-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Acara Interfaith Tahunan Nusantara Sukses, Nobar Film American Muslims Disambut Antusias

Senin, 16 Desember 2019 | 11.01 WIB Last Updated 2019-12-16T04:01:52Z


NEW YORK (DutaJatim.com) - Nusantara Foundation sukses menggelar Dialog Antar-Pemeluk Agama (interfaith dialogue) Minggu 15 Desember 2019 waktu AS. Acara ini dihadiri berbagai tokoh lintas agama di Kota New York.

Acara Interfaith Tahunan Nusantara Sukses, Nobar Film American Muslims Disambut Antusias

"Alhamdulillah dengan izin Allah, acara dialog antar pemeluk agama (interfaith dialogue) Nusantara Foundation hari ini, 15 Desember 2019, berjalan baik dan sukses. Acara ini sesungguhnya adalah acara tahunan Nusantara sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi dan meluruskan berbagai kesalahpahaman mengenai Islam di Amerika," kata Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation,  Senin 16 Desember 2019 siang ini WIB.

Imam Shamsi Ali yang juga pendiri pesantren pertama di AS, Ponpes Nur Inka Nusantara Madani, mengatakan, sejak berdirinya di akhir tahun 2013 lalu Nusantara menjadikan kegiatan dialog antara pemeluk agama atau Interfaith Dialogue sebagai salah satu program prioritasnya. Hal itu bertujuan untuk merespon realita bahwa Islam sejak peristiwa 9/11 tahun 2001 begitu disalah pahami di dunia Barat dan Amerika khususnya. 

"Oleh karena itu Nusantara mencanangkan sebuah program  yang dikenal dengan “outreach program”. Program ini dibentuk untuk melakukan pendekatan (approach) kepada masyarakat non Muslim di Amerika dengan berbabagi kegiatan. Salah satu di antaranya adalah kegiatan interfaith ini," katanya.


Acara hari ini menjadi lebih unik lagi karena diadakan dalam bentuk nonton bersama (nobar) film tentang Komunitas Muslim Amerika yang baru saja diluncurkan bulan lalu. Film yang berjudul “American Muslims” ini menceritakan banyak hal. Termasuk perjuangan Komunitas Muslim Amerika melawan berbagai kebijakan Presiden Trump yang diskriminatif dan rasis. 

Salah satu kebijakan Trump yang paling rasis yang dirasakan oleh Komunitas Muslim Amerika adalah kebijakan pelarangan orang-orang Islam untuk masuk Amerika. Kebijakan ini dikenal dengan nama “Muslims Ban”. 

Kita ingat bahwa di awal tahun 2017 lalu Tump menandatangani sebuah aturan dalam bentuk “Executive Order” melarang orang-orang Islam dari 6 negara, antara lain Yaman, Suriah, Iran, Irak, Libya dan Somalia untuk masuk Amerika. Menurut informasi yang terpercaya enam negara ini sesungguhnya hanya uji coba saja. 

Artinya kalau pelarangan dari 6 negara ini berhasil maka Trump akan mengeluarkan aturan lagi dengan daftar negara-negara Muslim yang lain. Maka aturan itu memang ditujukan untuk melarang sekolompok orang masuk Amerika. Dan kelompok orang yang dimaksud adalah orang-orang yang beragama Islam. 

Selain berbicara tentang perlawanan Komunitas Muslim melawan kebijakan Trump itu, juga banyak berbicara tentang posisi budaya dalam praktek keagamaan. Salah satu yang ditampilkan di film ini adalah sebuah perkawinan warga Indonesia dengan budaya Minang. 

"Saya yang menjadi salah satu dari 6 Nara sumber Utama di film itu lebih banyak berbicara tentang Islam dan kehidupan sosial, termasuk relasi antara agama dan budaya itu sendiri. Saya juga banyak menyampaikan posisi dan aktifitas Komunitas Muslim dalam membangun relasi dengan Komunitas agama lain," katanya. 

Film yang berdurasi 85 menit itu sangat dalam, aktual dan menyentuh. Salah satu hal yang ditampilkan misalnya adalah kisah hidup Aber. Seorang Muslimah muda keturunan Palestina. Dia lahir di Amerika dan sudah pasti berwarga negara Amerika. Tapi dari kedua orang tua yang tidak memiliki surat-surat resmi tinggal di Amerika (illegal). 

