Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Santri Milenial Tunggu Aksi Nyata Tiga Program Unggulan Gubernur Khofifah, Apa Saja?

Monday, December 30, 2019 | 06:55 WIB Last Updated 2019-12-30T00:05:46Z



SURABAYA (DutaJatim.com) - Para santri menunggu langkah nyata Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang memiliki program unggulan di bidang ekonomi dan pendidikan. Hal itu karena program tersebut untuk generasi muda terutama kalangan santri milenial. Program yang dimaksud antara lain One Pesantren One Product (OPOP), Millenial Job Center, dan SMA Double Track. Saat ini di mata kelompok Santri Milenial program-program itu baru sebatas pameran semata sebab belum nyata betul manfaatnya bagi mereka. 

Ketua Gerakan Santri Milenial, Ahmad Athoillah, menjelaskan, program-program tersebut baginya terjadi kekeliruan cara pandang sebab menekankan arah kebijakan ekonomi pada peningkatan ekspor. Hal itu dia nilai justru terbalik dengan pemikiran para milenial. "Bagi kita kaum muda, itu terbalik," katanya dalam diskusi di Satu Atap CO-Working Place Surabaya, Jawa Timur, Minggu, 29 Desember 2019. 


Athoillah mengatakan, Indonesia, terutama Jawa Timur, justru memiliki bonus demografi yang luar biasa karenanya menjadi target pasar dari negara luar. Seharusnya pemerintah melakukan percepatan peningkatan sumber daya manusia berkualitas, sehingga mampu menghasilkan produk sendiri dan berputar di negeri sendiri. 



"Berputar di antarkepulauan, antarprovinsi, itu sudah mampu meningkatkan pemberdayaan ekonomi, di kalangan teman-teman milenial, terutama di desa-desa. UMKM-UMKM tidak perlu didorong untuk ekspor, karena itu justru biayanya besar," kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jatim dari Partai Kebangkitan Bangsa itu. 



Belum sampai di situ, Athoillah melihat program seperti OPOP yang dicanangkan oleh Pemprov Jatim hanya sampai pada pengenalan produk melalui pameran-pameran saja. "Kami butuh beberapa village (desa), beberapa pesantren, yang tidak punya produk, diajari bikin produk, didampingi. Sehingga bakal banyak produk yang dihasilkan dari Jawa Timur,"  katanya.

Sudah Dilakukan


Sebelumnya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, sinergitas tiga program unggulan pemerintahannya itu bakal membuka peluang kerja bagi 600 ribu generasi milenial Jatim 2020 mendatang. "Diharapkan, dari setiap tahun 800 ribu angkatan kerja baru di Jawa Timur, sekitar 600 ribuan akan terjawab," kata Khofifah dalam Festival SMA Double Track di JX Internasional Surabaya, Jawa Timur.

Program ini tentu perlu dibarengi program lain yang bisa disinergikan. Salah satunya program Khofifah yang menggeber misi dagang ke sejumlah provinsi lain, seperti NTT, Sumatera Utara, dan sejumlah daerah lain. Misi dagang ini dinilai berhasil sebab menghasilkan hubungan antara pemerintah provinsi dan antar pengusaha di masing-masing daerah semakin erat sehingga bisa saling bersinergi hingga melakukan transaksi bisnis. 



"Apa yang dikatakan Kelompok Milenialnya Athoillah itu tidak sepenuhnya benar sebab Gubernur Khofifah sudah melakukan seperti yang dia katakan. Gubernur Khofifah justru menggelorakan pemasaran dalam negeri dengan karpet hijaunya. Lihat misi dagang yang dipimpin Gubernur, seperti selama 7 jam memimpin Misi Dagang ke Kaltim, Gubernur Khofifah bisa melakukan trasaksi mencapai Rp 605 miliar lebih, itu kan dalam rangka mengembagkan pasar dari produk Jatim di dalam negeri. Tapi ekspor juga harus dilakukan," kata salah seorang warga Jombang pendukung Khofifah, Salahuddin, saat ditanya soal kritik Kelompok Milenial, Senin 30 Desember 2019 pagi.

Seperti diketahui Gubernur Khofifah siap membentangkan 'karpet merah' dan 'karpet hijau' di Jawa Timur. Karpet merah yang dimaksud adalah membuka lebar untuk investasi baik PMA maupun PMDN, namun di sisi lain juga membuka lebar karpet hijau dengan mendorong pelaku koperasi, UKM dan IKM di Jawa Timur untuk memasarkan produknya di dalam negeri.

Hal itu ditekankan Khofifah dalam Simposium Arah Bauran Kebijakan Bank Indonesia Dalam Menjaga Momentum Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi dan Pelantikan Pengurus ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur Periode 2019-2022 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (18/10/2019) lalu. 

"Kita ingin buka lebar karpet merah yang artinya ini outward looking yaitu kita memberikan ruang untuk investor baik PMA maupun PMDN . Tapi kita juga buka lebar karpet hijau yang berarti inward looking, yaitu memberikan ruang untuk koperasi, UKM dan IKM kita agar terus berkembang," kata Khofifah.

Jika dilihat dari sisi pengeluaran struktur PDRB, kontribusi terbesar di Jawa Timur masih didominasi oleh sektor konsumsi rumah tangga yakni 59,82 persen dengan pertumbuhan sebesar 4,88 persen.  Sehingga, kata dia, pemerintah tak hanya membuka dan memberikan peluang lebar untuk investor namun tetap harus memberikan dukungan dan dorongan agar UKM dan IKM tetap hidup. Oleh karena itu, program KUR menjadi signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui koperasi, UKM dan IKM. (gas)

Foto: Ahmad Athoillah

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update