Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Paceklik Panjang, Ayo Hemat Air Bro!

Thursday, August 24, 2023 | 08:27 WIB Last Updated 2023-08-24T01:27:19Z


 Thariq Harun Al Rasyiid S.Tr, Prakirawan BMKG Juanda.


SURABAYA (DutaJatim.com) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi warning terkait ancaman  perubahan iklim  berupa kenaikan temperatur bumi yang berisiko memicu krisis air. Dampak lanjutan dari kondisi ini menimbulkan kerentanan terhadap ketahanan pangan dunia, termasuk di Indonesia. Ya, Paceklik Panjang,  Ayo Hemat Air Bro!


Terkait hal itu, Thariq Harun Al Rasyiid S.Tr,  Prakirawan BMKG Juanda, kepada DutaJatim, Rabu (23/8/2023), mengingatkan agar warga Jawa Timur (Jatim) juga mewaspadainya.   "Saat ini tentunya patut diwaspadai di wilayah Jawa Timur sudah memasuki  puncak musim kemarau yang mana terjadi potensi kekeringan di sebagian besar wilayah Jawa Timur," katanya. 


Thariq Harun mengatakan, bila dilihat dari Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di Jatim pada umumnya dalam kriteria “Sangat Panjang”. Kekeringan ekstrem terjadi di kabupaten/kota, seperti Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Jombang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Sidoarjo,  Situbondo, Surabaya, dan Tuban .


Untuk itu dia menyarankan masyarakat memanfaatkan sumber air yang ada secara efektif dan efisien. Dia pun menghimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air, termasuk untuk pertanian.


Selain itu dia juga menyarankan agar warga menanam pohon atau reboisasi sebab dengan semakin banyak pohon maka cadangan air semakin banyak pula yang bisa tersimpan secara alami.


"Kami juga menghimbau untuk mengantisipasi dampak kekeringan ini agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan tanpa pengawasan. Sebab hal itu bisa mengakibatkan kebakaran lahan gambut.  Lalu perbanyak pula konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi," katanya.


Lantas sampai kapan kekeringan ekstrem ini akan melanda Jatim dan secara umum di seluruh wilayah Indonesia? "Untuk saat ini hingga nanti akhir Agustus masih akan terdampak. Sedang soal apa perlu dilakukan rekayasa cuaca agar turun hujan, sampai saat ini masih belum ada arahan atau kesepakatan terkait rekayasa cuaca yang mana kondisi ini nantinya akan terus kami pantau ke depannya," katanya.


Bagaimana dengan kondisi udara di Surabaya dan sekitarnya? Apa juga perlu diwaspadai tingkat bahayanya terkait polusi udara? Dia menyebut kondisi Kota Pahlawan sekarang belum separah DKI Jakarta. "Untuk saat ini wilayah Surabaya masih terkendali," ujarnya.


Krisis Pangan Dunia


Sebelumnya BMKG mengungkapkan kenaikan temperatur bumi berisiko memicu krisis air. Krisis air ini berisiko menimbulkan kerentanan ketahanan pangan.


Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan bumi diprediksi mengalami peningkatan kerentanan pada stok pangan dunia pada tahun 2050. "Itu melanda hampir semua negara, termasuk Indonesia," tegas Dwikorita, Senin (21/8/2023).


Bahkan, FAO memprediksi lebih dari 500 juta petani skala kecil yang memproduksi 80 persen stok pangan dunia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.


"Jadi dampak perubahan iklim selain kenaikan permukaan air laut, lahan yang semakin sempit, pangan pun semakin berkurang. Kita mau impor beras dari mana, semuanya lebih parah dari Indonesia," kata Dwikorita.


Seperti diberitakan  DutaIndonesia.com  sebelumnya, sejumlah negara penghasil beras dunia mulai menyetop ekspor komoditas ini. Hal itu disebabkan produksi menurun akibat musim panas yang ekstrem.

 

Sementara itu, di dalam negeri, harga beras sejak Juli 2023 lalu hingga saat ini terus merangkak naik. Bertolak pada kenyataan inilah Pemerintah diharapkan dapat mengantisipasi agar harga beras tidak melonjak hingga membuat masyarakat sengsara akibat musim kemarau panjang tersebut.


“Harga beras di Surabaya terus merangkak naik. Paling banyak kenaikan itu terjadi pada Agustus 2023 ini. Sejak awal bulan ini, kenaikannya sangat dirasakan. Rata-rata kenaikan itu sebesar 1.000 per kilogramnya. Ini kenaikan yang cukup besar,” kata Agus, Pedagang Beras di Pusat Pasar Beras Bendul Merisi, Surabaya, kepada DutaIndonesia.com  Kamis (10/8/2023) siang.


Dwikorita memperkirakan kenaikan temperatur suhu bumi dalam mencapai 3,5 derajat Celcius, jika tidak ada intervensi dari berbagai pihak.  "Saat ini sudah naik 1,2 kejadiannya ekstrem, semakin ekstrem. Kalau enggak ada mitigasi, kenaikannya bisa mencapai 3,5 derajat celcius. Berarti berapa kali lipat dari sekarang, kondisi ekstrem mungkin sudah menjadi kenormalan baru," ujarnya.


Untuk Indonesia, kata Dwikorita, menginjak tahun 2000-an suhunya semakin panas. Kondisi ini terlihat kecenderungan kenaikan suhu yang seragam dengan tingkat kenaikan yang bervariasi.


Faktanya, suhu rata-rata tahunan 1951-2021 terdapat tren peningkatan temperatur yang seragam, dengan laju yang bervariasi di wilayah berbeda.  "Laju peningkatan terbesar ada di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera bagian selatan, dan area Jakarta dan sekitarnya. Beberapa area mengalami peningkatan hingga 0,15 derajat per 10 tahun," kata Dwikorita dikutip dari CNBCIndonesia.com. (gas/fan)


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update