-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Alumni Program RI-Jepang (KAPPIJA-21): Berbagi Ilmu Bertani, Bisnis, hingga Iptek Kesehatan

Wednesday, May 6, 2020 | 7:00 AM WIB Last Updated 2020-05-06T00:00:35Z



Sekitar  4.162 orang Alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang Abad 21 atau disingkat KAPPIJA 21 di tanah air maupun di luar negeri akan bersilaturahim secara daring dalam ajang "Sharing Ide dan Peluang dari Alumni untuk Alumni" yang digelar melalui aplikasi ZOOM Kamis 7 Mei 2020. Mengambil tema Peluang dan Tantangan di Masa Pandemi Covid-19, acara ini antara lain menghadirkan narasumber jurnalis yang juga "raja infotainmen" Ilham Bintang. Selain itu ada pula diaspora Syarif Syaifulloh yang dikenal sebagai Pak Tani Amerika tampil Sabtu 16 Mei 2020 membahas Covid-19 dan Dampaknya.




LAPORAN GATOT SUSANTO



ADA pula Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D., Spesialis, Dept Anatomi & Neurobiologi Universitas California, Irvine USA, membahas Science dan Teknologi, Hikmah di Balik Pandemi Covid-19 Minggu 19 Mei 2020, serta Kupas Tuntas Ekonomi dan Bisnis UKM dan Peluang Ekspor Pasca Covid-19 Sabtu 9 Mei 2020.


Alumni KAPPIJA 21 sendiri tersebar di seluruh dunia. Menggeluti berbagai profesi. Salah satunya diaspora Indonesia di Philadelphia Amerika Serikat Syarif Syaifulloh atau Pak Tani.


Siapa sangka di balik kesibukan Pak Tani di Amerika ternyata banyak aktivitasnya tak diketahui selama di Indonesia. Bapak dari tiga anak yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya itu ternyata pernah ikut dalam "The Japan-ASEAN Youth Friendship  Program for 21 Century" dan The Training Progam for Young Leaders". Program ini dipelopori oleh Perdana Menteri Jepang Yasuhiro Nakasone dan berdiri pada tanggal 18 Maret 1985.


"Saya alumni 1997 ikut progam Sosial Development. Saya senang menjadi pembicara dalam sesi Zoom Covid-19 dan dampaknya, bersama narasumber dari berbagai negara. Ini adalah suatu hal yang sangat positif, kegiatan ini yang mengadakan KAPPIJA -21 Pusat," kata Syarif Syaifulloh kepada DutaJatim.com Selasa 5 Mei 2020.


Para alumni tersebut saat ini banyak menduduki jabatan penting baik di pemerintahan maupun swasta. Ada yang menjabat menteri seperti Airlangga Hartarto sebagai alumni angkatan 1985 dari kelompok Youth Leader sekarang menjabat Menteri Koordinator Perekonomian. Tjahjo Kumulo alumni 1984 kelompok Student, sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Ilham Bintang alumni 1985 dari kelompok Youth Leader seorang tokoh senior media dan infotainment. Wening Esthyprobo alumni 1986 kelompok Public Officer, diplomat senior dan baru setahun ini bertugas sebagai Dubes RI di Hongaria.



Selanjutnya Pongki Pamungkas alumni 1985 dari kelompok Working Youth sekarang Chief of Corporate Affairs dari PT Astra Insternasional Tbk. Darul Siska alumni 1984 dari kelompok Student,politisi Partai Golkar yang sekarang anggota parlemen.

Ruhut Sitompul alumni 1984 dari kelompok Youth Leader adalah advokad, aktor, dan politisi Indonesia. "Di bidang Pendidikan ada Bapak Prof Budi Setiyono S.Sos.,M.Pol.Admin.,Ph.D yang saat ini menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor I di Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah, alumni tahun 1997 berbarengan dengan saya. Juga Mohammad Al Arief yang  sebelumnya adalah Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bahkan ada yang sampai menduduki jabatan penting di World Bank," katanya.

Pengalaman Berkesan

Para alumni KAPPIJA 21 sudah memberikan kontribusi terbaik bagi negaranya. Program yang disponsori Pemerintahan Jepang  melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) ini dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan Kementerian Sekretariat Negara. 


Program ini mengirimkan pemuda-pemudi Indonesia ke Jepang untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Jepang dengan tujuan membangun sumber daya manusia dan meningkatkan pemahaman sosial dan budaya kedua negara.


Peserta program ini berasal dari berbagai kalangan, seperti pejabat serta staf dari berbagai kementerian dan pemerintah daerah, para guru, dokter, pengacara, pelaku bisnis, jurnalis, anggota parlemen, staf organisasi nirlaba, dan lain sebagainya. Total alumni program ini per 17 Desember 2018 berjumlah 4.162 orang alumni yang tersebar di dalam dan luar negeri,di pemerintahan pusat dan daerah serta sektor swasta.




"Saya ikut progam ini wakil dari LSM Lembaga Pelestarian dan Pengembangan Dongeng Indonesia pimpinan Kak Kusumo Priyona. Beliau dikenal sebagai  Raja Dongeng Indonesia. Saat pemilihan cukup ketat karena diambil dari seluruh Indonesia yang berjumlah 300 orang lebih. Selanjutnya  hanya sekitar 75 orang yang lulus dan bisa mengikuti progam tersebut," kata Syarif.


