-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengakhiri Konflik, Tundukkan Sifat Sombong

Minggu, 15 Desember 2019 | 07.34 WIB Last Updated 2019-12-15T00:34:03Z


KONFLIK itu harus disudahi. Bahkan diputus. Akarnya. Bukan malah dipupuk. Atau disimpan untuk di kemudian hari dibuat drama lagi. Dibikin heboh lagi. Energi masyarakat terkuras lagi. Untuk masalah yang sama. Seakan tidak ada pekerjaan lain. Itu-itu saja. Konflik. Konflik. Dan konflik. Seolah itu mengasyikkan. Padahal, sungguh, menyesakkan. Keledai saja tidak mau konflik. Dia hanya terantuk pada lubang yang sama.

Konflik, bila menyangkut banyak hal substansial, bisa jadi sebuah keharusan. Semacam diskurus-nya Michel Foucault. Peradaban ini, termasuk peradanan Islam, dibangun dengan konflik yang indah semacam itu. Bukan konflik bebal yang menyebalkan seperti akhir-akhir ini. 

Kita semua tahu, konflik di antara umat Islam sendiri ini sangat aneh. Melulu soal itu itu saja. Saya tidak akan menyebut kata, sebab kita semua sudah tahu apa yang jadi bahan konflik itu. Dan keasyikan dengan konflik membuat kita seakan jadi orang bodoh. Sebodoh-bodohnya.

Paling akhir tragedi persekusi terhadap dua anggota Banser itu. Tragedi kebodohan yang dibanggakan. Divideokan. Lalu viral. Jadilah air bah. Lantas menggulung kebodohan itu sendiri.

Betapa tidak, pelaku dengan semena-mena memaksa dua anggota Banser untuk bertakbir. Salah satu Banser yang kemudian diketahui bernama Eko kukuh tidak bertakbir. Tentu bukan karena dia tidak mau memuji kebesaran Allah SWT, tapi lebih ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak mau dipaksa-paksa. Oleh orang yang tidak jelas jluntrungnya. Orang yang sok tahu akan Tuhan tapi sama sekali tidak ada cahaya Tuhan di matanya. 

Bahkan, bisa jadi Eko sendiri, sudah bertakbir dalam setiap detak jantungnya sebab terbiasa berdzikir. Dalam khazanah dzikir, setiap detik, seseorang bisa bertakbir, bertasbih, atau bertahmid, dalam keintiman yang tiada tara dengan Tuhannya. Bukan dipertontonkan dengan murah bersama kebodohan yang tiara tara.

Setiap salat umat Islam pasti bertakbir. Gus Nadirsyah Hosen (2017) memaknai takbir sebagai garis pemutus antara kita dan kefanaan dunia. Kita “mi’raj” ke hadapan Allah lewat takbir. Takbir pun menjadi ekspresi kerendahan segala-galanya. Hanya kepada Allah SWT semata. Sebab, hanya Allah yang Maha Akbar.

Karena itu, sangat ironis, bila simbol kerendahan manusia di hadapan Tuhannya ini justru dilontarkan dengan kepongahan. Kesombongan. Dan pongah. Juga sombong, itu dosa favorit setan. Iblis, setan, dan jajarannya, setiap detik meniupkan aroma madu kesombongan kepada manusia. Sebagai keindahan, keasyikan, hiasan yang membanggakan. Lalu manusia pun terlena dan menganggapnya sebagai kebenaran.

Sombong merupakan penyakit hati yang mana pengidapnya merasa bangga dan memandang tinggi atas diri sendiri. Dalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya; “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (H. R. Muslim). Sebagai suatu penyakit, sombong hanya bisa disembuhkan berdasarkan kesadaran diri penderitanya sendiri karena sombong bertitik berat pada kondisi hati seseorang.

Allah SWT di dalam Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 37 menyebutkan, yang artinya;  “Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan engkau tidak akan dapat menyamai setinggi gunung-gunung.”

Orang sombong yang dikilik-kilik oleh setan pun menjadi orang bodoh. Sombong membuatnya merasa bisa menembus gunung padahal itu tidak mungkin. Sombong membuatnya merasa paling benar dan paling tahu soal Tuhan hingga suka mengkafirkan orang lain padahal sejatinya dialah yang kafir. Kesombongan dan kebodohan itu membuat seseorang suka menghina hingga berujung pada kasus hukum pencemaran nama baik. Si sombong dan si bodoh pun akhirnya harus masuk bui, ya hanya karena kebodohannya.

Umat Islam dilarang bodoh. Juga dilarang sombong. Karena itu, umat Islam diberi petunjuk dalam banyak hal oleh Allah SWT. Petunjuk paling awal dan paling utama adalah  Al Quran. Dan ayat al Quran pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. Bukan perintah shalat, puasa, zakat dan apalagi haji. Membaca adalah pintu mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak mungkin orang tidak membaca akan memperoleh ilmu, baik membaca ayat-ayat qawliyah maupun ayat-ayat kawniyah. Oleh karena itu, membaca sedemikian penting dalam Islam.

Membaca tidak perlu harus membawa kitab besar. Bisa membaca tanda di sekeliling kita. Bila Allah SWT memerintahkan kita menolong tetangga, teman, saudara, atau saat bertemu orang di jalan, maka tolonglah. Jangan malah dipersekusi. Jangan malah dituduh kafir. Beri air minum dan lain-lain. Bahkan, bila benar kalian bertemu orang kafir, jangan tuduh dia kafir. Apalagi di muka umum. Ajak dia ke jalan Allah SWT dengan kebaikan. Dengan kesantunan dan kerendahatian ala Rasulullah SAW. Sekali lagi jangan sombong! Jangan bodoh! (gas) 


Foto: Pelaku persekusi anggota Banser saat meminta maaf (kumparan.com).

×
Berita Terbaru Update