-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gus Baha' dan Harapan Seorang Teman

Minggu, 12 Januari 2020 | 10.19 WIB Last Updated 2020-01-12T03:19:20Z

SURABAYA (DutaJatim.com) - Saya suka dengan teman saya ini. Bukan karena dia baik dan suka mentraktir, tapi karena tetiba saja dia mengaku suka dengan Gus Baha'. Lo kok!?  Ya, ini kejutan bagi saya.

Pasalnya, entah pasal berapa ya, selama ini dia "kurang ngeh" dengan apa-apa yang ada di Nahdlatul Ulama (NU). Karena kurang tahu jerohan NU itu seringkali dia terlalu kritis terhadap apa-apa yang ada di NU. Gampangnya suka suudzon.

Tapi tidak soal Gus Baha'--KH Bahaudin.

Setiap bertemu saya, dia pasti cerita soal Gus Baha'. "Tapi saya tahunya dari Youtube, bukan mendengar langsung ceramah Beliau. Sepertinya Beliau lain dengan tokoh NU lain. Lain kalau berceramah," kata si teman tadi.


Maaf, si teman ini memang bukan orang NU, tapi dia teman saya, yang asli NU. Karena itu, dia sangat antusias bila cerita soal apa saja terkait NU ketika bertemu saya. Sebab, menganggap saya NU tulen, two learn hehehe katanya, dua orang yang suka berdebat dan belajar. Khususnya soal NU. Walau dia bukan NU.

Mungkin teman-teman NU yang lain juga mengalami hal seperti saya. Memiliki teman dari kalangan non-NU pasti bila bertemu suka menyinggung soal ke-NU-an, yang kadang cenderung kritik. Yang NU kok begini? Tokoh NU kok begitu? Dan seterusnya. Intinya kritik. Tapi saya tidak akan cerita bagaimana dia mengkritik NU. Sudah terlalu lumrah untuk diceritakan.

Tapi saya akan cerita bagaimana dia berbinar ketika bicara soal Gus Baha'. Katanya, kiai, gus, atau dai, boleh juga ustad, itu akan silih berganti menjadi penceramah yang popular. Sering tampil di tivi. Punya channel youtube. Punya tim medsos. Punya jutaan subscriber. Iklan banyak. Banjir pemasukan. Sering "tanggapan" atau diundang ceramah. Tapi usia keterkenalannya pasti terbatas.


Dulu ada KH Zainuddin MZ, kiai sejuta umat. Lalu Cak Nun. Ada pula Aa' Gym, sekarang ada banyak, Ustad Abdul Shomad, Ustad Adi Hidayat, Gus Muwwafiq, dan tentu saja Gus Baha'.

"Pada setiap ustad yang moncer namanya akan ada waktu sinarnya. Aa' Gym kemudian sinarnya meredup ketika muncul isu poligami, UAS juga kena isu cerai, Gus Muwwafiq isu yang kemarin itu, dan sekarang wayae Gus Baha'. Gus yang ceramahnya menurut saya bagus dan rasional serta proporsional, meski Beliau bisa saja membahas lebih mendalam soal-soal agama. Tapi pasti tidak akan kebablasan bila bicara soal isu sensitif, seperti misalnya bila bicara kisah masa kecil Nabi SAW," katanya.

Yang terakhir itu, tentu saja, saya menafsirkan menyindir Gus Muwwafiq. Tapi saya belum merasa sinar Gus Muwwafiq meredup. Toh, tidak majalah, eh masalah, bila banyak kiai atau gus atau ustad yang bersinar. Yang sinarnya bisa menerangi jalan hidup umat. Agar umat tidak salah jalan. Agar tidak kesasar.

Apalagi sekarang banyak orang salah jalan. Banyak pejabat kesasar. Si teman saya menambahkan, banyak kiai dan gus yang berakrab-akrab dengan pejabat, juga kesasar. Terseret jalan kemewahan. Pamer kekuasaan.

"Bangga bisa ceramah di istana," katanya.

"Lho, kan benar, katamu banyak pejabat salah jalan?" saya menyanggah.

"Iya, itu benar. Tapi jangan malah ikut pejabat yang salah jalan itu. Penceramah jangan malah diceramahi. Mengajak. Jangan malah mau diajak," katanya.

"Sopo maksudmu?" tanya saya.


"Saya tidak menyebut nama. Tapi yang jelas bukan Gus Baha'" jawabnya dengan rasa kagum kepada Gus Baha'. Dengan keyakinan kiai muda ini akan tetap menjadi ulama yang tidak larut dalam permainan umara.

Ulama yang mampu menjaga titik imbang antara posisinya dengan posisi kekuasaan. Yang kadang bisa menjadi predator bila kekuasaan itu membesar dan meneror umat. Tapi juga ulama yang bisa mensupport kekuasaan bila memang menjadi pelindung umat.
 
Dia lalu menceritakan ulama yang dekat dengan kekuasaan tapi masih mengurusi hal-hal kecil yang dialami penduduk di sekitar kediamannya. Soal warga yang butuh bantuan membangun rumahnya, butuh membebaskan lahan untuk jalan di kampung, butuh nasihat soal perkawinan, butuh saran soal anaknya yang nakal. Semua diterima dengan baik. Tidak meminta imbalan, malah memberikan sesuatu kepada warga yang mendatanginya itu.

"Saya yakin Gus Baha' akan seperti itu bila menjadi ulama yang dekat dengan kekuasaan."

Dia berkata dengan mantap. Dan saya manggut-manggut saja senang sebab baru pertama kali ini dia berkata benar soal NU.   (*)

foto: twitter Alissa Wahid
×
Berita Terbaru Update