Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Catatan dari Korea Selatan: Semangat dan Harapan Kala Pandemi COVID-19

Rabu, 13 Mei 2020 | 22.11 WIB Last Updated 2020-05-13T15:11:02Z

ALI IKHSANUL QAULI (kanan) bersama Dubes RI untuk Korsel  Umar Hadi (kiri).



Oleh: Ali Ikhsanul Qauli
(Presiden PPI Korea/PERPIKA)

PADA  akhir Desember 2019 lalu para ilmuwan menemukan virus SARS CoV-2. Kemudian diketahui bahwa virus ini bisa menyebabkan penyakit pneumonia yang biasa disebut COVID-19. Sejak terjadinya outbreak di Kota Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019, hampir seluruh negara di dunia terjangkiti penyakit ini tidak terkecuali Korea Selatan.

Korea Selatan mulai mengalami outbreak pada pertengahan Februari 2020 yang epicentrumnya terletak di Kota Daegu. Per hari ini (13 Mei 2020), sudah terdapat sekitar 10.900 orang positif COVID-19 di Korea Selatan. 

Mujurnya, saat ini kondisi Korea Selatan sudah sangat baik, bahkan sudah mulai dilaksanakan relaksasi menjaga jarak sosial (social distancing) per tanggal 6 Mei 2020 lalu. Kondisi ini tentunya tidak serta-merta datang dengan sendirinya melainkan dengan berbagai upaya pencegahan dan penanganan COVID-19 baik oleh pemerintah setempat maupun oleh masyarakat, termasuk WNI di Korea Selatan. 

Bersatunya WNI di Korsel

Situasi pandemi COVID-19 di Korea Selatan bagi WNI dan pelajar Indonesia secara umum tidaklah bisa dibilang mudah, terutama di kala outbreak COVID-19. Langkah-langkah antisipatif yang pemerintah setempat lakukan untuk pencegahan dan penanganan COVID-19 juga harus dibarengi dengan kerja sama yang baik antar WNI. Inisiasi dari KBRI Seoul untuk membentuk tim Gerak Cepat (Gercep) COVID-19 bisa dibilang sangat efektif utamanya dalam hal koordinasi dalam upaya melindungi WNI di Korea Selatan dari terjangkit COVID-19.

Tim Gercep COVID-19 terbentuk pada 6 Februari 2020, jauh sebelum terjadinya outbreak. Anggota tim ini terdiri dari perwakilan semua elemen WNI di Korea Selatan, mulai dari unsur para pekerja migran Indonesia (PMI), pelajar (PERPIKA), paguyuban-paguyuban, termasuk pula tokoh-tokoh yang menaungi rumah ibadah WNI seperti masjid dan gereja. Koordinasi yang terbentuk sangat efektif dalam hal penyampaian informasi terkait imbauan ataupun peraturan-peraturan pemerintah setempat selama pandemi COVID-19 kepada WNI. 

Begitu juga dengan kontak masing-masing anggota tim diumumkan secara terbuka yang menjadi tempat bertanya WNI terkait perkembangan situasi pandemi COVID-19 di Korea Selatan. Uniknya, tidak hanya WNI di Korea Selatan saja yang mendapatkan manfaat dari adanya tim Gercep COVID-19 ini, tetapi semua WNI di seluruh dunia yang memiliki urusan di Korea Selatan. 

Selain pembentukan tim Gercep COVID-19, KBRI Seoul juga membentuk posko untuk membantu WNI dalam hal distribusi bantuan berupa masker, hand sanitizer dan bahan kebutuhan pokok lainnya untuk daerah terdampak seperti di Daegu, Gyeongsangbuk-do, dan kora-kota di sekitarnya. KBRI Seoul juga menyalurkan bantuan berupa masker dan hand sanitizer ke seluruh WNI melalui masjid, gereja, dan perwakilan tiap kampus di Korea Selatan. 

Hasil dari koordinasi tim Gercep COVID-19, pembentukan posko dan pendistribusian bantuan kepada WNI ini bisa dibilang sangat baik karena secara keseluruhan tidak ada WNI yang terjangkit COVID-19 sampai awal April 2020 kemarin. Kemudian memang ada beberapa WNI terjangkit COVID-19, namun mereka merupakan pendatang dari Indonesia yang baru sampai di Korea. Artinya, WNI yang sejak awal berada di Korea Selatan selama outbreak berlangsung, bisa dibilang sehat dan aman dari COVID-19.

Kegiatan Mahasiswa

Bagi perwakilan PERPIKA yang menjadi bagian dari tim tersebut, selain membantu WNI secara umum tentunya mereka juga turut berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan pelajar Indonesia di Korea Selatan dari COVID-19. Imbauan ataupun informasi yang diperoleh dari tim Gercep COVID-19 diterjemahkan menjadi kesepakatan anggota PERPIKA untuk menghentikan semua kegiatan tatap muka selama outbreak hingga kondisi yang cukup aman untuk beraktifitas. Artinya, praktis semua kegiatan PERPIKA harus dalam bentuk online/daring. 

