-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemprov Jatim Gandeng USAID Siapkan Warga Mandiri Tangguh Hadapi Bencana

Tuesday, January 21, 2020 | 11:58 PM WIB Last Updated 2020-01-21T16:58:10Z

Consul General AS di Surabaya, Mark McGovern (kiri), saat menghadiri acara kerja sama dengan Pemprov Jawa Timur di Surabaya.


SURABAYA (DutaJatim.com) - Masyarakat Jawa Timur (Jatim) perlu diberi kesadaran untuk menghadapi bencana akibat perubahan iklim. Khususnya perubahan cuaca yang ekstrem. Untuk itu Pemprov Jatim menjalin kerja sama dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) yang baru saja berakhir. Program itu, kata  Consul General AS di Surabaya, Mark McGovern, Selasa 21 Januari 2020, telah memberdayakan kemandirian dan ketangguhan ekonomi bagi sedikitnya 18 ribu masyarakat di wilayah setempat.

"Kami gembira telah bekerja sama dengan Pemprov Jatim dan sektor swasta serta masyarakat sipil melalui program-program USAID, sebab kolaborasi ini telah berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas," kata McGovern, pada acara mengakhiri kerja sama dengan Pemprov Jawa Timur di Surabaya, seperti dikutip dari Antara.

Dia mengatakan, selama kerja sama juga menghasilkan lebih dari 8.000 orang masyarakat dan 334 staf pemerintah daerah yang lebih siap untuk adaptasi iklim dan pengurangan risiko bencana.

McGovern mengatakan, USAID melalui program Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) telah memberikan bantuan teknis penanggulangan bencana, khususnya di tujuh kabupaten/kota di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas, meliputi Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, Blitar, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang.

"Amerika Serikat dan Indonesia menghadapi tantangan serupa terkait cuaca seperti banjir, kebakaran hutan dan longsor. Oleh karena itu, kami mengaku perlu mengambil langkah proaktif untuk mencegah dan beradaptasi terhadap ancaman tersebut dan dampaknya," katanya.

Selama program kerja sama, kata dia, USAID APIK telah bermitra dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, lembaga penelitian, sektor swasta dan anggota masyarakat untuk meningkatkan ketangguhan terhadap risiko terkait iklim maupun bencana alam seperti banjir, tanah longsor, erosi pantai dan kondisi cuaca ekstrem.

Peningkatan ketangguhan, dilakukan dengan kajian kerentanan untuk memetakan risiko iklim dan menentukan rencana aksi adaptasi perubahan iklim di 17 desa, termasuk program meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi banjir bandang di Mojokerto.

"USAID APIK juga bekerja sama dengan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam mengadakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk petani tebu di Desa Wonokerto, Kabupaten Malang yang mengintegrasikan penggunaan informasi cuaca dan iklim dalam praktik budi daya," katanya.

Selain itu, juga membangun perangkat peringatan dini banjir berbasis komunitas, seperti di Desa Kalikatir, Begaganlimo dan Dilem, di tepi Sungai Klorak, Mojokerto.

"USAID APIK juga secara berkala melakukan pelatihan bagi staf Organisasi Pemerintah Daerah serta pelaku usaha," katanya.

Ia berharap, pemerintah daerah bisa mempertahankan komitmen dalam mendukung rencana aksi ketangguhan.

"USAID juga akan terus berkolaborasi dengan beragam mitra di Indonesia dalam mendukung pemerintah menyiapkan masyarakat yang tangguh," katanya. (ndc/ant)
×
Berita Terbaru Update