Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Livi Zheng dan 'Sisi Gelap'-nya Versi Tirto.id

Saturday, September 7, 2019 | 10:48 WIB Last Updated 2019-09-07T03:48:03Z

Ilustrasi berita tirto.id: "Sisi Gelap Surga Livi Zheng: Koneksi Bisnis Bapaknya di Kemayoran."


JAKARTA (DutaJatim.com) - Laporan tirto.id berjudul "Sisi Gelap Surga Livi Zheng: Koneksi Bisnis Bapaknya di Kemayoran" itu menarik perhatian publik. Maklum artikel ini muncul di tengah Livi Zheng akhir-akhir ini menjadi magnet media. Secara jurnalistik tentu sangat bagus mengupas Livi Zheng yang namanya jadi perbincangan  tersebut.  

Tirto.id pun mengupas sisi lain dari Livi Zheng yang disebutnya "sisi gelap". Tirto.id menilai Livi Zheng mendapatkan sorotan berlebihan sebagai sineas. Padahal aslinya: ada jaringan bisnis serba tertutup di belakangnya.

Media ini mengawali dengan pertanyaan standar dari sisi jurnalistik. Siapa Livi Zheng? Mengapa dia terlihat dekat dengan para pejabat tinggi Indonesia? Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kapolri Tito Karnavian, Ketua DPR Bambang Soesatyo, hingga Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan tampak girang mempromosikan filmnya. Begitu juga sejumlah artis dan sutradara film Indonesia.

Reputasinya terkesan dibesar-besarkan—dan untuk itu tirto.id mengajak pembacanya  melongok pada industri kehumasan di belakangnya, sehingga berita soal Livi seolah ditelan bulat-bulat oleh media serta terpampang di media sosial—sampai-sampai kita lebih tahu namanya ketimbang (kualitas) film-film yang diproduksinya. 

Selanjutnya tirto.id menceritakan proses reportasenya sebagai berikut: 

Nama asli Livi adalah Livia Notoharjono. Jejak itu kami dapatkan dari akun Facebook adiknya, Ken Wiratheda Zheng, yang mengunggahnya pada 2 Maret 2014.

Atas petunjuk awal itu, kami mendapati iklan berita duka di Harian Kompas. Isinya, kabar kakek Livi, Yoseph Noto Hardjono atau The Khing Bo, meninggal dunia pada 17 Juli 2012. Di situ tertera Livi tengah menempuh sarjana di Amerika Serikat; sementara Ken bersekolah di Tiongkok. (tirto.id menyertakan tautan berita online itu tapi kemudian sudah nonaktif. Namun demikian tautan itu  terarsip rapi di servernya).

Selanjutnya diceritakan: 

Ayah Livi bernama Gunawan Witjaksono atau akrab dikenal sebagai The Hok Bing, sementara ibunya bernama Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing. Melalui akses data terbuka lainnya, kami mendapati informasi Livi kelahiran Malang, Gunawan Blitar, dan Lilik Tangerang. 

Rumah Produksi Sun and Moon FilmsLilik Juliati berperan mencangkok masa awal karier Livi pada musim panas 2012. Saat itu Livi, berusia 25 tahun, dikenalkan sebagai sutradara, pemeran utama, sekaligus penulis naskah film Brush with Danger. Livi disebut-sebut mengurusi ratusan kru dan pemain film yang umurnya melampaui dirinya.

Untuk memfasilitasi debut Livi, Lilik mendirikan perusahaan rumah produksi Sun and Moon Films Limited Liability Company (LLC), yang didaftarkan ke divisi korporasi sekretaris negara Washington, Amerika Serikat, pada 13 Maret 2012. Perusahaan ini bergerak di bidang hiburan, seni, dan rekreasi. (tirto.id menyertakan arsip perusahaan di Washington yang bisa diakses di lamannya).
Dalam arsip sertifikat pembentukan perseroan terbatas itu, Lilik Juliati bertindak sebagai pendiri sekaligus gubernur atau serupa direktur perusahaan. Ia mencantumkan alamat surel livikenzheng@gmail.com, nama gabungan Livi dan Ken. Sementara 'Zheng' disematkan menjadi nama belakang keduanya.

Alamat Lilik di daerah Cinere Mas Tangerang, Banten. Sementara alamat Sun and Moon Films semula di Seattle, kota terbesar di Washington. 

Dalam dokumen laporan awal, 14 Juni 2012, Lilik menambahkan nama Zane Thomas sebagai manajer alias pengawas kerja harian yang melaksanakan instruksi direktur perusahaan. Alamat Zane disamakan dengan Sun and Moon Films. Zane adalah produser eksekutif Brush with Danger.
Tak lama, Sun and Moon Films dipindahkan ke apartemen di Everret, Washington, berdasarkan laporan tahunan pada 4 September 2013. Surel perusahaan itu diubah menjadi zane@sunandmoonfilms.com. Namun, dalam laporan tahunan selanjutnya (2014 sampai 2017), alamat email perusahaan kembali ke semula.

Tahun selanjutnya, perusahaan itu dipindahkan lagi tapi dengan alamat ganda. Pada 2015 ke pinggiran kota Tukwila, Washington, dengan alamat khusus surat-menyurat di Spokane County, sebuah daerah yang angka rata-rata kematiannya lebih tinggi daripada negara bagian Washington dan Amerika Serikat.

