-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengapa Kita Memperingati Maulid Nabi SAW? Inilah Jawaban dari Warga RT V Bluru Permai

Senin, 04 November 2019 | 08.51 WIB Last Updated 2019-11-04T03:08:54Z

SIDOARJO (DutaJatim.com) - Warga RT V RW 11 Perumahan Bluru Permai (Bluper), Desa Bluru Kidul, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan RT setempat Minggu 3 November 2019 malam. Hampir semua warga menghadiri acara yang penuh dengan keakraban tersebut. 

Ketua RT V, Bambang Triatmojo, dalam kesempatan itu berpesan agar kita semua meneladani Kanjeng Rasul SAW, termasuk menjaga kerukunan antar-warga. 

"Saudara paling dekat itu tetangga. Kalau ada apa-apa di antara kita, paling dulu melakukan sesuatu kepada kita, ya tetangga. Karena itu, dalam rangka meneladani Rasulullah SAW, kita harus menjaga hubungan baik dengan tetangga. Selalu hidup rukun, guyup, sehingga tercipta lingkungan RT kita ini harmonis," kata pria yang akrab disapa Bambang Tri ini.

Dalam kesempatan itu para jamaah dipimpin Ustad Abdul Choliq dan ustad Imron membacakan solawat Nabi bersama-sama. Selain itu, juga diisi taushiyah agama oleh Ustad Yan Hendriyana Supandi yang mengisahkan hikmah dari lahirnya Rasulullah Muhammad SAW. 

Ustad Yan Hendriyana menceritakan alasan mengapa kita memperingati Maulid Nabi SAW, antara lain karena Muhammad SAW merupakan manusia paling utama di dunia. Bahkan kelahirannya pun sangat istimewa, yang bahkan bisa disebut sebagai cikal bakal dari tindakan medis dalam persalinan: operasi caesar. 

Dalam literatur ada yang percaya nama prosedur persalinan itu diambil dari Julius Caesar, si penguasa Romawi. Dalam kepercayaan mereka, Julius Caesar merupakan anak pertama yang lahir dengan proses tersebut.

Hal ini ditegaskan dalam catatan paling awal tentang kelahiran sang penguasa. Dalam dokumen abad ke-10, The Suda, sebuah ensiklopedia sejarah Bizantium-Yunani, menyebut nama prosedur ini memang terinspirasi dari Julius Caesar. 

"Para kaisar Romawi menerima nama ini dari Julius Caesar, yang tidak lahir. Karena ketika ibunya meninggal pada bulan kesembilan, mereka membukanya (perut sang ibu), membawanya keluar, dan menamainya demikian; karena sayatan dalam bahasa Romawi adalah 'Caesar'," tulis dokumen tersebut. Sejumlah tindakan medis lain memang menyebut hal yang sama dengan membelah perut sang ibu hingga kemudian mengakibatkan kematian. 

Namun, umat muslim meyakini, operadi caesar yang pertama kali dilakukan ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, di mana ketika Beliau SAW lahir , para malaikat yang dipimpin oleh malaikat Jibril AS turun ke bumi memimpin "tim dokter bedahnya”. Kisah lain proses operasi itu dibantu oleh beberapa "bidan" yaitu sayyidah Aisiyah (istri Fir`aun), Siti Maryam bin Imron (ibunda Nabi Isa AS), dan para bidadari. Operasi ini memberi contoh teknik yang benar dalam cara persalinan tersebut. 

Kedua, Nabi Muhammad SAW merupakan pemimpin para Nabi. Seperti langit yang disinari bintang, Nabi Muhammad menyinari bumi. Bahkan, kelak di akhirat, hanya Nabi Muhammad yang diberi hak prerogatif oleh Allah SWT untuk memberi syafaat kepada umatnya. Menolong umat untuk masuk syurga. Tentu saja tetap dengan melihat amal ibadahnya selama hidup di dunia. Sementara para nabi lain tidak memiliki hak istimewa tersebut.

"Inilah kenapa kita perlu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagai kecintaan kita kepada Beliau. Lebih dari itu, kita harus menjaga warisan Beliau, yakni Al Quran dan Hadist. Bagaimana caranya? Ya, tentu, dengan mempelajarinya dan mengamalkannya," kata Ustad Yan Hendriyana.

Acara Maulidan Nabi diakhiri dengan doa dan keceriaan bapak dan ibu-ibu yang menggendong anaknya berebut hadiah jajanan yang bergelantungan di lokasi tersebut. Acara ini merupakan simbol dari keceriaan akan kelahiran bayi yang sangat mulia tersebut. Ini local genius dari masyarakat dalam membuat acara agar meriah dan mengena untuk dakwah. 

"Saya pernah ceramah maulid Nabi di Cerme Gresik, musala tempat acara dihiasi sutil, eros, cowek, pokoknya alat-alat dapur, yang juga sebagai hadiah bagi jamaah," kata Ustad Yan. Sedang di Madura, kata Ustad Choliq, ada tradisi menyebar uang recehan di lokasi acara Mualidan yang kemudian jadi rebutan anak-anak. (gas)
×
Berita Terbaru Update