-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MENTAL KALAU

Selasa, 29 Oktober 2019 | 03.00 WIB Last Updated 2019-10-28T20:00:09Z

Oleh Ustadz Arafat

DAVID WOTTLE adalah seorang atlet untuk cabang olahraga atletik yang dikenal suka memakai topi golf ketika bertanding di lapangan.

Wottle semakin terkenal setelah kemenangannya yang dramatis pada cabang lari 800 meter di Olimpiade musim panas 1972 di Munich. Karena pada pertandingan itu, ia tidak diunggulkan.
Terbukti, sejak detik pertama berlari posisinya selalu berada paling belakang. Bahkan hingga berlalu satu menit, dengan jarak sudah terlewat 400 meter, Wottle tetap belum bisa melewati satu orang lawan pun.

Meski demikian Wottle masih berlari. Baginya, ia hanya perlu terus bergerak. Menjadi orang yang berada di urutan paling akhir tak menyurutkan semangatnya. Perlahan-lahan, pelari asal Amerika itu mempercepat langkahnya.

Satu demi satu ia mulai menyusul lawannya. Hasilnya, ketika garis finish telah terlihat semakin dekat, ia sudah berada pada posisi tiga besar. Dan tepat pada detik ketika ia menginjak garis finish, ia sukses menjadi yang terdepan meski selisihnya hanya 0,03 detik dengan pelari berikutnya!

Di titik manapun kita memulai, yang terpenting adalah teruslah bergerak. Pada keadaan serendah apa pun kita memulai, peluang keberhasilan selalu ada. Demikianlah spirit seorang Wottle.

Kenyataannya, masih banyak orang-orang yang tidak mau memulai karena dirinya masih berada di posisi terendah. Mereka baru merencanakan sebuah perubahan kalau segala sesuatunya sudah ideal menurut pandangannya.

Saya akan mulai rajin shalat berjamaah, kalau rumah saya sudah dekat dengan masjid.
Saya akan menerima tawaran pekerjaan, kalau sudah menemukan perusahaan yang berani memberi posisi cukup tinggi. 

Saya akan mulai merintis usaha kalau keluarga saya siap memberi modal yang besar. Dan seterusnya. 

Apa yang terjadi? Seumur hidup kita tak pernah shalat berjamaah ke masjid, dan tak pernah merintis karir sebagai seorang karyawan maupun wirausaha. Semua ini penyebabnya adalah mental kalau yang berada dalam diri ini. 

Jika Wottle juga berprinsip ia akan sungguh-sungguh berlari kalau posisinya sudah terdepan, mungkin ia tak akan pernah meriah emas Olimpiade hingga hari ini. Tetapi Wottle tetap berusaha, meski harus memulai dari posisi paling belakang. 

Jauh sebelum Wottle, ribuan tahun silam Nabi Nuh juga memulai pembuatan perahu dengan persiapan yang seadanya. Karena ketika menerima perintah Allah tersebut, Nabi Nuh bukanlah seorang ahli perkapalan. Beliau juga tak punya peralatan perkakas yang lengkap. 

Meski memulai dengan ala kadarnya, Nabi Nuh tetap bersungguh-sungguh. Dan akhirnya sejarah mencatat ternyata perahu itu kelak yang menyelamatkan semua orang-orang beriman pada masa itu. 
Jangan lupakan pula seorang Sahabat yang baru masuk Islam tiga tahun sebelum wafatnya Rasulullah. Itupun dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan karena beliau tak memiliki tempat tinggal dan hidup di serambi masjid sebagai ahlus suffah.

Namun keadaan seperti itu tak menyurutkan semangatnya. Beliau tetap bersemangat mengambil pelajaran dari Rasulullah, hingga akhirnya menjadi orang yang paling banyak meriwayatkan hadist. Beliau adalah Sahabat Abu Hurairoh. 

Jadi, di titik manapun kita memulai, yang terpenting adalah teruslah bergerak! Jangan mental kalau. Insya Allah keberhasilan akan didapat.

Salam Hijrah. Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita! (*)

* Ustadz Arafat adalah penulis buku best seller Hijrah Rezeki dan seorang motivator untuk meraih keberkahan rezeki yang melimpah. 


×
Berita Terbaru Update