata dia, sosialisasi dampak bahaya dan kerawanan dari letusan terus disampaikan oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Warga hanya diminta tenang dan waspada. “Kita belum mendapat rekomendasi seperti apa dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) mengenai langkah penanganan,” paparnya.

Lokasi pengungsian utama di Lapangan Sekolah Dasar Sumberwuluh 04 di Dusun Kamar Kajar Kecamatan Candipuro. Untuk pengungsian sementara di Kecamatan Pronojiwo ada di SDN 04 Desa Supiturang dan SDN 04 Desa Oro-oro Ombo.


"Untuk dapur umum di Kamar Kajang dilakukan oleh PMI dan Supiturang oleh Dinas Sosial,” terangnya.


Untuk kawasan rawan bencana letusan dan guguran lava Semeru, tambah Nugroho, sudah disiagakan petugas dari TNI, Polri, relawan dan Tim reaksi Cepat (TRC) BPBD. “Semua disiagakan untuk mengantisipasi kegiatan warga di kawasan rawan bencana Semeru,” pungkasnya.


Seorang pekerja di kawasan pertambangan pasir yang sempat dilaporkan hilang pasca-erupsi Gunung Semeru, akhirnya ditemukan. Orang tersebut ternyata sempat ketiduran dan setelah terbangun dia menuju ke arah permukiman warga. "Tidak hilang, dia operator. Sudah ketemu," ujar Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim), Satriyo Nurseno, Rabu (2/12/2020). 


Satriyo membeberkan, penambang pasir tersebut ketiduran sebelum Gunung Semeru mengeluarkan lava pijar, abu vulkanik hingga awan panas guguran. Dia beruntung sebab material muntahan Gunung Semeru tidak mengarah kepada dirinya. Setelah terbangun si penambang ini bermaksud ke arah permukiman warga di Kecamatan Pronojiwo tapi justru tersesat. "Dia ketiduran, posisi bangun bingung jalan keluar tapi tersesat. Ditemukan kemarin sore," kata Satriyo.


Gubernur Kirim Bantuan 


Melihat kondisi tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengambil langkah cepat. Orang nomor satu di Jatim itu langsung memerintahkan BPBD Jatim  dan Dinas Sosial untuk mengirimkan bantuan  tenaga, peralatan maupun logistik untuk penanganan warga terdampak  erupsi termasuk  para pengungsi. 


“Bantuan yang diberikan di antaranya mengirimkan dua tenda pengungsian yang dilengkapi dengan Light Tower sebagai penerangan saat gelap. Termasuk juga pengungsian darurat dan dapur umum sedang kita siapkan,” ungkap Gubernur Khofifah di Bandara Juanda, sebelum melakukan misi dagang ke Palembang kemarin. 


Selain tenda dan light tower penerangan dari BPBD Jatim, dirinya juga memerintahkan untuk segera mengirimkan bantuan berupa sembako bagi para pengungsi. Bantuan tersebut terdiri dari 1 ton beras, 500 dos mie instan dan 200 liter minyak goreng. Lalu tambah gizi 120 paket, serta lauk pauk 120 paket. 


"Posko penguatan dari Pemprov menyatu di posko  pengungsian yang  berada di lapangan Kamarkajang Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang," terang Gubernur Khofifah. 


Tidak hanya itu saja, dalam rangka penanganan pencegahan di masa pandemi Covid-19, Gubernur Khofifah juga memerintahkan untuk menyertakan bantuan berupa handsanitizer 20 liter, disinfektan 20 liter, masker 5000 pcs, mobil Rescue 1 Unit dan mobil serbaguna 2 Unit. 


"Untuk membantu penanganan personil Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov. Jatim yang akan membawa berbagai peralatan pendukung penanganan bencana juga meluncur ke lokasi," ujarnya. 


Instansi terkait, seperti Dinas Sosial pun diharapkan berperan dalam penanganan  dampak erupsi  tersebut. Instansi tersebut mengirimkan dukungan peralatan dan bantuan logistik berupa tenda pengungsi 2 unit, famili kit 50 paket, kid ware 50 paket, food ware 50 paket, perlengkapan dapur keluarga 50 paket, paket sandang 50 paket, serta kasur 30 buah. 


"Bantuan tersebut kita arahkan langsung ke tempat pengungsian. Tentu semua kita koordinasikan dengan Bupati Lumajang," jelas Gubernur Khofifah. 

Tujuannya, sebut Gubernur Khofifah, untuk mendukung penanganan bencana dan membackup dapur umum darurat yang didirikan di sekitar tempat pengungsian. Setidaknya terdapat 250 hingga 500 warga terdampak erupsi Gunung Semeru  yang mengungsi. 


“Bantuan yang saat ini dikirimkan adalah sebagai langkah awal kesigapan Pemprov Jatim dalam menangani bencana alam. Nanti, akan ada bantuan-bantuan yang akan dikirimkan secara bertahap sesuai kebutuhan lapangan. Tetapi team leadernya tetap Bupati Lumajang,” ujarnya.


Secara umum, lanjut mantan Menteri Sosial RI, keadaannya aman. Informasi dari tim di lapangan  material sudah tidak mengalir lagi, kendati masih terdapat bau belerang. Tetapi semua pihak harus tetap waspada, dihawatirkan terjadi  aliran lahar panas jika turun hujan. "Mohon saling waspada,  menjaga jarak aman, dan tetap menjaga protokol kesehatan," ungkapnya. 

Semeru Masih Meletus, Setelah Kepala BNPB, Gubernur Khofifah, Kapolda, dan Pangdam Tinjau Lokasi Bencana 

Sementara itu, Letjen TNI Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), meninjau langsung kondisi beberapa daerah di Lumajang, yang terdampak erupsi Gunung Semeru, Rabu (2/12/2020) sore.  Heru Tjahjono, Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, juga mengabarkan bahwa Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V Brawijaya juga akan ke lokasi pada Jumat pagi (4/12/2020). 


Heru menambahkan, Pemprov Jatim sudah mendistribusikan sejumlah bantuan untuk warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru. Di antaranya, bantuan masker, kebutuhan dasar, dan alat-alat berat. Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan tempat evakuasi, dan mengirimkan bantuan personel ke lokasi pengungsian.


"Sebelum terjadi bencana ini, kami sudah mendapatkan arahan dari Bu Gubernur untuk koordinasi dengan Kabupaten/Kota untuk antisipasi penanganan bencana yang berbeda dengan sebelum ada Covid-19. Seperti, penyediaan bantuan masker, dan tempat evakuasi yang berbeda, untuk yang reaktif dan non reaktif. Kita sudah pernah melakukan simulasi sebelumnya,” ujarnya.


Menanggapi foto atau gambar yang banyak tersebar di media sosial terkait Gunung Semeru, Heru mengimbau agar masyarakat menyikapinya dengan bijak. Artinya, jangan mudah percaya dan ikut menyebarluaskan info yang belum tentu benar.


“Ya akhir-akhir ini banyak beredar foto soal Gunung Semeru. Padahal yang disebar itu hoaks, ada yang menggunakan foto Gunung Sinabung. Masyarakat menyikapi itu jangan langsung ditelan dan di-share lagi ke yang lain,” kata dia. (nas/det/ssn)

×
Berita Terbaru Update