RajaBackLink.com

PROMOSI PRODUK




Hosting Unlimited Indonesia

Dialog Santai soal 'Kafir' Antara Saya dan Profesor

On Sunday, March 01, 2020



Oleh Imam Shamsi Ali*

SEBENARNYA  pertanyaan ini bukan sesuatu yang baru. Juga pernah ditanyakan kepada banyak orang lain. Bahkan ulama-ulama besar dunia seperti Sheikh Thonthowi dari Mesir juga pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. 

Hanya saja diakui atau tidak, audience yang mempertanyakan itu memiliki latar belakang dan motif yang berbeda. Karenanya target pertanyaan itupun tentu juga berbeda. Ada pertanyaan yang dilatar belakangi oleh dorongan kepentingan politik. Sehingga jawabannya juga kerap kali berujung kepada respon dan pandangan politik. 

Tapi tidak jarang memang karena sebuah kejujuran dan keingintahuan tentang masalah ini. Masalah yang jika disalahpahami, atau dipahami untuk tujuan yang salah akan berujung pada sebuah kesalahpahaman yang super sensitif. 


Bagaimana tidak. Masyarakat awam yang sesungguhnya tidak tahu bahkan tidak terlalu peduli, dibombardir dengan hujan sentimen seolah diserang, dihina dan direndahkan. Pada akhirnya terjadi polemik tajam, bahkan perpecahan dalam masyarakat agama dan antar agama. 

Padahal jika saja masalah ini dipahami secara benar dan proporsional maka tidak perlu terjadi polemik itu. Apalagi permusuhan, kebencian dan perpecahan. Hanya memang diperlukan kejujuran dalam memahaminya serta menempatkannya pada posisi yang sesuai. 

Baru-baru ini di salah satu acara selama perjalanan saya ke beberapa negara di Eropa saya kembali ditanya dengan pertanyaan yang sama. Penanya adalah seorang Professor di salah satu universitas terkenal di Jerman. 

Pertanyaan klasik itu adalah: Kenapa kami non Muslim dilabeli kafir?

Pertanyaan ini sejatinya bagi saya penting. Karena dengannya saya menemukan kesempatan untuk menjelaskan sebuah terminologi yang disebutkan secara baku dalam Al-Quran.

Kata kafir adalah kata “baku” dalam Al-Quran. Maka mengingkarinya sekaligus mengingkari sesuatu yang baku dalam Al-Quran. 

Hanya saja pertanyaan itu bagi saya sekaligus mengandung beberapa konotasi negatif, bahkan pada tingkatan tertentu mengandung  tuduhan-tuduhan kepada agama dan umat ini. 

Satu, seolah Al-Quran itu memecah belah manusia. Ada Mukmin dan ada kafir. Al-Quran dengan sendirinya negatif dalam membangun kedamaian dan harmoni antar manusia. 

Dua, Islam itu merendahkan manusia yang tidak mengimaninya dengan istilah seperti kafir ini. Seolah pengistilahan ini bentuk “penghinaan” kepada non -Muslim. 

Tiga, seolah dengan kata ini orang Islam membenci non Muslim. Maklum kata “kafir” diterjemahkan dengan “infidel” yang sangat tidak pas. Islam sesungguhnya tidak mengenal kata “infidel”. Justeru kata itu dipopulerkan oleh umat Kristiani dengan konotasi permusuhan dan kekerasan. 

Empat, dengan istilah ini pengikut agama Islam itu mengingkari hak orang lain untuk masuk ke syurga. Dengan kata ini seolah Islam telah memutuskan siapa ahli syurga dan siapa ahli neraka di antara manusia. 

Padahal sejatinya pengistilahan tersebut tidak perlu dikonotasikan dengan penafsiran-penafsiran yang negatif di atas. Karena sesungguhnya Umat Islam yang paham agamanya tidak akan merendahkan orang lain dengan kata ini. Tidak akan menyombongkan diri, apalagi memutuskan tentang siapa yang masuk syurga dan siapa yang tidak. 

Kembali ke pertanyaan tadi. Dalam merespon ke professor tersebut saya melakukannya dalam bentuk dialog singkat, serius tapi santai. Dialog itupun terjadi seperti berikut: 

Professor: “Kenapa kami non Muslim dilabeli kafir atau infidel?”


