Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kiai Asep Saifuddin Chalim Jadi Gubes UINSA, Pengukuhannya Dihadiri Presiden Jokowi

Sunday, March 1, 2020 | 02:20 WIB Last Updated 2020-02-29T19:20:15Z


SURABAYA (DutaJatim.com)  -  Acara pengukuhan gelar Guru Besar Dr KH Asep Saifuddin Chalim MAg, Ketua Umum Pergunu, di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Sabtu 29 Februari 2020, sangat istimewa. Pasalnya, pengukuhan itu dihadiri orang nomor satu di Indonesia, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi UIN Sunan Ampel itu, juga dihadiri sejumlah kiai dan guru-guru. Dalam kesempatan itu, Kiai Asep menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Model Pendidikan dalam Mengatasi Problematika Masa Kini dan akan Datang (Pada Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet)."


Terkait hal itu, Kiai Asep yang juga pemangku Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Kabupaten Mojokerto Jawa Timur pun menyinggung tentang revolusi industri 4.0 dalam naskah orasi ilmiahnya. Istilah Revolusi Industri 4.0 digunakan sebagai tema utama pada pertemuan World Economic Forum (WEF) tahun 2016 di Dawos, Swiss.



Sejak itu, menurut Kiai Asep, beberapa negara melakukan keputusan mendorong industrinya menuju Revolusi Industri 4.0. Antara lain: Negara Jerman, Amerika Serikat, China, India, Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan lainnya.


“Revolusi Industri 4.0 ini kemudian menimbulkan perubahan radikal dalam proses desain dan manufaktur produk maupun jasa melalui Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Service (Lot and Ios),” tuturnya.

Menyikapi kondisi saat ini, mantan Ketua PCNU Surabaya ini menawarkan model pendidikan yang berorientasi pada pemecahan masalah. 

Pertama, pemecahan masalah globalisasi. Dalam perspektif ekonomi, globalisasi telah menciptakan persaingan semakin luas dan tajam. Sedang secara politik, globalisasi membuka arus ideologi dunia mengalir masuk dengan bebas ke tengah masyarakat sehingga menimbulkan pergeseran ideologi yang selama ini dianut masyarakat.

Menurutnya, dampak buruk ini harus ditangkal dengan cara melalui pendidikan politik, kewarganegaraan dan wawasan kebangsaan pada berbagai jenjang pendidikan.

Kedua, masalah radikalisme. Menurut Kiai Asep, berdasarkan pernyataan Ketua BIN, 30 % mahasiswa terpapar paham radikalisme. Untuk mengatasi ini, Kiai Asep menawarkan penyelesaian melalui konsep Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja). 

“Pemerintah harus segera merumuskan strategi anti-radikalisme melalui pendidikan wawasan kebangsaan dan bisa dipertimbangkan untuk mengadopsi prinsip-prinsip ajaran Aswaja,” katanya.

Ketiga, pemecahan masalah kerusakan lingkungan. Kiai Asep mengupas panjang lebar tentang kerusakan lingkungan dalam makalah aslinya (bukan ringkasan). Menurut Kiai Asep, kerusakan lingkungan sangat parah. Ia menyinggung tentang kepunahan spesies, penangkapan ikan berlebihan (overfishing), penipisan lapisan ozon, pemanasan global (the global warming) dan seterusnya.

“Beberapa Negara industri maju telah melakukan pertemuan di Rio de Jeneiro pada 1992 untuk bersepakat mengurangi kontribusi emisi CO2. Namun perjanjian ini tidak berjalan baik. Pada tahun 2000 diperoleh bukti bahwa Amerika Serikat justeru memberikan kontribusi 10% lebih tinggi dari tingkat emisi CO2 pada 1990,” kata Kiai Asep, putra KH Abdul Chalim Leuwimunding Majalengka Jawa Barat itu.

Karena itu, Kiai Asep menawarkan solusi dalam pendidikan Indonesia. Yaitu membangun peserta didik menjadi insan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan melalui pengembangan pengetahuan dan perubahan sikap. 

“Pemerintah dalam hal ini kementerian yang berhubungan dengan pendidikan dan masalah lingkungan hidup harus segera merumuskan kurikulum yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan bagi seluruh jenjang pendidikan,” katanya sembari mengatakan pentingnya membentuk mata pelajaran atau kuliah ilmu lingkungan hidup.

Keempat, pemecahan masalah pengembangan soft-skill. Mengutip pendapat para ahli, Kiai Asep mengatakan bahwa soft-skills atau people skills dibagi dua jenis, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills.

“Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri agar menjadi lebih baik,” katanya. Karena itu ia mengusulkan agar intrapersonal skills ini dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang berinteraksi dengan orang lain. 

Ia juga menyarankan agar materi soft skills ini juga menyertakan pelajaran agama, bahasa Indonesia dan ilmu komunikasi dan sebagainya.

Kelima, masalah kesenjangan generasi: Milenial, Z dan Alpha. “Ini perlu mendapat perhatian. Generasi Y, Z dan Alpha memiliki ciri-ciri akrab dengan teknolosi informasi dan digital, percaya diri yang tinggi, live for the present, terbuka, instan, reaktif, multi-tasking dan beberapa karakter lain sangaf berbeda generasi X yang lahir pada kurun waktu 1965-1976,” tuturnya.

Keenam, pemecahan masalah industri 4.0. “Pemerintah harus mengambil inisiatif cepat untuk melakukan perombakan kurikulum dan panduan model pembelajaran agar tidak ketinggalan dengan negara berkembang lainnya seperti Vietnam, Malaysia, Thailand dan India,” kata Kiai Asep.

Ia mengusulkan agar pendidikan Islam memilih strategi “double track”. Yakni, dalam kurikulum memasukkan pendidikan vokasi dengan mata pelajaran teknologi informasi dan digital. Dengan demikian pendidikan Islam tidak hanya paham agama tapi juga kompeten dalam bidang teknologi informasi dan digital sebagai modal memasuki pasar tenaga kerja. 

Ucapan Selamat Presiden

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mempunyai apresiasi tersendiri terhadap KH Asep Saifuddin Chalim, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Sosiologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.




"Selamat kepada Bapak K.H. Asep Saifuddin Chalim yang hari ini dikukuhkan sebagai guru besar sosiologi di Universitas Negeri Sunan Ampel, Surabaya," tuturnya.

Sejumlah tokoh pun hadir pada acara tersebut. Selain sejumlah kiai dan guru di lingkungan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) juga kalangan akademisi universitas tersebut.

"Saya mengikuti terus perjuangan Bapak Kiai Asep dalam mengembangkan dan mewujudkan manusia unggul dan berakhlakul karimah. Bukan hanya melalui pemikiran-pemikiran yang beliau sampaikan di banyak kesempatan, tetapi juga melalui kiprah dan karya nyata," kata Joko Widodo, memberi kesaksian pada kiprah Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto tersebut.

"Bapak Kiai membangun pesantren dari nol sampai menjadi pesantren besar seperti sekarang ini, Pesantren Amanatul Ummah di Siwalankerto dan di Pacet. Saya pernah ke sana, dan sekarang kabarnya sudah memiliki lebih dari 10 ribu santri. Kiai Asep juga mendirikan sebuah institut yang membuka layanan pendidikan sarjana dan pascasarjana, yang sebagian mahasiswanya berasal dari beberapa negara. Institut itu juga memberikan banyak beasiswa, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswanya," kata Joko Widodo. (gas)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update