Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tekan Penyakit Tidak Menular, CISDI Ajak Masyarakat Dukung Petisi Cukai MBDK

Sunday, September 27, 2026 | 09:26 WIB Last Updated 2026-09-27T02:27:14Z

 

Ika Nindyas Ranitadewi, analis kebijakan pangan CISDI (tiga dari kanan).



SURABAYA (DutaJatim.com) - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) ajak masyarakat mendukung petisi pemberlakuan cukai makanan berpemanis dalam kemasan (MBDK). 


Ajakan ini disampaikan Ika Nindyas Ranitadewi, analis kebijakan pangan CISDI usai menjadi salah satu  pembicara dalam diskusi Pangan Sehat Cuma Buat Orang Have? Membongkar Fakta di Balik Makanan Kemasan dan Hak Pangan Sehat Kita di Plaza Airlangga, Kampus C Unair, Kamis (24/9/2026).


Ika menyebut, pihaknya getol menggolkan petisi itu didasarkan keprihatinan di mana 9 dari 10 produk pangan kemasan yang beredar di Indonesia tergolong tidak sehat dibanding model profil gizi yang paling baik. Temuan ini didasarkan analisis terhadap 8.077 sampel produk makanan dan minuman kemasan yang dikumpulkan dari delapan supermarket dan minimarket di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar


Dikatakan tidak sehat karena pangan kemasan itu memiliki kandungan gula, garam, atau lemak (GGL) berlebih, atau mengandung pemanis non-gula yang berisiko jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang. 


Konsumsi MBDK di Indonesia meningkat 15 kali lipat antara 1996 (51 juta liter) dan 2014 (780 juta liter). 


"Kenapa cukai, karena konsumsi gula berlebih akan berkontribusi pada kesehatan kita, peningkatan berat badan bahkan overweight yang dalam jangka panjang akan menyebabkan penyakit tidak menular. Adanya cukai akan menurunkan keterjangkauan masyarakat," ujarnya. 


Penyakit tidak menular (PTM) ini tidak kalah cepat juga mematikan. Kalau dulu yang dikhawatirkan mematilkan adalah penyakit menular seperti TBC, malaria, kini yang banyak mematikan justru PTM seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal. Dan klaim pembiayaan BPJS Kesehatan terbesar muncul dari penyakit-penyakit tersebut.


Pada 2021 terdapat 19,5 juta orang penderita diabetes di Indonesia dan diprediksi akan meningkat jadi 28,6 juta pada 2045.


Karena itulah CISDI mendorong pemerintah untuk menerapkan regulasi untuk pangan sehat. Selain mengimplementasikan cukai pada MPDK, juga menerapkan label peringatan depan kemasan seperti makanan/minuman ini tinggi gula atau tinggi garam, serta pembatasan perusahaan.


Sementara guru besar bidang ilmu gizi/kesehatan masyarakat dari Unair,  Prof Trias Mahmudiono SKM, MPH (Nutr.), GCAS, PhD, menyatakan pangan sehat adalah hak setiap anggota masyarakat. Melihat hasil 9 dari 10 MBDK tidak sehat, bisa dibayangkan masyakat seolah tidak memiliki pilihan makanan yang sehat. 


"Kalau itu dibiarkan, seolah kita tidak berpihak ke masyarakat. Kita itu inginnya  menggunakan Model Profil Gizi (Nutrient Profile Models/NPM) sebagai standar paling bagus. "Bahwa susu kemasan yang beredar nanti benar-benar susu bukan cuma sebagian isinya susu, biar masyarakat tidak salah ambil. Ini nggak papa ini sehat (karena susu), padahal nyatanya enggak," ujarnya.


Saat membuka diskusi Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair, Prof Dr Ratna Dwi Wilandari SKM MKes mengatakan, persoalan pangan ini menarik karena fakta sekitar kadang justru yang tidak sehat itu mudah didapatkan dan murah. Apalagi ditunjang promo. 


Namun ia menggarisbawahi, pengendalian makanan kemasan tinggi gula garam lemak. "Dulu tdk relevan karena penyakit stroke, diabetes, jantung koroner munculnya pada lansia, lalu 10 tahun lalu munculnya pada lansia awal. Sekarang prevalensi diabetes hipertensi banyak dijumpai pada usia muda, generasi muda kita. Mereka  rentan kena penyakit degeneratif sekarang mungkin nggak papa, nggak tahu 5 atau 6 tahun lagi," ujar Ratna.(ret)




No comments:

Post a Comment

Bisnis

Bisnis
×
Berita Terbaru Update