-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mahasiswa RI di Rusia Jalani Ramadhan di Tengah Wabah Corona: Sedih Masjid-masjid Tutup, Denda Tak Pakai Masker 3.000 Rubel

Thursday, April 30, 2020 | 3:00 AM WIB Last Updated 2020-04-29T20:13:27Z


Hartomy Akbar berpose di sekitar Masjid Raya (Masjid Putih) di Pulau Bolgar.





Sama dengan di Indonesia, WNI di Rusia menjalankan ibadah Ramadhan dalam suasana pendami COVID-19. Rusia memberlakukan aturan ketat dalam upaya mencegah penyebaran virus Corona. Masjid-masjid ditutup. Bahkan ada aturan ketat soal jam malam.

                                                



HARTOMY AKBAR BASORY, salah seorang mahasiswa Indonesia di Kota Kazan--ibukota Republik Tatarstan, Rusia,--benar-benar rindu suasana Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Dulu Ramadhan di Kota Kazan sungguh indah. Setidaknya bisa menghapus rasa rindu akan suasana Ramadhan yang syahdu di kampung halamannya di Sidoarjo Jawa Timur. 


Mengunjungi Masjid Agung Qol Sharif di Kota Kazan.


Masjid-masjid semarak dengan ibadah salat Tarawih. Selain itu juga ada iftar. Tapi itu tahun lalu.  Kini sebagian besar masjid di Kota Kazan tutup meski saat ini bulan Ramadhan 1441 Hijriyah.  Masjid Agung Qol Sharif, Masjid Galevskaya, Masjid Raya di Pulau Bolgar atau Masjid Putih, maupun Masjid Rizvan yang  lokasinya dekat dormitori (asrama) mahasiswa RI, juga ditutup. 

Sesuai arahan Dewan Spiritual Muslim Federasi Rusia, sejak 18 Maret 2020 masjid-masjid pun lockdown. Para ulama menyarankan agar umat Islam beribadah, termasuk ibadah Ramadhan, di rumah saja. Hal itu untuk mencegah penyebaran virus Corona yang menyebabkan COVID-19.  

Hanya saja di pintu masuk masjid biasanya diberi nomor telepon. Tujuannya untuk memberi tahu jamaah yang berkepentingan dengan masjid supaya bisa menghubungi takmir. 
"Kalau mau masuk harus konfirmasi dulu. Antre daftar ke takmir," kata mahasiswa yang akrab disapa Tommy ini kepada Koran Global News Rabu 29 April 2020. Tommy yang asal Sidoarjo dan pernah kuliah S1 di Universitas Narotama Surabaya ini, sekarang tengah menempuh pendidikan S2 di Kazan Federal University. 

Menurut Tommy, yang juga Ketua Permira (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia) Kota Kazan, warga di ibukota Rebpulik (semacam provinsi, Red.) Tatarstan ini  memiliki kebiasaan unik yang berbeda dengan di Indonesia saat memasuki masjid. Mereka sehabis wudhu biasanya langsung memakai kaos kaki lalu memasuki masjid untuk melakukan ibadah salat, baik salat lima waktu, Tarawih, maupun salat Jumat, sehingga kakinya tidak menempel langsung dengan lantai masjid. 


Hartomy Akbar di Kampus 1 Kazan Federal University. 



Selain itu, shof jamaah juga sangat mepet. Rapat. Bila di Indonesia ada karpet bergambar masjid hanya untuk satu jamaah, di masjid Kota Kazan bisa diisi dua jamaah.


"Jadi, bener-bener mepet shofnya. Saat musim wabah virus corona di Indonesia salat pun menerapkan physical distancing, tapi di sini shofnya mepet," katanya. Sedang untuk ibadah Ramadhan lain tetap sama tapi dilakukan di rumah sebab masjid ditutup. 


Sanksi Bagi Pelanggar


Dalam menghadapi wabah Corona, Pemerintah Rusia menerapkan aturan yang ketat. Warga harus memakai masker. Selain itu ada jam malam mulai pukul 22.00 hingga pukul 06.00 pagi. Pada saat jam malam ada aturan ketat dan sanksi denda bagi yang melanggarnya.

"Kalau tidak pakai masker denda sekitar 3.000 rubel atau setara Rp 600 ribu. Bila pada saat jam malam lalu keluyuran hanya main saja lantas tertangkap petugas dendanya sekitar 15.000 rubel atau setara Rp 3 juta dan berlaku kelipatan. Tapi kalau di luar jam malam masih longgar, tidak ada razia acak," kata Tommy.


Hartomy Akbar di Kampus 3 Kazan Federal University. 

