-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dituduh Terima 'Uang Diam' soal Uighur, Muhammadiyah Desak WSJ Minta Maaf

Selasa, 17 Desember 2019 | 08.05 WIB Last Updated 2019-12-17T01:05:31Z

JAKARTA (DutaJatim.com) - Setelah kritik Mesut Ozil, gelandang Arsenal keturunan Turki,  giliran media asing Wall Street Journal (WSJ)  menuduh ormas Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan MUI mendapat “uang diam” sehingga tidak protes atas isu kemanusiaan terhadap etnis Uighur di Provinsi Xianjiang, China.

Menanggapi hal itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah meminta Wall Street Journal (WSJ)  mengklarifikasi atas pemberitaan tendensius kepada ormas Islam di tanah air tersebut. Muhammadiyah mengancam akan menempuh langkah hukum jika tidak ada upaya permintaan maaf dari media Amerika Serikat tersebut.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti saat jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019), mengatakan, PP Muhammadiyah mendesak agar Wall Street Journal (WSJ) meralat berita tersebut.  Selain itu juga  meminta maaf kepada warga Muhammadiyah. 

"Bila tidak dipenuhi, Muhammadiyah akan mengambil langkah hukum,"  katanya.


Selain itu, PP Muhammadiyah juga meminta kepada Pemerintah China untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi dan akses masyarakat internasional mengenai kebijakan di Xinjiang dan masyakarat Uighur.

Pemerintah China juga diminta untuk menghentikan segala represi pelanggaran HAM, khususnya kepada masyarakat Uighur.

"Pemerintah Tiongkok harus memberikan kebebasan kepada umat muslim untuk melaksanakan ibadah dan memelihara identitas," katanya.

Sebelumnya Mesut Ozil, gelandang Arsenal keturunan Turki, juga mengkritik muslim di dunia, termasuk di Indonesia, karena tidak bertindak atas kasus penindasan muslim Uighur. Mesut Ozil mengunjungi Provinsi Xinjiang untuk melihat langsung kehidupan Muslim Uighur. Langkah Mesut Ozil ini bikin heboh dunia. Dia dikecam di China. Tapi kemudian Pemerintah China mengundangnya ke negeri Tirai Bambu itu. Namun Mesut Ozil  belum menjawab undangan tersebut.

Gen Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, mengatakan, Ozil dibutakan oleh berita yang salah dan dipengaruhi beberapa kata-kata palsu.

“Ozil tidak tahu pemerintah Tiongkok melindungi semua warga, termasuk kebebasan beragama orang-orang Uighur, sesuai hukum,” kata Gen Shuang dalam jumpa pers, Senin 16 Desember 2019.

Ozil menulis di Twitter-nya tentang penindasan Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, dan negara-negara Muslim yang membisu. Publik China marah, dan CCTV — televisi plat merah Tiongkok — tidak menayangkan pertandingan Arsenal-Manchester City.

“Di Xinjiang, Al Quran dibakar. Masjid ditutup, ulama dibunuh satu per satu, sekolah agama Islam,” tulis Ozil di Twitter-nya, dengan latar belakang bendera nasional Republik Turkestan Timur.

“Satu juta Muslim Uighur dikurung di kamp-kamp, tapi pemeluk Islam di seluruh dunia bungkam,” lanjutnya.

Muslim Uighur memproklamirkan kemerdekaan dan membentuk Republik Turkestan Timur, tapi tidak diakui banyak negara. Turki, yang pernah menjadi negara induk mereka, tidak berdaya ketika China mencaplok wilayah itu.

Gen Shuang mengatakan; “Saya dapat katakan Xinjiang saat ini menikmati stabilitas politik, pembangunan ekonomi, persatuan nasional, keharmonisan sosial. Di Xinjiang, orang-orang hidup dan bekerja dalam damai,” katanya seperti dikutip dari moeslimchoice.com.(ara)
×
Berita Terbaru Update