-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Baru Lima Hari Mudik, PDP COVID-19 Meninggal di Lamongan

Sabtu, 04 April 2020 | 06.22 WIB Last Updated 2020-04-03T23:22:51Z


LAMONGAN  (DutaJatim.com) - Ini alasan  mengapa warga Jatim perantauan  diminta sangat berhati-hati saat mudik. Pasalnya, ada pemudik asal Lamongan yang bekerja di daerah merah di Bandung Jawa Barat meninggal dunia di daerah asalnya. Status pemudik itu sebelumnya adalah pasien dalam pengawasan alias PDP COVID -19.

Hal itu terjadi beberapa jam  setelah pasien masuk ruang isolasi RSUD dr Soegiri Lamongan, Jawa Timur. Bahkan pasien belum sempat mendapat perawatan yang lebih detail.

Direktur RSUD dr Soegiri Lamongan, Chaidir Annas, saat dikonfirmasi di Lamongan, Jumat 3 Maret 2020, mengatakan pasien sebelumnya sempat dirawat di ruang isolasi, karena riwayat pasien berasal dari daerah zona merah, yaitu Bandung.

Namun, kata dia, sekitar pukul 13.00 WIB pasien sudah meninggal dunia.

"Pasien ini memang aslinya orang Lamongan, tetapi bekerja di Bandung," katanya.

Dia menjelaskan  pasien awalnya masuk RS setempat setelah mengalami gejala mirip COVID-19, kemudian dilakukan pemeriksaan sesuai standar penanganan COVID-19. Nah dari pemeriksaan laboratorium, radiologi, rongent dan lain sebagainya, terlihat di rongentnya ada tanda peradangan atau pneumenia parah.

"Pasien masuk pukul 09.00 WIB dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas," katanya.

Annas mengatakan PDP dari Kecamatan Turi tersebut meninggal dunia sekitar pukul 13.00 WIB. Pasien  baru masuk ke RSUD dr Soegiri Jumat Pagi sekitar pukul 09.00. Jadi baru empat jam di RS.


Annas mengungkapkan, pasien PDP tersebut pulang dari Bandung sekitar 5 hari yang lalu dan mengalami panas, batuk, dan sesak. sejak Minggu lalu PDP tersebut sakit dan dirawat di rumah. Sebelum pulang ke Lamongan, lanjut Annas, PDP yang meninggal dunia tersebut juga sempat dirawat di sebuah klinik di Bandung.

"Informasinya sudah sakit sekitar 5 hari di Bandung, kemudian dirawat di sebuah klinik swasta, kemudian yang bersangkutan sudah merasa agak enak dan pulang ke Lamongan," katanya.

Annas mengatakan, pihak RSUD dr. Soegiri Lamongan juga belum sempat memberikan penanganan yang lebih detail, namun pasien sudah meninggal. "Tapi sudah kami ambil swab, mau kami kirim ke Surabaya swab-nya," ujarnya.


Chaidir Annas mengatakanm meski belum dipastikan positif, proses pemakaman jenazah pasien dilakukan sebagaimana standar penanganan pemakaman jenazah pasien positif COVID-19.

"Seluruh petugas yang terlibat dalam pemakaman jenazah terlihat memakai alat pelindung diri (APD) lengkap sesuai standar penanganan pasien," katanya.

Berdasarkan data COVID-19 Center Lamongan (CCL) hingga Jumat, pukul 18.30 WIB, terdapat 10 pasien terkonfirmasi positif, 40 orang berstatus PDP, dan 190 warga berstatus ODP. (gas)


Ilustrasi: Proses pemakaman standar penanganan COVID-19.
×
Berita Terbaru Update