-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dua Kiai NU Dihina, Kiai Ma'ruf Memaafkan

Kamis, 05 Desember 2019 | 16.08 WIB Last Updated 2019-12-05T09:11:49Z
KH Ma'ruf Amin

SURABAYA (DutaJatim.com) - Warga Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi ujian kesabaran yang cukup berat. Namun sabar harus menjadi ghirah umat  sebab itu anjuran dalam agama Islam. Betapa tidak, dalam waktu hampir bersamaan dua kiai NU dihina di media sosial. Bahkan KH Ma'ruf Amin adalah Wakil Presiden RI.

Dua Kiai NU Dihina, Kiai Ma'ruf Memaafkan. Ya, Kiai Ma'ruf dan Gus Muwafiq digambarkan seperti "babi". Sebuah penghinaan yang sangat keterlaluan. Suka menghina ini biang perpecahan dalam Islam. Perbuatan yang jelas tidak Islami. 

Karena itu, mungkin,  Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin tetap memaafkan orang yang menghinanya:  Jafar Shodiq bin Sholeh Alattas. Orang yang menyebut dirinya seperti "babi" dalam sebuah ceramah yang viral di media sosial. Bila Kanjeng Nabi Muhammad SAW memaafkan orang yang menghinannya, tentu Kiai Ma'ruf juga meneladani Rasulullah SAW. 

"Berlebihan itu tidak baik. Kalau bagi saya itu memang harus memaafkan, karena bagaimana yah, [Ja'far] di-pressed (ditekan). Ya kebablasan saya kira itu," ujar Kiai Ma'ruf di kantor wapres, Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Kiai Ma'ruf menduga video yang viral itu telah ada sejak masa kampanye Pilpres 2019. Saat itu diakui Kiai Ma'ruf banyak konten di media sosial yang menjelekkan dirinya maupun Presiden Joko Widodo. Namun, Kiai Ma'ruf, yang juga menjabat Ketua Umum MUI nonaktif ini, mengaku tak berniat melaporkannya ke polisi. Dia berharap Ja'far mau memperbaiki isi ceramahnya agar tak berisi soal kebencian. "Tentu tidak [melaporkan]. Mudah-mudahan dia menyadari dan mengubah narasinya, jangan narasi permusuhan, kebencian. Itu tidak baik, semoga tidak diulangi lagilah seperti itu," katanya.

Video yang menunjukkan ceramah Ja'far Shodiq bin Sholeh Alattas viral di media sosial. Video itu sendiri bersumber dari chanel YouTube 'Chanel habib ja'far shodiq bin sholeh alattas' yang diunggah pada 30 November 2019.

Saat itu, Ja'far tengah menceritakan kisah Nabi Musa AS versi Islam. Bahwa, ada murid dari Nabi Musa AS yang diubah Allah SWT menjadi babi. Alasannya, kata Ja'far, karena menjual agama untuk duniawi. Ia pun mencontohkannya dengan ustadz bayaran zaman sekarang. "Berarti ustadz-ustadz bayaran apa? (dijawab oleh jamaah: 'babi'). Saya tanya Ma'ruf Amin babi bukan? (babi). Babi bukan? (babi). Babi lah," cetus Ja'far. 

Gus Muwafiq Juga Dihina

Bukan hanya Kiai Ma'ruf Amin, ada pula postingan foto kepala Gus Muwafiq yang diganti bentuk kepala "babi". Hal ini  memantik kemarahan kader PC Ansor Bangil.


Gus Muwafiq

Namun pihak PC Ansor langsung mengklarifikasi ke pihak yang lakukan postingan di wilayah Bangil. "Kami sudah klarifikasi ke pihak yang melakukan itu. Tapi mereka tak mengakui,” kata Gus Muafi, Ketua PC Ansor Bangil, Kamis (5/12/2019).

Dia menyesalkan tak sportifnya pihak yang sengaja memperkeruh situasi di masyarakat. Bahkan upaya mediasi yang dilakukan oleh Polres Pasuruan dengan pihak ‘radikal’ pada Rabu (4/12) malam, juga menemui jalan buntu.

Tak hanya itu pihak tersebut tetap ngotot kalau tak melakukan postingan pelecehan itu dengan nada ‘menantang’.  Gus Muafi menegaskan bahwa pihaknya tak main-main untuk bertindak tegas sesuai dengan prosedur.

