-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tasawuf Bisnis? Inilah Pengalaman Saya…

Jumat, 29 November 2019 | 07.26 WIB Last Updated 2019-11-29T00:27:14Z


SURABAYA (DutaJatim.com) - Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI), KUBUS,  Aksi, dan Koperasi Sarikat Investama Madani, menggelar kajian bisnis bertajuk Tasawuf Bisnis di Hotel Namira Jl. Raya Wisma Pagesangan Surabaya Sabtu 23 November 2019.  Dalam acara yang dihadiri banyak pengusaha muda ini, ISMI berupaya meristis networking bisnis yang berkah, melimpah, dunia akhirat.

Saya belum benar-benar pengusaha. Tapi sedang berusaha jadi pengusaha. Karena itu, perlu “gumbul” para pengusaha muslim sebab saya seorang muslim.

Saya mencoba khusyuk mengikuti uraian Ustadz Taufik AB yang memberi pemaparan soal tasawuf bisnis dengan sangat menarik. Gamblang. Beliau mengatakan, selintas dua kata ini memang paradoks. Bertabrakan. Tasawuf erat hubungannya dengan urusan akhirat yang seakan tidak mau dengan urusan dunia. Kaum sufi hidupnya diabdikan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Berkhalwat saja.

Sebaliknya, bisnis sangat dunia. Mengejar profit. Sebanyak-banyaknya. Lalu menumpuk kekayaan. Istilahnya “dunia bangeeet”.


Namun, sejatinya tidaklah demikian, sebab bisnis juga menyangkut dunia akhirat. Istilah tasawuf dalam acara kajian itu sejatinya hanya dipinjam saja agar lebih menarik untuk menggantikan kata bisnis syariah. Mengapa? Mungkin, karena kata “bisnis syariah”, sudah “dibisniskan”. Dijual. Dipakai terlalu banyak orang dan bahkan kadang hanya dicomot saja untuk kegiatan bisnis yang sebenarnya tidak syariah.

"Ini untuk membedakan bisnis syar'i dan bisnis sekuler. Ini lebih enak dari pada membedakan bisnis syar'i dengan bisnis kafir," kata Ustadz Taufik AB disambut gerr para peserta kajian Tasawuf Bisnis.

Istilah tasawuf juga untuk menegaskan bahwa kita harus menjalankan syariat Islam secara total. Islam yang kaffah. Seperti para sufi tapi tidak harus melupakan urusan dunia. Beragama Islam tidak boleh setengah-setengah.

"Banyaknya masalah di Indonesia ini, termasuk masalah ekonomi, karena orang Islam, tapi Islamnya setengah-setengah. Kalau kafir sekalian gak apa-apa...," kata Ustadz Taufik lagi-lagi disambut tawa peserta. Maksud Ustadz Taufik bukan membenarkan kafir, tapi memberi warning jangan melakukan sesuatu secara setengah-setengah sebab hasilnya tidak maksimal.


Orang yang setengah-setengah ini disinggung oleh Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 13. Ustadz Taufik AB juga menyebutkan kerusakan ekonomi dunia salah satunya karena bank. Sistem yang riba. Lebih dari itu umat Islam juga sangat terlambat dalam menghadapi masalah bank sehingga tertinggal dari umat yang lain. Bank pun sudah terlalu banyak yang tidak syariah. Nah, kita pun setengah-setengah dalam mengikuti sistem keuangan sebab masih saja ikut cara bank yang jelas tidak syariah.

Karena itu, Ustad Taufik mengimbau agar kita berusaha total meninggalkan sistem bank yang riba tersebut. Apa bisa? Tentu saja bisa. Caranya dengan bisnis yang berkah.

Ustadz Taufik memberi contoh seorang pedagang yang rajin lalu dipercaya oleh warga keturunan Tionghoa untuk memakai uangnya berbisnis. Selama ini dia tidak mau memakai bank. Dia mencoba menerapkan sistem syariah.


Singkat cerita pengusaha muslim ini pun sukses bukan hanya di bisnisnya. Sukses yang membuat orang China kaya kepincut hingga mempercayakan uangnnya agar dipakai untuk bisnis. Percaya total. Bisnis memang ada unsur trust.

Dan bukan hanya urusan bisnis. Hasil usaha yang berkah membuat keluarganya berkah. Semua anak-anaknya sukses di profesinya masing-masing. Keluarganya sakinah mawadah warahmah bahagia. Tidak resah gelisah karena bisnis memakai uang riba. Semua itu karena bisnisnya yang berkah tersebut. Orang Tionghoa itu percaya kepadanya karena tahu bisnisnya berkah.

Ustadz Taufik juga menceritakan seorang ahli tasawuf yang juga pebisnis. Beliau adalah Abdullah bin Mubarak (maaf bila salah nama). Seorang sufi yang dianugerahi harta kekayaan berlimpah. Abdullah bin Mubarak adalah seorang pedagang kaya raya yang dermawan.

Ihwal kekayaan yang dimiliki Abdullah bin Mubarak yang di sisi lain sebagai seorang sufi ini sempat membuat ayahanda Fudhail bin Iyadh merasa muskyil. Dia pun bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, “Engkau menyuruh kami semua untuk berperilaku zuhud, tidak berlebih-lebihan, sementara dirimu sendiri bergelimang harta kekayaan. Bagaimana ini?”

Abdullah bin Mubarak kemudian menjawab pertanyaan ini dengan baik dan sangat bijak. Ia berkata, “Wahai Abu Ali, aku bekerja ini (menjadi pedagang) agar aku mampu menjaga harga diriku. Harta yang aku miliki aku gunakan untuk taat dan beribadah kepada-Nya.”


Nah, semua itu bukti bahwa tasawuf tidak bertentantan dengan bisnis. Saya dan mungkin teman-teman lain perlu bertasawuf dalam bisnis. Tapi jangan sampai nasibnya seperti “syariah” lo ya. Jangan sampai “umrah syariah”—mana ada umrah tidak syariah ya?-- nanti diganti “umrah tasawuf” supaya jamaahnya bejibun lalu mereka ditelantarkan di Tanah Suci.

Jangan sampai menawarkan produk investasi “perkebunan kurma syariah” lalu diganti “perkebunan kurma tasawuf” tapi uang investor ditilap. Semua jadi salah kaprah. Perbuatan semacam itulah yang menghambat perkembangan ekonomi halal di negeri ini. Ya, perbuatan umat Islam sendiri. Semoga kita dijauhkan oleh Allah SWT dari perbuatan semacam itu. Amiin.(M. Fatoni)

Catatan: Bagi teman-teman pengusaha muslim bisa menuliskan catatan soal pengalamannya berbisnis Islami di media ini disertai foto. Tujuannya saling berbagi pengalaman. Kata pepatah life is not just happy yourself, but share your happiness to those around us because it will increase happiness when shared.

Naskah bisa dikirim ke email: gatot2012@gmail.com atau ke nomor WA: 081331304892

Terima kasih.

×
Berita Terbaru Update