-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pesan dari Vatikan: Akar Keberadaan Manusia adalah Saudara

Jumat, 17 Januari 2020 | 10.21 WIB Last Updated 2020-01-17T03:21:33Z


Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersama Paus Fransiskus di Vatikan.


VATIKAN (DutaJatim.com) - Paus Fransiskus menerima audiensi 18 tokoh agama-agama Ibrahim dari seluruh dunia di kediamannya, kompleks Basilica, Vatikan, Rabu (15/1/2020) malam. Salah satu tokoh agama yang hadir itu adalah KH Cholil Staquf (Gus Yahya).

Para tokoh agama itu menghadiri  forum Inisiatif Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative) yang digelar di Vatikan mulai Selasa hingga Jumat (14-17/1/2020) hari ini.

Seperti disampaikan Gus Yahya, dalam kesempatan itu, Paus Fransiskus mengatakan, forum Inisiatif Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative)  merupakan wahana untuk mengedepankan ikhtiar-ikhtiar perdamaian.  Masalah apa pun yang dihadapi, hendaknya semua masalah mesti dikembalikan ke akar keberadaan manusia, yaitu sesama saudara. 

 Dalam kesempatan itu, ujar Gus Yahya, Pastor Bob Roberts menjelaskan kepada Sri Paus tentang hasil-hasil diskusi, termasuk penegasan dukungan terhadap ‘Piagam Persaudaraan Kemanusiaan’ yang ditandatangani bersama antara Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar, Syekkh Ahmad Al Tayeb, di Abu Dhabi pada Februari tahun 2019 lalu. 

Diskusi yang digelar sejak pagi hingga sore seharian pada Rabu (15/1/2020), di Gregorian University, Roma, mengerucutkan sikap dan langkah bersama dalam menghadapi kemelut kemanusiaan dewasa ini.

"Kemelut kemanuaiaan yang sangat kental diwarnai oleh konflik antarkelompok agama,” kata  Gus Yahya dalam rilisnya  Jumat  (17/1/2020).  

 Gus Yahya sendiri dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa siapa pun yang membuat deklarasi harus siap menindaklanjutinya dengan langkah-langkah strategis yang nyata. Dia memberi contoh dengan menjelaskan kiprah Nahdlatul Ulama (NU) dalam membangun strategi transformatif melalui aktivisme sosial, yaitu melakukan pelayanan bagi masyarakat dalam arti luas, termasuk melindungi hak-hak kelompok minoritas.


 Pendapat para peserta, kata Gus Yahya menceritakan, pada awal diskusi Duta Besar Keliling Amerika Serikat Untuk Kebebasan Beragama, Sam Brownback, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam. Baginya, jika konflik antaragama dibiarkan maka ujungnya adalah saling bunuh di antara sesama manusia. 

 “Ungkapan itu persis seperti analisis yang dipaparkan dalam ‘Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor Tentang Islam untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam)’, pada tahun 2017 yang lalu," ujar Gus Yahya. 

Pada kesempatan itu, Brownback juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas segala yang telah dilakukan NU selama ini dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Reverand Thomas Johnson dari World Evangelical Alliance menekankan bahwa deklarasi saja tidak cukup, karena belum tentu banyak orang mau sungguh-sungguh membaca dan mempelajarinya. 

Sementara Chief Rabbi David Rosen menilai perlunya kalangan politik menengok agama-agama sebagai basis strategi resolusi konflik, bukan hanya pendekatan militer dan ekonomi.  

Musyawarah pada akhirnya mencapai kesepakatan untuk terjun ke wilayah konflik demi mengupayakan jalan keluar. Gus Yahya mengingatkan bahwa hal itu harus dilakukan dengan strategi yang komprehensif dan terkonsolidasi. 


 “Tentu dengan dukungan instrumen-instrumen dan sumber daya-sumber daya yang penuh,” pungkasnya. (nuo/hud)



×
Berita Terbaru Update