-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Raja-raja Palsu di Negeri yang Membisu

Minggu, 19 Januari 2020 | 01.48 WIB Last Updated 2020-01-18T18:48:26Z


JAKARTA (DutaJatim.com) – Munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah, Keraton Djipang di Blora Jawa Tengah, dan Sunda Empire-Earth Empire di Jawa Barat menghebohkan masyarakat. Fenomena ini dibarengi dengan munculnya video Ningsih Tinampi yang mengaku bisa memanggil malaikat dan nabi. Semua serempak bikin heboh. Mereka Raja-raja Palsu  di Negeri yang Membisu.

Sekujur Pulau Jawa pun diguncang isu yang tidak masuk akal. Mulai Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Secara kebetulan, heboh kasus ini berkelindan dengan kasus besar lain. 

Kasus yang nyata tapi juga sama-sama tidak masuk akal. Apa itu? Skandal Jiwasraya dan Asabri. Tidak masuk akal sebab keduanya merupakan BUMN. Salah kelola. Padahal instrumennya lengkap. Termasuk OJK. Tapi mengapa bisa sebobrok itu? Mengapa kerugian negara sebesar itu. Puluhan triliun rupiah. Sungguh tidak masuk akal.  Apakah dua sisi kasus yang menyedot perhatian masyarakat ini saling berkaitan? Jawabannya bisa iya bisa tidak.

Disebut berkaitan bila kita melihatnya dari teori konspirasi misalnya. Mengapa kasus kerajaan abal abal itu muncul bersamaan? Jawabannya karena memang sudah disiapkan sejak lama oleh orang-orang yang memang ingin negeri ini digoyang dengan isu-isu  yang di luar nalar manusia itu. Artinya, ada skenario besar yang akan dimunculkan pada momen tertentu. Semisal saat ada gonjang-ganjing di negeri ini. 

Modusnya selalu memakai agama dan hal yang bersifat keyakinan seperti kepercayaan adanya keraton impian yang menjanjikan hidup aman nyaman adil dan makmur. Dulu hal serupa muncul dengan adanya Gafatar di mana banyak orang berbondong-bondong ke kamp tempat komunitas Gafatar berada. Kamp yang juga menjanjikan hidup sejahtera dan damai.

Lihat juga di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahu Falahil Mubtadiin Kasembon, Kabupaten Malang, yang mendadak  ramai menjadi pembicaraan menyusul eksodus warga dari berbagai daerah ke pondok tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa kiamat sudah dekat, sehingga harus semakin mendekatkan diri dan bersiap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Ponpes pimpinan KH Agus Muhammad Romli Sholeh (Gus Romli) yang mengajarkan tarekat Akmaliyah Ash Sholihiyah itu diyakini sebagai tempat yang tepat untuk mempersiapkan diri menghadapi kiamat. Karena itu mereka mengungsi ke ponpes tersebut. Tentu saja ini juga bikin heboh masyarakat.

Dalam ilmu intelijen, muncul sebuah peristiwa yang bikin heboh lantaran menyedot perhatian publik secara nasional pasti memiliki tujuan tertentu. Salah satunya untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada kasus besar yang terjadi pada waktu tersebut. Heboh saat ini kebetulan berbarengan dengan dua skandal di BUMN itu. Apa benar dua hal itu berkaitan? Tentu saja tidak bisa dibuktikan secara langsung tapi bisa dirasakan. Begitu juga siapa pelakunya dan apa keuntungannya.

Yang kedua analisa psikologi sosial.  Menurut Sosiolog asal Universitas Nasional (UNAS), Sigit Rochadi, fenomena tersebut muncul karena adanya pemikiran feodal atau sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat. Kata Rochadi, pemikiran ini muncul karena ada upaya masyarakat kelas bawah yang ingin naik derajatnya.

"Ini akibat refeodalisme. Bangkitnya 'keraton-keraton' di beberapa daerah bentuk gejala refeodalisme. Sistem ini bangkit kembali sebagai upaya kelompok bawah 'naik kelas'," ujar Sigit seperti dikutip dari Okezone, Minggu (19/1/2020).

Mereka-pencetus Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire-, kata Sigit, belum mampu menggunakan modal dan kemajuan teknologi untuk 'naik kelas'. Oleh karenanya, Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire menggunakan cara-cara atau pemikiran lama dengan pemahaman pembelian status. Tapi mengapa muncul bersamaan? Inilah yang aneh!

Yang jelas, mereka orang yang sakit secara kejiwaan. Mereka sakit karena lingkungannya juga sedang sakit. Negeri yang sakit ditandai dengan banyak hal, seperti maraknya kasus korupsi, abuse of power, banyaknya masyarakat yang tidak memiliki rasa malu lagi, runtuhnya moral, agama jadi mainan untuk mencari kedudukan dan kekayaan dan sejenisnya. 

Negara yang sakit memproduksi rakyat yang sakit pula. Rakyat yang tercekik kebutuhan. Rakyat yang terjepit kondisi ekonomi. Dan ketika rakyat berteriak, negeri ini pun diam membisu. Karena itu mereka pun membuat negeri sendiri, meski negara itu palsu. Namun, setidaknya negara palsu itu milik mereka sendiri. Itulah sinisme. Itulah sarkasme. Yang ditunjukkan oleh rakyat. 

Ketika rakyat tidak berdaya menghadapi keadaan, mereka membuat perlawanan yang kadang lucu dan bodoh. Tapi setidaknya, mereka memiliki sesuatu. Mimpi. Meski harus berujung bui. Seperti dialami raja dan ratu keraton agung sejagat.  (gas)
×
Berita Terbaru Update