-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Daya Beli Rakyat Lemah, Ini Tawaran Solusi dari SBY

Kamis, 12 Desember 2019 | 08.10 WIB Last Updated 2019-12-12T01:10:43Z


JAKARTA (DutaJatim.com)  - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menggelar acara Refleksi Pergantian Tahun di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (11/12/2019) malam. Ketua Umum Partai Demokrat itu mengatakan pertumbuhan ekonomi di level 5% bukan hal buruk karena situasi global yang juga kurang apik. Namun demikian sejumlah isu ekonomi menjadi sorotan SBY. Salah satunya soal daya beli masyarakat yang lesu.

"Berkaitan dengan daya beli dan perlindungan sosial untuk masyarakat. Kesulitan ekonomi, termasuk lemahnya daya beli masyarakat, memang nyata. Terutama pada masyarakat berpenghasilan rendah dan kaum tidak mampu," kata SBY. 

Bagi masyarakat kelas menengah dan atas, kata dia, barangkali tidak merasakan adanya pelemahan daya beli itu. Namun dia kembali menegaskan bahwa lesunya daya beli tersebut merupakan kondisi yang nyata terjadi. 

Ada sejumlah pertanda yang menunjukkan pelemahan daya beli. Misalnya ditandai perlambatan penjualan retail, penurunan penjualan mobil dan motor serta perlambatan konsumsi makanan. Juga ditandai oleh tekanan terhadap upah riil petani dan pekerja konstruksi.

Namun, menurut SBY, kondisi itu bukan jalan buntu. Artinya, pemerintah masih bisa menempuh sejumlah cara agar bisa keluar dari pelemahan daya beli tersebut.

"Kita tahu, ada dua cara untuk meningkatkan penghasilan dan daya beli rakyat. Pertama melalui mekanisme ekonomi, yaitu dengan meningkatkan pertumbuhan dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Yang kedua, bagi mereka yang benar-benar mengalami kesulitan dalam kehidupan rumah tangganya, pemerintah perlu memberikan bantuan. Inilah yang disebut dengan perlindungan sosial (social safety net)," tandas dia.

SBY mengatakan pertumbuhan ekonomi di level 5% bukan hal yang buruk karena situasi global yang juga kurang apik. Demokrat sepakat dengan Presiden Jokowi bahwa angka pertumbuhan pada tingkat 5% bukanlah sesuatu yang buruk. Terutama jika dikaitkan dengan situasi perekonomian global saat ini," katanya.

SBY pun tak mempermasalahkan hal tersebut asal target pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,3% harus tercapai. "Yang penting, sasaran pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan untuk tahun 2020 sebesar 5,3% dapat dicapai," tuturnya.

Kalau ekonomi loyo, misalnya di bawah 6%, kata SBY, maka lapangan pekerjaan yang baru sulit terbuka. Dengan begitu, pendapatan dan daya beli masyarakat juga sulit dipacu.  "Penghasilan dan daya beli rakyat sulit ditingkatkan. Angka kemiskinan juga tak mudah untuk diturunkan," katanya.

Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi di level tersebut, SBY mengatakan harus menggenjot investasi. BUMN dan swasta diharapkan bisa menggenjot investasinya tahun depan.

"Usaha swasta, dan bukan hanya BUMN, harus mendapat peluang bisnis yang lebih besar. Karenanya, Demokrat mendukung penuh upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi kita," ujarnya.

Selanjutnya, konsumsi masyarakat juga harus dijaga, baik pemerintah maupun rumah tangga. Di tengah daya beli yang belum membaik, SBY mengatakan, ada dua hal yang harus dilakukan.

"Kesatu, penciptaan lapangan kerja baru harus sukses. Kalau sukses, konsumsi rumah tangga secara agregat akan terus meningkat. Kedua, perlu dipastikan agar anggaran perlindungan sosial, termasuk subsidi bagi kaum tidak mampu, jumlahnya memadai," tambahnya.

SBY memahami belanja pemerintah menjadi komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah juga diminta mengalokasikan belanjanya cerdas dan tepat.
Upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi juga bisa dilakukan dengan fokus pada industri manufaktur, terutama yang berbasis pertanian dan sumber daya mineral.  "Juga sektor perdagangan, konstruksi dan kepariwisataan," tambahnya.

SBY juga menyambut baik tekad Jokowi, agar Indonesia bisa keluar dari jebakan penghasilan kelas menengah (middle income trap) di tahun 2045 mendatang. Untuk itu, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Pengalaman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 6% setahun, akan membuat pendapatan per kapita naik 2 kali lipat dalam 10 tahun. Insya Allah Indonesia bisa. Kita punya success story dalam waktu 10 tahun 2004-2014 income per kapita kita naik 3 kali lipat lebih, dari US$ 1.100 menjadi US$ 3.500," katanya.(dtf)

×
Berita Terbaru Update