-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sayidina Ali dan 8 Nasihatnya yang Dahsyat

Saturday, January 18, 2020 | 8:15 AM WIB Last Updated 2020-01-18T01:15:57Z


SURABAYA (DutaJatim.com) - Sahabat Nabi SAW,  Sayidina Ali bin Abi Thalib, dikenal karena kepandaiannya. Kebijaksanaannya. Cendekia. 

Beliau Khalifah keempat dari Khulafaurrasyidin, setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.  Sayidina Ali adalah khalifah pertama dari kalangan Bani Hasyim. Ayahnya adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf, dan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf.

Sayidina Ali dilahirkan di dalam Kakbah dan mempunyai nama kecil Haidarah. Untuk meringankan beban Abu Thalib yang mempunyai anak banyak, Rasulullah SAW kemudian merawat Ali.

Selanjutnya Sayidina Ali tinggal bersama Rasulullah SAW di rumahnya dan mendapatkan pengajaran langsung dari Beliau. Ia baru menginjak usia sepuluh tahun ketika Rasulullah menerima wahyu yang pertama.

Sejak kecil Sayidina Ali telah menunjukkan pemikirannya yang kritis dan brilian. Kesederhanaan, kerendah-hatian, ketenangan dan kecerdasannya yang bersumber dari Al-Qur'an dan wawasan yang luas, membuatnya menempati posisi istimewa di antara para sahabat Rasulullah SAW lainnya. 

Dan kedekatan Ali dengan keluarga Rasulullah SAW kian erat, ketika Beliau menikahi Fatimah, putri Rasulullah yang paling bungsu.

Dari segi agama, Sayidina Ali bin Abi Thalib adalah seorang ahli agama yang faqih di samping ahli sastra yang terkenal. Beliau sangat terkenal, antara lain lewat bukunya "Nahjul Balaghah".

Dalam bukunya tersebut banyak nasihat yang mencerahkan kehidupan kita. Nasihat hidup dan kehidupan. Nasihat yang sangat perlu kita terapkan dalam hidup sehari-hari kita dalam beribadah dan bermasyarakat.

Berikut nasihat Sayidina Ali Bin Abi Thalib kepada kita semua :

1. Tidak ada kebaikan di dalam Sholat yang tanpa disertai dengan perasaan khusu' di dalamnya.

2. Tidak ada kebaikan di dalam Puasa yang tidak bisa mencegah dari perbuatan sia-sia.

3. Tidak ada kebaikan di di dalam baca'an Al-Qur'an yang tidak dibarengi dengan perenungan maknanya.

4. Tidak ada kebaikan di dalam ilmu yang tidak ada sifat kewara'an ( kehati-hatian dari yang haram dan subhat ).

5. Tidak ada kebaikan di dalam harta yang tidak ada kedermawanan.

6. Tidak ada kebaikan di dalam persaudaraan dan persahabatan yang tidak ada penjagaan ( saling menjaga ).

7. Tidak ada kebaikan di dalam suatu kenikmatan yang tidak ada kesyukuran.

8. Tidak ada kebaikan di dalam do'a yang tidak dibarengi dengan keikhlasan.


(Dikutip dari kumpulan kata-kata mutiara para Ulama dan Habaib)

Ilustrasi:  Pixabay
×
Berita Terbaru Update