-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Politisi Demokrat Minta Maaf Salah Membandingkan Biaya Pembangunan Museum SBY dan Makam Gus Dur

Sunday, February 21, 2021 | 3:49 PM WIB Last Updated 2021-02-21T08:49:42Z

 


JAKARTA (DutaJatim.com)  - Politikus Partai Demokrat Rachland Nashidik dinilai sembrono saat  mencuit di media sosial soal biaya pembangunan makam mantan Presiden RI Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Bahkan Rachlan mendapat somasi akibat cuitannya.  Dia pun kemudian meminta maaf.

Politisi Partai Demokrat itu mengaku kaget dengan somasi dari Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur) terhadap dirinya.


Barikade Gus Dur melayangkan somasi itu karena cuitan Rachland di Twitter terkait anggaran pembangunan makam Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid. 


Rachland menjelaskan, cuitannya itu bersumber dari pemberitaan media massa yang tautannya dia lampirkan. 

Dia pun mengaku telah membaca berita terbitan 2010 itu yang berisi rencana pengembangan area makam Gus Dur oleh pemerintah.

"Saya sudah membaca ulang twit saya dan menyadari bahwa tanpa membaca berita itu netizen bisa salah mengerti," kata Rachland dalam keterangannya, seperti ditulis Tempo.co, Sabtu, 20 Februari 2021.




Cuitan Rachland yang disomasi ini buntut dari polemik soal pembangunan Museum Kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono yang mendapat dana hibah Rp 9 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Rachland awalnya menjelaskan serta menanggapi kritik terhadap pemberian dana hibah itu.

Menurut Rachland dana hibah tersebut murni inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia kemudian membandingkan pembangunan Museum SBY dengan makam Gus Dur.

"Ketiga, sebagai pembanding, Anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?" demikian potongan cuitan Rachland yang kemudian dikritik Barikade Gus Dur.

Rachland menjelaskan, dalam berita yang ia cuitkan, tertulis bahwa pemerintah akan melengkapi kawasan makam Gus Dur dengan berbagai fasilitas, seperti tempat parkir, kamar mandi, pusat souvenir, museum, perpustakaan, pagar, bahkan perluasan dan pelebaran jalan.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat saat itu, Agung Laksono, di dalam rapat terbatas kabinet memperkirakan anggaran akan mencapai Rp 180 miliar.

Rachland berujar, pada intinya ia ingin menyampaikan bahwa ada penghargaan negara terhadap Gus Dur sehingga fasilitas di sekitar makamnya akan dibangun demi memudahkan para peziarah.

Ia mengatakan memang yang dibangun dengan uang negara bukanlah makam itu sendiri, melainkan fasilitas publiknya.

"Meski tidak juga bisa dibantah bahwa fasilitas yang melengkapi makam itu dibangun negara sebagai wujud penghormatan pada Presiden Abdurrahman Wahid. Saya memohon maaf," kata Rachland.

Rachland menganggap diri sebagai murid Gus Dur dalam ajaran kebhinekaan dan demokrasi.

Rachland mengaku dirinya termasuk anggota pengurus dari Forum Demokrasi yang dulu dipimpin oleh Gus Dur.

Mantan aktivis ini mengatakan hubungan personalnya dengan tokoh Nahdlatul Ulama itu juga dekat.

Bahkan, kata dia, Gus Dur merupakan salah satu dari beberapa senior yang menyumbang biaya pernikahannya pada 1996, selain Adnan Buyung Nasution, Rahman Tolleng, dan Sjahrir.

"Terus terang saja, mengingat kedekatan hubungan saya dengan Gus Dur, saya membayangkan, mungkin beliau akan meminta saya memberi penjelasan. Namun Gus Dur tak akan pernah mengadukan saya ke polisi, apalagi ingin melihat saya berada di balik bui," kata Rachland.

Seperti diketahui Barikade Gus Dur sebelumnya melayangkan somasi kepada Rachland karena cuitannya tersebut. Barikade Gus Dur menilai cuitan itu tendensius dan mengada-ada, sebab makam Gus Dur sepenuhnya dibiayai oleh keluarga.

Barikade Gus Dur pun mendesak Rachlan untuk mencabut pernyataan dan meminta maaf.

"Kami mendesak dengan tegas agar Saudara mencabut pernyataan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf, sebelum kami melakukan tindakan hukum," demikian tertulis dalam somasi untuk Rachlan Nashidik yang diperoleh Tempo dari Sekretaris Jenderal DPP Barikade Gus Dur Pasang Haro Rajagukguk.

Selain Barikade Gus Dur, cuitan Rachland ditanggapi Allisa Wahid, salah satu putri Gus Dur. 

Menurut Alissa Wahid, sampai saat ini makam Gus Dur dibiayai oleh keluarga Ciganjur.

"Bang @RachlanNashidik, makam #GusDur sampai saat ini dibiayai oleh keluarga Ciganjur, termasuk prasasti. PP Tebuireng pun hormati ini. Dana Negara tidak untuk makam tetapi utk jalan raya, lahan berjualan warga. Maklum, ada 1,5-2 juta peziarah setiap tahun. Negara urus ini," ujar Allisa dalam cuitannya pada Sabtu, 20 Februari 2021.

Alissa Wahid juga menyebutkan tidak ada dana pemerintah untuk museum #GusDur. "Yang ada bantuan untuk Museum Islam Nusantara, setahu saya disepakati Gus Sholah dengan Pemerintah sebelum Gus Dur wafat," tulis Allisa.

Terkait bantuan pemerintah, Allisa menyebut soal bantuan ke Tebuireng.

"FYI, tiap bulan makam Tebuireng terima sedikit (banget!) bantuan dari Pemerintah, untuk mengelola makam Pahlawan Nasional yaitu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari & KH Wahid Hasyim. Makam #GusDur tidak termasuk. Jadi next time lebih hati2 ya, @RachlanNashidik. Jangan asal," ujar Allisa.

Selain menyentil Rachlan, Allisa juga menegaskan tidak perlu ada somasi untuk Rachland.

"Saya telah meminta Barikade GusDur untuk meralat rilis mereka, sebab Keluarga Ciganjur tidak berencana somasi. Bung @RachlanNashidik harus diingatkan, itu saja. Diingatkan bahwa kalau kesrimpet begini lagi, jadi liability buat @PDemokrat," ujarnya menjawab netizen.

Selain itu, Allisa juga menggarisbawahi bahwa kita perlu belajar menerima perdebatan dengan lebih santai, sepanjang tidak menciderai harkat martabat kemanusiaan atau kabar bohong.

"Saya menduga bung Alan nggak tahu info saja, keburu ngegas. Jadi ya, itu maksimal kategori khilaf, bukan jahat," tegas Allisa.

Terkait pernyataan Allisa Wahid, Jaringan GUSDURian menyatakan tidak menuntut atau melakukan somasi.

"Insya Allah keluarga inti dan keluarga besar Jaringan GUSDURian tidak menuntut/somasi, sebagaimana ditwit oleh Mbak Alissa Wahid @AlissaWahid," cuit akun @GUSDURians. (bc/TMP)




×
Berita Terbaru Update