Saya: “Terima kasih. Apakah anda mengimani agama anda?”


Professor: “Iya benar.”


Saya: “Lalu siapa yang anda sebut “orang-orang beriman” kepada agama anda? Bukankah yang mengimani dasar-dasar akidah agama itu?”


Professor: “Pasti demikian”

Saya: “Lalu bagaimana dengan yang tidak mengimani dasar-dasar akidah agama anda? Tidakkah anda menyebutnya dalam bahasa Inggris “unbeliever”? 



Professor: (sang Professor terdiam sejenak, lalu melihat saya dan berkata:) ooh iya benar...

Saya kemudian diam sejenak, tersenyum padanya dan lanjut: 

“Prof, sesungguhnya orang-orang yang kami panggil mukmin (beriman) adalah mereka yang mengimani dasar-dasar agama kami; Allah, Al-Quran, Muhammad, dan seterusnya. Sementara yang tidak mengimani semua itu dan secara sempurna disebut “kafir” oleh Kitab Suci kami Al-Quran”. 

Saya kemudian tanya: “Apakah tuan Professor beriman dengan semua dasar-dasar agama kamu? Beriman kepada Allah, Al-Quran, Muhammad, dan lain-lain? Jika Iya maka tuan Professor adalah seorang Muslim”. 

Sang professor tertawa dan berkata: “Tentunya tidak!”

Saya kemudian menegaskan kembali: “Sesungguhnya dalam semua agama itu ada ketegori seperti itu. Dalam agama yang anda anut pastinya anda mengingkari keimanan mereka yang mengingkari dasar-dasar agama anda. Apakah dalam pandangan anda saya mengimani agama anda ketika saya menginkari dasar-dasarnya?”


“Sebagai Kristen, apakah anda menganggap saya orang beriman kepada Kristiani di saat saya mengingkari ketuhanan Yesus atau dosa asal (origina sin)?”

Sang Professor sekali lagi tersenyum dan menjawab: “Tentu tidak!”. 

Saya kemudian menegaskan sekali lagi kepadanya: “Orang yang tidak mengimani dasar-dasar keyakinan yang kami anut, itulah yang disebut “kafir”. Dan tentunya anda juga punya hak memanggil saya “kafir” dalam pandangan anda. 

Sang Professor tertawa lepas dan mengatakan: 

Oh jika itu maknanya sebenarnya tidak perlu dipolemikkan. Apalagi menimbulkan permusuhan dan perpecahan”.

Saya kemudian menjelaskan: “Betul Prof! Ada istilah-istilah atau terminologi-terminologi pada semua agama yang harusnya dipahami secara internal. Dan orang-orang di luar agama itu tidak perlu risau. 

Saya kemudian melanjutkan: “Kami tidak risau dilabeli ‘domba-domba sesat’ (the lost sheeps). Karena itu istilah yang dipakai oleh teman-teman Kristiani untuk menyebut mereka yang tidak mengimani prinsip-prinsip dasar agama mereka. 


Saya kemudian tutup Dialog itu,  lalu secara Khusus menyampaikan kepada Umat Islam. Bahwa kata kafir bukan dasar untuk menghina, merendahkan apalagi membenci orang. Justeru kata itu harusnya dipakai sebagai penyemangat untuk berbagi (berdakwah). 

Sebagaimana teman-teman Kristiani menjadikan kata “domba-domba tersesat” dijadikan penyemangat membawa “berita gembira kemana-mana”. 

Kata kafir juga jangan dipakai sebagai palu keputusan “neraka” bagi manusia. Karena sesungguhnya hingga setiap orang menghembuskan nafas terakhirnya masih memilki kemungkinan untuk diampuni dan masuk ke dalam syurgaNya Tuhan. 

Dengan demikian, kalau saja kita paham arti kata itu dan siap menerima perbedaan di antara kita secara dewasa, pastinya tidak perlu heboh apalagi saling menyalahkan dan bermusuhan. Sebuah  terminologi memang sering menjadi biang kerok perpecahan!  (*)

Bandara La Guardia, 29 Februari 2020 

*Imam Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation USA.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »