-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gowes Sepeda Mahal Brompton, Emang Rasanya Gimana Sih!?

Minggu, 15 Desember 2019 | 11.24 WIB Last Updated 2019-12-15T04:24:38Z


SURABAYA  (DutaJatim.com) - Liburan Minggu seperti hari ini banyak komunitas sepeda merayapi jalan-jalan menuju tempat wisata. Tak terkecuali komunitas sepeda Brompton---sepeda yang ngetop gegara kasus Garuda ini harganya amat sangat mahal. Bisa mencapai Rp 65 juta.

Tren sepeda mahal ini membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Mereka bertanya emang apa bedanya naik sepeda biasa dengan sepeda yang harganya  puluhan juta itu? Tentu saja ada beda dikit, ringan, bisa dilipat, dan ada gengsi, tapi secara umum sama. Tetap mancal.

Pengusaha yang juga politisi Partai Gerindra Sandiaga Salahuddin Uno, pun menyebut secara umum tidak ada bedanya. Sandi punya sepeda mulai yang harga biasa saja sampai yang mahal.

"Saya punya sepeda biasa saja harganya. Terus ada juga yang kemarin hits banget tuh, Brompton.  Sama yang biasa saja, seperti Polygon yang buatan lokal," kata Sandi, saat ditemui usai mengikuti lomba lari di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara, Minggu (15/12/2019).

Trus, gimana rasanya? "Sama saja sih," katanya.

Sandi mengatakan pemilihan sepeda mahal atau murah sangat dipengaruhi  tren dan kebutuhan. Salah satunya untuk bersosialisasi. Misalnya saat bergabung dengan komunitas. Sebab kadang-kadang kita kalau mau diajak komunitas, sepedanya harus sama.

"Ya disamain," ujarnya.

Selain itu juga soal kebutuhan. Bila melihat di pasaran, ada banyak jenis sepeda untuk berolahraga. Sebut contoh road bike untuk kebut-kebutan, mountain bike ataupun downhill untuk lintas alam, dan sepeda lipat untuk gowes santai. Semua disesuaikan kebutuhan pemakaianya. Tinggal pilih. Disesuaikan kebutuhan dan kondisi kantong masing-masinh.

"Tapi secara umum hampir nggak ada bedanya ya. Kalau sepeda lipat aku pakai Brompton, tapi kalau sepeda yang biasa road bike aku pakai Polygon," katanya.

Selain Sandi, banyak pemakai Brompton  memberi  alasan berbeda. Rani yang seorang pensiunan dari sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga memilih Brompton. Sepeda asal Inggris bertipe M6L tersebut dia beli dengan harga Rp 32 juta.

"Baru beli tahun ini karena pengen hidup sehat. Biar ada kegiatan juga. Ini dapetinnya susah lho harus pre order dulu," kata Rani. Dia mengaku tergabung dalam Komunitas Sepeda Alumni Telkom (Komsat).

Menurut dia, dirinya tidak melakukan perawatan khusus pada sepeda premium tersebut. Namun dia memperhatikan aksesoris dan perlengkapan lain yang ada di sepeda. Alasannya supaya terlihat matching dengan warna sepeda sehingga terlihat bagus.

Adam Kalangi lain lagi. Dia menggunakan sepeda Fnhon Gust tipe Blast. Adam yang berasal dari komunitas sepeda Fedtriot Bekasi membeli sepeda tersebut dengan harga sekitar Rp 12 juta.

Adam yang hobi bersepeda sejak 2010 telah mencoba lima merek sepeda lipat, sebelum akhirnya memilih Fnhon Gust. Menurutnya, sepeda Fnhon Gust adalah yang paling nyaman dan sesuai kebutuhannya.

"Alasan saya pilih sepeda ini adalah praktis dan kenyamanan. Sebetulnya kalau menempuh jarak kurang dari lima kilometer, merek sepeda yang lain nggak masalah. Tapi kalau sudah lebih dari 10 kilometer, kita perlu seat yang lebih nyaman supaya lebih enak goesnya. Inilah bedanya," kata Adam, ditemui di arena Summarecon, Bekasi.

Alasan Adam hampir sama dengan Rony yang memilih sepeda lipat Dahon tipe Boardwalk DB. Rony yang tidak ikut komunitas sepeda ini membeli sepedanya dengan harga Rp 8,7 juta.

"Gowesnya lebih ringan dan dilipatnya lebih mudah. Buat saya yang naik sepeda ke kantor juga lebih mudah dimasukkin ke kendaraan," kata Rony yang sudah menggunakan sepeda tersebut selama dua tahun.

Menurut Rony yang pernah mencoba merek lain, sepedanya kali ini terasa paling nyaman digowes. Meski sepedanya mahal, Rony tak menerapkan perawatan yang istimewa. Sepedanya hanya dilap dengan kain basah supaya tetap bersih dan diservis bila mulai terasa kurang nyaman. (det/wis)


×
Berita Terbaru Update