Setelah 9/11 di tahun 2001 lalu Ayahnya dideportasi ke Jordan. Tinggallah dia bersama Ibunya di Brooklyn New York. Lebih 14 tahun (kini berumur 25 tahun) dia tidak pernah lagi ketemu Ayahnya secara langsung. Abeer sendiri saat ini menjadi seorang aktifis Muslimah Yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak asasi Umat. 

"Di akhir acara pemutaran film saya tampil kembali untuk memimpin sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan disampaian oleh peserta Yang hadir. Salah satu di antaranya adalah Kenapa setiap ada kasus buruk yang  pelakunya orang Islam, seolah semua orang Islam harus menanggung beban tanggung jawab?"

"Dalam jawaban saya sampaikan bahwa pertanyaan atau terkadang terasa sebagai paksaan untuk bertanggung jawab atas kasus-kasus buruk, seperti terorisme, pelanggaran HAM, diskriminasi wanita, dan lain-lain adalah sesuatu yang saya sendiri tidak paham. 
Tapi yang pasti banyak ketidakadilan (unfairness) kepada Umat Islam. Dan yang lebih utama adalah ketidakadilan kepada Islam itu sendiri. Sebab jika ada perilaku buruk yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang mengaku beragama Islam, semua orang Islam seolah harus bertanggung jawab." 

"Bahkan yang lebih menyedihkan Islam kemudian dipersepsikan secara sistematis sebagai sumber dari kejahatan itu. Padahal sejatinya agama itu mulia dan jauh dari karakter kejahatan tersebut. Saya kemudian mengingatkan bahwa pada semua Komunitas ada pihak-pihak yang buruk (evil). Mereka itu adalah bagian dari masing-masing komunitas yang gagal mengamalkan nilai-nilai mulia dari ajaran agamanya dalam bentuk prilkau nyata."

Tapi yang demikian itu adalah sangat minoritas. Bahkan begitu susah untuk dipersentasikan. Karenanya sangat tidak fair jika perilaku mereka digeneralisasi sebagai perilaku seluruh pengikut agama tersebut. 

"Demikian pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan baik dan maksimal. Hanya waktu yang membatasi sehingga saya harus menutup acara dengan dua poin penting," kata Imam Shamsi.


Pertama, acara dialog antar pemeluk agama ini menjadi penting tidak saja dari kacamata sosial. Tapi bagi kami justeru juga dari sudut pandang agama. Bahwa Islam sebagai agama “Rahmatan lil-alamin” selalu mengedepan kerjasama demi terwujudnya dunia yang damai dan berkeadilan. 

Terlebih lagi dalam realita dunia yang penuh ketidaksempurnaan. Kesalahpahaman, kecurigaan, permusuhan, rasisme, bahkan radikalisme dan terorisme. Semua ini memerlukan respon yang aktual. Bukan teori-teori atau asumsi-asumsi yang kerap melahirkan praduga-praduga atau kecurigaan-kecurigaan yang tidak berdasar. 

Dan karenanya dialogue dalam bentuk bertemu, saling menyapa dengan senyuman adalah cara terefektif untuk menghadirkan remedi atau “healing” (pengobatan) dari ragam penyakit sosial tadi (permusuhan, rasisme, diskriminasi, dan lain-lain). 

Kedua, saya menyampaikan bahwa dialog antar pemeluk agama bukan saja antar elit-elit agama atau tokoh-tokoh di seminar-seminar. Karenanya perlu rumusan langkah atau program ke depan agar kegiatan seperti ini menjadi berkesinamnungan. 

Untuk maksud tersebut akan dibentuk tim kecil untuk merumuskan langkah-langkah nyata ke depan. Dan masing-masing Komunitas akan menunjuk Wakil 2-3 orang untuk duduk dalam tim kecil tersebut. 

Acara pun bubar. Peserta kemudian dengan riang menikmati kue-kue Indonesia yang disuguhkan oleh Nusantara. Mereka datang dengan seribu pertanyaan di Kepala. Dan kembali dengan senyuman, membawa kenangan yang menenteramkan. Semoga! (*)

New York, 15 Desember 2019 

Imam Shamsi Ali 
Presiden Nusantara Foundation
×
Berita Terbaru Update