“Kami sudah ingatkan pada mereka. Kami akan melakukan tindakan tegas, meski upaya tabayun sudah kami lakukan. Postingan yang dilakukan oleh mereka sudah sangat keterlaluan. Kami sudah bersikap baik, tapi justru mereka menantang,” katanya.

Langkah hukum pun akan ditempuh kalau pihak yang melecehkan tak mengakui akan keselahannya. “Jam 09.00 WIB kami diundang ke Polres untuk klarifikasi. Jika tidak ada solusi terbaik, tentunya kami pastikan akan lakukan langkah hukum dengan melaporkannya ke polres agar ada tindakan,” kata Gus Muafi. 

Ekspresi Iri?

Sebelumnya Front Pembela Islam (FPI) juga akan mempolisikan Gus Muwafiq sebab dituduh menghina Nabi Muhammad SAW. Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans meminta Front Pembela Islam (FPI) agar tidak mencari panggung dengan melaporkan pendakwah Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq ke Bareskrim Mabes Polri.

“Mereka tak lagi bicara soal konten (isi ceramah), tapi mencari celah untuk menyerang orang-orang yang selama ini dekat dengan Istana (Negara). FPI jangan cari panggung,” tegas Gus Hans Rabu (4/12/2019)

"Saya melihat ini masih ada kaitannya dengan Pilpres 2019, Istana, dan luar lingkaran Istana. Selama ini kan beberapa kali Gus Muwafiq diundang ke Istana,” tandas cicit ulama pendiri Ponpes Darul Ulum Jombang, KH Tamim Irsyad tersebut.

Lantaran Gus Muwafiq kerap diundang ke Istana, lanjut Gus Hans, membuat orang-orang di luar lingkaran Istana mencoba mencari ‘keplesetnya’. “Tapi enggak ketemu, lalu dengan hal seremeh ini kemudian dipakai alat untuk menyerang kelompok di lingkaran Istana,” paparnya.
Apalagi, kata Gus Hans, FPI dan kelompoknya sedang mencari common enemy untuk menyolidkan internal mereka, setelah energinya berkurang pasca Partai Gerindra dan Prabowo Subianto bergabung Istana.

“Mungkin karena temannya semakin berkurang, akhirnya apapun dijadikan alat politik untuk ngetes solidaritas internal mereka. Reuni 212 kemarin kan enggak terlihat berhasil,” ucapnya.

"Mereka memang butuh isu untuk menyatukan barisan dan kebetulan ketemunya ini (ceramah Gus Muwafiq). Tapi sayang, isunya kurang nendang, yang dibuat trigger-nya kurang nendang,” imbuhnya.

Adakah saran untuk Gus Muwafiq agar ke depan materi dakwahnya tidak lagi memicu protes? “Apa yang disarankan? Isi dakwah yang disampaikannya biasa saja, enggak ada masalah. Soal kenapa sampai dipolisikan, ya namanya orang lagi sakit tenggorokan,” katanya.

Langkah terbaik mencontoh Kiai Ma'ruf. Dua Kiai NU Dihina, Kiai Ma'ruf Memaafkan

Laporan Ditolak

Seperti diberitakan, anggota DPP FPI, Amir Hasanudin melaporkan Gus Muwafiq ke Bareskrim Mabes Polri namun laporan tersebut ditolak lantaran ada berkas yang kurang, yakni soal terjemahan bahasa Jawa.

“Terjemahan. Soalnya pidatonya kan bahasa Jawa,” ujar kuasa hukum pelapor, Azis Yanuar, di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (3/12/2019).
Karena itu, kata Aziz, pihaknya akan menyertakan kembali syarat yang diminta Bareskrim dan setelah itu baru mendapatkan nomor laporan.

Pendakwah kelahiran Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jatim yang kini tinggal di Yogyakarta, DIY itu dilaporkan terkait potongan ceramahnya yang viral dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW.

Dia menyebut Nabi Muhammad SAW lahir biasa saja, tidak besinar seperti yang digambar sejumlah orang selama ini. Sebab, jika terlihat bersinar maka ketahuan bala tentara Abrahah.

Gus Muwafiq juga menyebut Nabi Muhammad SAW saat kecil rembes karena diasuh kakeknya, Abdul Muthalib. Setelah menuai gelombang kritik dari sejumlah pihak, Gus Muwafiq lantas meminta maaf dan menegaskan tidak sedikit pun bermaksud menghina Nabi Muhammad Saw dalam ceramahnya itu. (dtc/brj/mp)•
×
Berita Terbaru Update