Pemerintah Rusia juga menutup perbatasan antarnegara sejak 28 Maret 2020. Bila naik kereta api, saat di stasiun diperiksa paspor dan visa. Bahkan antarkota juga ditutup. Orang asing dilarang masuk sejak 18 Maret sampai 30 Mei ke federasi Rusia kecuali urusan pemerintahan. Penerbangan kenegaraan masih diperbolehkan. 

Penerbitan visa juga dihentikan sampai 30 Mei tapi belum pasti juga sebab bisa saja diperpanjang mengingat kondisi wabah Corona semakin mengkhawatirkan. "Pelajar penerima beasiswa dari Indonesia biasanya masuk bulan Juli tapi ini juga belum tentu dan bisa mundur mengingat wabah Corona ini," katanya.

Data hingga Selasa  28 April 2020 pukul 12.56 MSK, korban terinfeksi  Corona di Rusia  93.558 orang, meninggal 867 orang dan sembuh   8.456 orang.
Sedang data di seluruh dunia, terinfeksi  3,076,185 orang, meninggal  211.941 orang dan sembuh     925.503 orang. Sementara di Indonesia yang terinfeksi  9.511 orang, meninggal 773 orang dan sembuh    1.254 orang.

"Hingga Selasa 28 April 2020 pukul 12.00, total kasus Corona mencapai 93.558. Bahkan diperkirakan menembus angka 100 ribu. Ada 6.411 kasus baru per Selasa 28 April jam 12.00. Untuk Kazan ibukota Tatarstan ada 697 kasus tapi ada yang sembuh 72 orang," katanya.

Melihat hal itu pemerintah tegas menerapkan aturan pencegahan wabah ini. Namun demikian ada juga yang membandel. Misalnya saat bertemu ada yang masih bersalaman. Warga kalau bersalaman selalu melepas sarung tangan dulu baru berjabat tangan. 

Mereka tidak mau memakai sarung tangan saat bersalaman. Bahkan yang perempuan punya tradisi berpelukan saat bertemu. Begitu pula laki-laki dan perempuan bila sudah akrab juga seringkali berpelukan. Itu tradisi Rusia.

Sebagai mahasiswa, Tommy dan kawan-kawannya bersyukur sebab Kazan Federal University tempatnya menimba ilmu juga memberi sembako seminggu sekali sebanyak tiga tas plastik. Isinya bahan makanan seperti kentang 5 kg, pasta, beras, saos, mayones. Lalu pada tas plastik lain ditambah ayam potong 500 gram, sarden dan lain-lain. Plus satu tas lagi isi sabun baik sabun mandi maupun untuk cuci piring.

"Uang beasiswa tetap diberi tapi tidak besar. Per bulan 2000 rubel atau 400 ribu rupiah sampai sekarang. Kota lain ada yang 6.100 rubel. Tapi dari Pemerintah Indonesia tidak ada beasiswa. Dulu zaman Pak SBY ada, tapi mungkin ada pertimbangan lain sekarang tidak ada. Kami berharap Pemerintah RI memberi uang bulanan untuk mahasiswa di sini," katanya.


Berpose di depan Temple of All Religion--area miniatur tempat ibadah berbagai agama di Kazan. 



Namun demikian Menko Polhukam Mahfud MD pernah meminta kepada Dubes Rusia agar jumlah penerima beasiswa ditambah. Ini agar lebih banyak lagi pelajar Indonesia menimba ilmu di Rusia.

"Tapi belum ada kebijakan meningkatkan uang bulanan. Para mahasiswa sangat membutuhkan uang bulanan itu dari Pemerintahan Pak Jokowi," katanya.
Tommy dan muslim lain tentu saja rindu suasana Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, Kota Kazan saat Ramadhan biasanya sangat ramai dan indah. Begitu pula di kota-kota lain di Rusia yang umat Islamnya cukup banyak.

Islam sendiri agama dengan jumlah penganut terbesar kedua di Rusia. Presiden Vladimir Putin, saat hadir pada peresmian Masjid Agung Moskow September 2015 silam menyatakan, bahwa Islam merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan spiritual Rusia.

Dan Republik Tatarstan dengan ibukota Kazan merupakan provinsi dengan penduduk mayoritas muslim. Kota Kazan malah ada yang menyebut seperti kota santri. Selain itu Republik Dagestan dengan ibukota Makhachkala dan Republik Bashkortostan dengan ibukota Ufa juga banyak muslimnya. 

Kota Kazan banyak memiliki masjid dan gereja. Bahkan masjid dan gereja tua itu  sudah berdiri sejak zaman dulu.  Yang menarik, pada tanggal 24 hingga 26 April 2019 lalu diadakan acara besar bertajuk Rusia - Islamic World Kazan Summit 2019 yang saat itu untuk menyambut bulan Ramadhan yang dimulai tanggal 6 Mei 2019. (Gatot Susanto)
×
Berita Terbaru Update