Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Haul ke-55 Mbah Wahab Chasbullah: Meneladani Perjuangan Mendirikan NU dengan Ketulusan

Sunday, May 10, 2026 | 06:38 WIB Last Updated 2026-05-09T23:38:25Z




JOMBANG (DutaJatim,com) - Puncak Haul Ke-55 KH Abd. Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) digelar Ahad (10/5/2026) hari ini dengan agenda pengajian umum oleh KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dan KH Mushoddiq Fikri Farouq (Gus Fikri). Kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Yayasan Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Puncak Haul ini juga dihadiri beberapa tamu penting, di antaranya Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.  


Anggota Steering Committee (SC) Haul Ke-55, Abdul Wahab mengundang para santri, alumni Pondok Pesantren Bahrul, dan warga NU secara umum untuk ikut menghadiri acara Haul, guna tabarukan kepada Mbah Wahab, memperkuat sanad keilmuan, menyambung silaturahim, sekaligus meneladani perjuangannya, tak terkecuali pengabdiannya di Nahdlatul Ulama (NU). 


"Untuk itu monggo hadir dan tabarukan kepada Mbah Wahab," kata Gus Wahab, sapaan akrabnya. 


Haul kali ini juga menjadi kesempatan bagi Nahdliyin khususnya, untuk kembali meneguhkan khidmahnya kepada NU, terutama menjelang digelarnya Muktamar NU yang rencananya dijadwalkan berlangsung tahun ini. Gus Wahab mengingatkan bahwa NU didirikan oleh Mbah Wahab bersama ulama-ulama yang lain melalui perjuangan dan ketulusan. Mereka menjadikan NU sebagai wadah pengabdian untuk perbaikan-perbaikan berbagai sektor, mulai dari keterlibatan membangun negara, menguatkan pemahaman keagamaan masyarakat, meneguhkan sektor pendidikan, ekonomi, hingga peran penting lainnya. 


"Yang beda dari Haul tahun ini karena bertepatan dengan mau adanya Muktamar Ke-35 NU. Mari kita kembali mengingat akan perjuangan Mbah Wahab, bagaimana mendirikan, membesarkan NU, dan membumikan NU untuk kemaslahatan umat," katanya. 


KH Abdul Wahab Hasbullah merupakan salah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional yang diberikan oleh Presiden Jokowi 

pada 7 November 2014.


Salah satu cucunya, KH Hasib Wahab yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjelaskan, KH Wahab Hasbullah banyak berkontribusi dalam perjuangan, baik sebelum kemerdekaan Republik Indonesia maupun sesudah kemerdekaan.


Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah yang lahir di Jombang pada 31 Maret 1888 merupakan pendiri Nahdatul Ulama bersama KH Hasyim Asyari. Ayahnya, KH Hasbulloh Said, merupakan pengasuh Pesantren Tambakberas di Jombang, Jawa Timur, sedangkan ibunya bernama Nyai Latifah. 


Sosok Mbah Abdul Wahab Hasbullah juga dikenal sebagai pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik dari lingkungan NU, Muhammadiyah, hingga organisasi lainnya. Ia mengenyam pendidikan di berbagai pesantren seperti Pesantren Mojisari di Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, hingga Pesantren Tebuireng di Jombang. Tak berhenti di situ, Abdul Wahab Hasbullah melanjutkan pendidikan hingga ke Makkah untuk berguru pada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dan mendapatkan hasil nilai yang istimewa.


Sepulangnya dari Makkah pada 1914, Abdul Wahab Hasbullah kembali mengasuh pesantrennya di Tambakberas. Selain mengasuh pesantren, Abdul Wahab Hasbullah juga aktif dalam melakukan pergerakan nasional karena tidak tega melihat kondisi bangsa yang mengalami kemerosotan hidup, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun kemerdekaan karena penindasan dari para penjajah.


Dalam mengatasi permasalahan bangsa ini, Abdul Wahab Hasbullah mendirikan organisasi pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) pada 1916. Untuk memperkuat pergerakan ini, Abdul Wahab Hasbullah juga mendirikan Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Saudagar) yang berfungsi sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam serta kemerdekaan Indonesia pada 1918. Organisasi ini dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari, sedangkan Abdul Wahab Hasbullah menjabat sebagai sekretaris sekaligus bendahara.


“Sebelum mendirikan NU bersama KH Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab mendirikan Madrasah yang diberi nama Nahdlatul Wathan, yang berarti Bangkitnya Tanah Air. Pendirian Nahdlatul Wathan ini merupakan bukti dari cita-cita Mbah Wahab untuk membebaskan bangsa dari penjajahan kolonial Belanda,” ujar Hasib Wahab saat memberikan sambutan dalam bedah buku KH Wahab Hasbullah di tengah penyelenggaraan Muktamar NU 2015 di Jombang.


Nahdlatul Wathan merupakan salah satu bukti perjuangan KH Wahab Chasbullah untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang lebih dahulu muncul sepuluh tahun sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Wathon kalau diterjemahkan sekarang adalah sekolah kebangsaan.



KH Wahab adalah sosok penggerak. Namun demikian ia tidak mendahului kehendak ulama gurunya. Beliau mengusulkan untuk mendirikan NU, tapi Mbah Hasyim mengatakan bahwa dirinya akan istikharah dulu. Dan Kiai Wahab pun manut gurunya.


Salah satu peninggalan penting dari KH Wahab adalah mars Yahlal Wathon. Tahun 1916 mars ini wajib dinyanyikan sebelum sekolah di Nahdlatul Wathon. Salah satu syair yang paling penting adalah Wala takun ahlal hirman, jangan kalian menjadi bangsa terjajah.


Setelah membentuk Nahdlatul Wathan, KH -Abdul Wahab Hasbullah lalu membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1919, di mana hal ini dikarenakan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia semakin pelik.


Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.


Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.


Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpentingnya kepada kaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.


Fatwa Resolusi Jihad


Selain itu KH A Wahab Hasbullah juga aktif berkiprah sebagai penasehat di Masyumi yang beranggotakan dari kalangan NU dan Muhammadiyah. Sebelumnya ia juga ikut mendirikan MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) bersama K.H. Achmad Dahlan (Muhammadiyah) dan K.H. Mas Mansur (non-partai) karena didorong oleh kesadaran perlu menciptakan suasana hubungan yang baik antara partai dan organisasi-organisasi Islam saat itu.


MIAI didirikan di Surabaya pada tanggal 12 September 1937, namun pada bulan Oktober 1943 dibubarkan Jepang karena dianggap membahayakan kedudukan Jepang.


Sarekat Islam (SI) adalah pergerakan yang beliau dirikan selanjutnya bersama rekan-rekannya ketika masih menuntut ilmu di Makkah. Pergerakan ini bukan sekadar mengumpulkan cendekiawan dari kalangan Islam tanah air, juga ingin memajukan kaum Islam yang rendah ekonominya dan rendah pengetahuannya.


Pada masa revolusi kemerdekaan KH Wahab juga turut serta dalam proses keluarnya Fatwa Resolusi Jihad. Ketika fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asy’ari, dalam pertemuan ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya pada 22 Oktober 1945, Kiai Wahab yang waktu itu menjadi Khatib Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan.


Fatwa tersebut akhirnya menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November, untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng NICA alias Sekutu. 


Dengan catatan sejarah panjang perjuangan KH Wahab Hasbullah terhadap bangsa ini, maka Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional. 


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update