-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Suami Bunuh Istri karena Merasa 'Tidak Diorangkan'

Selasa, 29 Oktober 2019 | 10.42 WIB Last Updated 2019-10-29T03:42:56Z


JEMBER (DutaJatim.com) - Perempuan dan anak-anak rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga dengan pelaku orang dekat sendiri. Apalagi di tengah masyarakat yang sedang mengalami sakit. Hampir setiap hari terdengar berita istri dianiaya suami, anak dihajar bapak atau ibu, bahkan paling gres, seorang istri dibunuh dengan sangat kejam oleh suaminya di Jember Jawa Timur. 

Motif kasus-kasus semacam ini biasanya karena terbelit masalah ekonomi hingga biduk rumah tangganya pecah. Istri menuntut terlalu banyak kepada suami. Suami pun merasa 'tidak diorangkan'.  Selain itu sering kali juga karena masalah perselingkuhan, baik yang dilakukan suami atau istri. 

Kali ini menimpa Fani Amalia Hernati. Perempuan malang itu perutnya ditusuk memakai pisau sampai tembus ke kasur oleh suaminya sendiri yang sedang kalap. Pembunuhan perempuan 26 tahun itu direkayasa seakan korban melakukan bunuh diri.

"Tapi akhirnya kami menemukan kejanggalan. Korban bukan bunuh diri, tapi dibunuh. Tersangka sudah kita tangkap. Suami korban sendiri," kata Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal, kepada wartawan, Senin (28/10/2019).

Suami Feni, Rendi Setiawan (33), membunuh istrinya sendiri menggunakan pisau yang ada di dalam kamar. Rendi menusuk tubuh Fani yang saat itu sedang tidur pada Minggu (27/10) dini hari pukul 04.30 WIB. Pelaku menusukkan pisau ke perut korban dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membekap wajah korban dengan bantal agar tidak bisa berteriak minta tolong.

Pisau menusuk tubuhnya korban sedalam 26 cm hingga dia langsung tewas. Rendi lalu membuat alibi menutupi pisau yang menancap di perut korban menggunakan boneka Teddy Bear besar. Setelah itu pelaku pergi ke luar rumah. Tidak lama kemudian dia meminta saudaranya untuk menengok korban dengan alasan berkali-kali dihubungi tidak diangkat. Hal ini bertujuan untuk mengelabui seakan korban bunuh diri. "Pelaku mengaku membeli obat," kata Alfian.

Namun siapa sangka alibi berupa boneka untuk menutupi pisau yang menancap di perut Fani itu justru sebagai pintu bagi polisi untuk mengungkap kasus ini. Dalam waktu beberapa jam saja pelaku ditangkap.

"Boneka itu justru menjadi kunci awal. Karena kalau bunuh diri, tidak mungkin (si pelaku bunuh diri) sempat mengambil boneka untuk menutupi pisau. Ketika perut tertusuk 5 sampai 10 cm saja, pasti akan sakit," kata AKBP Alfian Nurrizal, Kapolres Jember, saat menyampaikan pengungkapan kasus tersebut di Mapolres Jember.

Lalu apa motif Rendi membunuh istrinya? Menurut Alfian, Rendi mengaku tidak dihargai oleh istrinya. Selain itu juga ada persoalan ekonomi. "Merasa tidak dihargai, 'tidak diorangkan', sebagai laki-laki dan suami," katanya.

Tetangga pasutri ini mengatakan, Fani sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci pakaian di salah satu tempat laundry. Fani juga memiliki sampingan usaha jual beli online. Sementara Rendi merupakan petugas keamanan pabrik pengolahan karet milik PTPN 12.

Mereka diduga terus menambah kebutuhan hidup sehingga penghasilannya dirasa kurang. Karena itu, mereka pun sering cekcok sebab si suami tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga sesuai permintaan istrinya. "Ini pelajaran bagi suami istri yang suka menumpuk kebutuhan dan tidak mau hidup sederhana," kata Muhlasin, tokoh warga setempat. (har) 

×
Berita Terbaru Update