Dalam laporan terakhir, 26 April 2019, Sun and Moon Films dipindahkan kembali ke wilayah Seattle, dengan alamat surelnya diubah menjadi sunandmoonfilmusa@gmail.com. Alamat rumah produksi itu berbeda dengan keterangan yang dicantumkan dalam Linkedin perusahaan, yakni Sunset Boulevard, LA, sekitar 4 mil dari Dolby Theatre, tempat penganugerahan Piala Oscar alias Academy Award. 

Tak sekalipun tercantum nama Livi dalam seluruh rentetan laporan perusahaan rumah produksi tersebut. Namun, peran sang mama telah menopang di belakang layar karier Livi sebagai sutradara sejak Juni 2012 hingga sekarang. 

Melalui rumah produksi Sun and Moon Films itulah nama Livi dan filmnya dipromosikan secara berlebihan hingga mengarah ke halusinasi. 

Melalui surel publicity@sunandmoonfilms.com, jurnalis dikecoh, Livi dikabarkan bertaruh untuk berebut satu atau lebih Piala Oscar. Misalnya, pose adiknya, Ken Wiratheda Zheng, di atas karpet merah di depan patung Piala Oscar saat Academy Award ke-86 pada 2 Maret 2014, seakan-akan penampakan itu meneguhkan legitimasinya sebagai nomine Oscar . Padahal, tentu saja, Livi tak pernah sekalipun masuk dalam nominasi Oscar.

Academy Award ke-86 pada 2014 untuk merayakan film-film unggulan industri Hollywood dan dunia yang dirilis tahun 2013. Sementara Brush with Danger, yang dibikin Livi, baru dirilis pertama kali pada 19 September 2014 di New York, lalu ditayangkan di Los Angeles pada 26 September 2014. Artinya, kehadiran Livi dan Ken di ajang Piala Oscar ke-86 sama sekali tak ada kaitan dengan film yang mereka buat.

Bermimpi masuk Oscar tentu sah-sah saja bagi sutradara dan produser film, bahkan mungkin impian basah bagi semua sutradara dan aktor dan aktris. Tetapi, dalam perkara Brush with Danger, film ini buruk saja belum: menuai pendapat tajam dari jurnalis, salah satunya dari Simon Abrams, kritikus film untuk The New Yorker dan Esquire. Brush with Danger, tulis Abrams, adalah film rasis, membingungkan, dan seluruh koreografinya buruk.

Dekat Penguasa

Ayah Livi, Gunawan Witjaksono, mungkin sosok paling "bertanggung jawab" dari kecermelangan putrinya di media. Melalui perantara istrinya, Gunawan membeli rumah Pazrica M Cho di kawasan mewah Los Feliz Boulevard, LA, California. 

Harga properti seluas 0,390 hektare yang dibangun tahun 2005 itu sekitar 2,449 juta dolar. Berdasarkan penampakan satelit, rumah bercat cokelat dan putih itu memiliki satu kolam renang.
Jarak rumah itu dan Sun dan Moon Films, jika mengacu alamat dalam akun Linkedin, hanya 1,8 km atau sekitar empat menit menggunakan mobil. Akan tetapi, jika alamat Sun and Moon LLC disesuaikan dengan dokumen formal, jaraknya sekitar 1817 km.

Nama Gunawan Witjaksono alias The Hok Bing mengentak jagat politik Indonesia sejak 2006. Masih berumur 42 tahun saat itu, ia menjadi direktur utama PT Theda Pratama, lalu membentuk PT Theda Persada Nusantara (TPN) dengan cara menggandeng PT Dana Pensiun Perkebunan.
Wakil direktur PT TPN adalah Mohammad Rizki Pratama, anak pertama presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri.


Gunawan dan Rizki mendapatkan izin mengelola sekitar 31,2 hektare lahan milik negara di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Perizinan mulus di tangan Bambang Kesowo, menteri sekretaris negara sekaligus ketua Badan Pengelola Kompleks Kemayoran. 

Sesuai perjanjian kerja sama yang ditandatangani notaris Ratna Sintawati Tantudjojo pada 29 Juli 2003, lahan bekas bandar udara itu akan disulap menjadi kawasan Chinese Centre. Isinya, 10 blok kawasan belanja, hypermarket, apartemen, perkantoran, dan sentra bisnis modern lain. 

Dugaan kongkalikong antara pengusaha dan anak penguasa di balik proyek tersebut jadi sorotan media. Bau nepotisme menguat, sebab tanpa melalui proses tender dan dibeli di bawah nilai jual objek pajak. Politisi di DPR bahkan menunjuk Effendy Choiri untuk menjadi Ketua Panja Kemayoran buat menelisik kecurigaan tersebut.

Selain itu, sekitar 125 ribu pensiunan dari perusahaan perkebunan negara resah karena dana mereka sebesar Rp135 miliar terserap ke mega proyek China Center Kemayoran, khususnya untuk pembangunan Hotel Park Plaza. Pelbagai hambatan membuat hotel itu tak kunjung dibangun. PT Theda Pratama dituding melakukan penggelapan dana pensiun pegawai perkebunan. Lalu apa lagi?

Selengkapnya di sini: 

https://tirto.id/sisi-gelap-surga-livi-zheng-koneksi-bisnis-bapaknya-di-kemayoran-eg3Y

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update