Pengalaman menarik dan berkesan saat mengikuti program di Jepang ini, kata Syarif, dirinya bisa merasakan perbedaan dua negara. Baik sosial budaya maupun ekonomi.

"Saat itu negara Jepang sangat maju, saya banyak mengunjungi perusahaan,pedesaan, dan kunjungan ke berbagai universitas untuk berdiskusi dan menjalin persahabatan. Selain itu juga berkunjung ke provinsi lain di Jepang,serta tak kalah menarik adalah saat home stay di mana saya tinggal bersama masyarakat Jepang untuk mengetahui dan belajar culture-nya. Saat makan kadang bingung karena saya harus duduk di bangku meja ala Jepang dan makan pakai sumpit. Dan karena saya tidak terbiasa jadi ambilnya selalu jatuh-jatuh nasi dan lauk pauknya. Lucu juga saat masuk ke toilet di mana saya harus melakukan hal yang sebenarnya tidak biasa saya lakukan selama ini hahaha...," katanya mengenang.


Prof. dr. Taruna Ikrar 

Selain Syarif, diaspora Indonesia di Amerika yang tampil di acara ini adalah  Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD, Ph.D. Lahir di Makassar, 15 April 1969, Taruna adalah dokter dan seorang ilmuwan  Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Kini dia menjabat sebagai spesialis di departemen anatomi dan neurobiologi Universitas California di Irvine Amerika Serikat. 


"Prof Taruna Ikrar, alumni Kappija-21 angkatan 2001, bidang Regional Development," katanya.


Bertani di Amerika

Kisah Syarif sendiri menginspirasi banyak orang. Hampir 10 tahun menekuni berkebun di halaman rumah, Syarif Syaifulloh ternyata tidak pernah mengkomersialkan sayuran yang ditanamnya. 


Secara sukarela dia membagi-bagikan kepada tetangga atau orang lain yang datang mengunjungi kebunnya untuk belajar, selain untuk konsumsi sendiri.
Pekerjaan Syarif sesungguhnya adalah cook atau juru masak di salah satu rumah sakit besar CHOP The Children Hospital of Philadelphia. Ia bercocok tanam saat sebelum dan setelah bekerja di rumah sakit. Sedangkan istrinya bernama Ummu Hani White, lahir 9 Januari 1976, saat ini bekerja sebagai Commissioner Governor’s Advisory Commission on Asian Pacific American Affairs.


Haiqal’s Garden dijadikan Syarif sebagai sarana edukasi bagi semua orang. Dari mulai anak-anak TK sampai mahasiswa perguruan tinggi dan orang tua, baik orang Indonesia maupun penduduk setempat. Bahkan ketika kembali ke Indonesia, Syarif juga sering diminta menjadi narasumber di berbagai acara. “Intinya berbagi dengan masyarakat,” ujarnya.


Sebagai upaya berbagi kepada masyarakat, Syarif membuat buku berjudul Haiqal’s Garden atau Kebun Haikal dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. Ia mencantumkan bahasa Indonesia karena ingin mengenalkan bahasa sendiri kepada masyarakat luar.


Dalam menyampaikan bukunya, terutama kepada anak-anak, Syarif yang memang seorang seniman memberikan ide baru melalui phantomim, sedangkan istrinya yang membacakan isi bukunya. 


"Saya ingin memberikan edukasi kepada anak-anak untuk berkebun sejak dini," kata Syarif.





Ketika ditanya apakah Syarif ingin kembali dan bercocok tanam di Indonesia, dia justru balik bertanya, “Jika saya kembali ke Indonesia, apakah pemerintah mampu atau tidak mendukung saya melakukan kegiatan ini?” ujarnya. “Saya siap, jika pemerintah dapat memberi sarana pendukung,” tambahnya.

Syarif merasakan, pemerintah AS sangat mendukung dan memberi apresiasi yang baik kepada petani. Irigasi gratis, bahkan jika bayar itu sangat murah. Benih dan kompos mudah didapat dan gratis. Media tanam juga diberi dari pemerintah secara cuma-cuma. Selain itu, petani juga memiliki budaya yang baik yaitu saling berbagi antar sesama.


Bahkan Syarif juga sempat diberi tanah seluas 500 m2 dari pemerintah setempat untuk diolah, namun ia hanya mengolahnya selama tiga tahun, kemudian dikembalikan lagi ke pemerintah.  “Sewaktu-waktu jika menginginkan tanah itu kembali, saya dapat mengambilnya kembali. Sekarang tanah itu juga tetap dijadikan sebagai lahan bercocok tanam,” tutur Syarif.


Harapan Syarif untuk Indonesia adalah supaya kebijakan pemerintah itu harus berpihak kepada petani, sehingga petani dapat benar-benar maju, tidak hanya berisi slogan saja. Salah satu caranya yaitu pemotongan mata rantai distribusi hasil pertanian, supaya hasil petani dapat lebih tinggi dan menyejahterakan. Harapan yang memang ditunggu petani di tanah air. (*)


×
Berita Terbaru Update