-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Anggota Banser Dicaci Kafir tapi Tetap Tenang, Dipuji Sabar dan Berakhlak Baik

Rabu, 11 Desember 2019 | 11.41 WIB Last Updated 2019-12-11T04:41:33Z


JAKARTA (DutaJatim.com) - Anggota Banser Dicaci Kafir tapi Tetap Tenang, Dipuji Sabar dan Berakhlak Baik. Hal itu terlihat dalam sebuah video yang memperlihatkan dua anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) dimaki kafir gegara tidak mau mengucapkan takbir. Video ini kemudian viral di medsos.

PBNU memuji kesabaran anggota Banser itu. Banyak kalangan juga memujinya. Sebaliknya banyak orang mengecam pelaku yang memaksa anggota Banser tersebut sebab terkesan sengaja menunjukkan kebencian.

Dalam video 1 menit 2 detik yang dilihat Rabu (11/12/2019) itu tampak dua orang mengenakan seragam anggota Banser berbicara dengan seorang yang merekam video sambil menunjuk-nunjuk mereka. Video itu diawali dengan makian 'monyet' untuk bertanya di mana e-KTP kedua anggota Banser itu.

Salah satu anggota Banser tersebut tampak bertanya balik alasan pria yang kemudian terlihat mengenakan kaus dan topi hitam itu mempertanyakan e-KTP mereka. Percakapan kemudian berlanjut dengan mempertanyakan alasan dua anggota Banser itu berada di Jakarta. Tampak mereka sedang berada di seberang sebuah toko roti.

Anggota Banser itu kemudian menjawab kalau keberadaan mereka di Jakarta terkait Gus Ahmad Muwafiq--yang akhir-akhir ini mendapat kritik terkait ceramahnya tentang masa kecil Nabi SAW. Orang yang merekam video itu kemudian meminta dua anggota Banser tersebut untuk mengucap takbir namun anggota Banser itu mempertanyakan alasan mengapa dia harus mengucap takbir saat itu.

"Takbir, Allahuakbar. Lu Islam bukan?" ucap pria berkaus hitam.

"Islam, kenapa?" balas anggota Banser.

"Yaudah takbir," ucap pria berkaus hitam.

"Buat apa?" tanya anggota Banser.

"Kok buat apa? Kafir dong lu! Eh tar dulu takbir dulu kalau muslim, orang Islam harus takbir," ujar pria berkaus hitam itu.

"Islam itu cukup ucapkan kalimat syahadat," jawab anggota Banser.

Mendengar jawaban tersebut pria berkaus hitam kemudian menyatakan kalau kalimat syahadat adalah ucapan bagi orang di luar Islam yang hendak masuk Islam. Dia meminta anggota Banser itu untuk tak mengajarinya. Dia kemudian memaki kedua anggota Banser itu sambil mengancam akan mencegat keduanya serta menyebut-nyebut jawara. Kedua anggota Banser itu kemudian pergi menggunakan sepeda motor.

Kualitas Akhlak

Saat dimintai tanggapannya, Ketua PBNU, Robikin Emhas, memuji sikap anggota Banser yang tidak terpancing cacian dari pria berkaus hitam tersebut.  "Sikap sahabat Eko itu patut dipuji. Tenang, sabar, dan tidak terpancing provokasi berupa olokan, cacian, paksaan dan tindakan yang mengesankan diri paling tahu Islam," tutur Robikin kepada wartawan.

Menurutnya, respons anggota Banser tersebut membuktikan kedalaman kualitas agama dan akhlaknya. Dia menyebut Islam melarang mengkafirkan sesama muslim.

"Islam melarang pengkafiran terhadap sesama muslim. Mudahnya menjatuhkan vonis kafir ini boleh jadi disebabkan karena ideologi takfiri yang belakangan berkembang di Indonesia. Baginya, selain pengikut ajarannya adalah kafir. Sehingga stempel kafir disematkan kepada siapa saja yang tidak sepaham dengan ajarannya. Tidak peduli sesama pemeluk Islam yang pokok ajaran agama berupa syahadat, salat, puasa, zakat dan hajinya sama," tutur Robikin.

Robikin menyebut perilaku merasa paling Islam namun disertai akhlak tercela justru mencoreng wajah Islam. Dia juga menyebut sikap itu justru menurunkan keluhuran ajaran Islam.  "Perilaku merasa diri paling Islam, apalagi disertai akhlak tercela dengan mengolok, mencaci dan memaksa justru mencoreng wajah Islam dan menurunkan keluhuran ajaran Islam itu sendiri," katanya.

Laporkan ke Polisi

Sementara itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor menempuh langkah hukum atas dugaan persekusi yang menimpa salah satu kadernya bernama Eko.

"Ansor akan menempuh jalur hukum," kata Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Rabu, 11 Desember 2019.

Yaqut mengatakan, pihaknya sudah melaporkan dugaan persekusi itu ke Kepolisian Resor Kota Jakarta Selatan Selasa, 10 Desember 2019. Dugaan persekusi tersebut memang terjadi di kawasan Jaksel, tepatnya di Pondok Pinang.

Yaqut berujar belum ada rencana untuk melaporkan kejadian itu ke kantor kepolisian yang lebih tinggi tingkatannya. "Sementara di Jaksel dulu," kata dia.

Yaqut Cholil Qoumas pun menginstruksikan kepada seluruh kader Banser agar mengikuti proses hukum. Dia mewanti-wanti agar mereka tidak terpancing atau terprovokasi.  "Sudah saya instruksikan agar seluruh kader Banser mampu mengendalikan diri dan emosi," ujar Wakil Ketua Komisi II DPR ini.

Dugaan persekusi ini awalnya disampaikan melalui akun Twitter Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), @nahdlatululama. Dalam video yang diunggah, terlihat seorang pria berbaju dan bertopi hitam menanyai tujuan keberadaan Eko di tempat tersebut. (det/wis/tmp)

×
Berita Terbaru Update