Kegiatan online bukanlah sesuatu yang asing bagi PERPIKA. Hampir semua koordinasi kegiatan sebelum pandemi COVID-19 adalah online. Hal ini disebabkan persebaran pengurus PERPIKA di berbagai kampus di Korea Selatan yang tidak memungkinkan adanya koordinasi tatap muka langsung secara rutin. Sehingga, dengan pengalaman tersebut kegiatan online selama masa pandemi COVID-19 seperti seminar-seminar, diskusi mahasiswa, bahkan kunjungan kampus online bisa dilaksanakan dengan lancar tanpa kendala berarti. 

Kegiatan online tersebut juga menjadi pengisi waktu mahasiswa di kala luang karena kebanyakan kampus-kampus di Korea Selatan menerapkan pembelajaran dengan media online selama masa pandemi. Artinya pelajar yang melakukan karantina mandiri dengan belajar dan beraktifitas di rumah bisa menghilangkan kejenuhan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan online yang diselenggarakan oleh PERPIKA.

Menumbuhkan Semangat dan Harapan

Selain kegiatan online yang menambah wawasan serta ilmu, PERPIKA juga mengadakan kegiatan yang memiliki social value, salah satunya adalah penggalangan dana. Kegiatan ini diselenggarakan untuk membantu saudara di Indonesia melawan COVID-19 yang mana PERPIKA sama dengan PPI Dunia serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Terbuka (UT) Korea. 

Kegiatan tersebut terlaksana dengan cukup baik dan pada tanggal 4 April 2020 terkumpul dana dari teman-teman pelajar Indonesia di Korea Selatan sekitar Rp 18 juta. PPI Dunia bekerja sama dengan BNPB dan beberapa instansi terkait menjadi inisiator dalam penggalangan dana di negara-negara lain yang menjadi naungannya. Kegiatan itu sampai sekarang masing terus berlangsung.

Yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan pengabdian masyarakat berupa belajar bahasa Korea secara online dan program mentorship beasiswa Korea. Kelas bahasa Korea ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia dengan peserta yang didominasi oleh para milenial Indonesia di tanah air. 

Dengan mengikuti kelas online tersebut, peserta tidak hanya turut serta berpartisipasi dalam pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah Indonesia, tetapi juga menambah ilmu dan pengetahuan bahasa Korea.

Bagi para pemuda Indonesia yang memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Korea, kelas online mentorship beasiswa Korea dari PERPIKA menjadi contoh konkret jalan menuju ke sana. Dengan melalui tahapan seleksi dan pendampingan selama kurang lebih 2 bulan sejak bulan Mei, diharapkan peserta bisa memiliki kesiapan yang cukup untuk meraih beasiswa pendidikan di Korea pada pembukaan kuliah musim gugur 2020 atau musim semi 2021. 

Program ini juga menjadi simbol bahwa harapan akan masa depan yang lebih baik masih dan akan terus ada bagi masyarakat Indonesia meski dalam kondisi pandemi COVID-19.

Peran Mahasiswa

Jika kegiatan pencegahan, penanganan COVID-19 serta program-program untuk mengisi aktivitas kala menjaga jarak sosial di Korea Selatan terus dilakukan dengan bergotong royong antara WNI dan pemerintah (KBRI Seoul), maka yang perlu juga menjadi perhatian adalah apa yang harus dilakukan untuk pemulihan setelah pandemi COVID-19. Di Korea Selatan, jumlah WNI didominasi oleh PMI, sehingga menjaga keselamatan dan kesejahteraan PMI selama masa pemulihan tentunya menjadi fokus utama. Maka dari itu, PERPIKA bekerja sama dengan APIK (Asosisasi Peneliti Indonesia di Korea) melakukan kajian dampak ekonomi COVID-19 bagi PMI di Korea Selatan. 

Kajian ekonomi ini diawali dengan pengambilan data melalui survey pada pertengahan hingga akhir Maret 2020. Hasil kajian tersebut berupa kesimpulan kondisi kekinian pabrik-pabrik di Korea Selatan dan beberapa butir rekomendasi yang diperuntukkan bagi KBRI Seoul dan instansi terkait PMI. 

Rupanya kajian tersebut mendapatkan respon positif baik dari PMI maupun dari KBRI Seoul dan diharapkan dilakukan berkala guna mendapatkan gambaran utuh kondisi PMI di Korea Selatan hingga situasi benar-benar pulih dari pandemi COVID-19. 

Penutup

Pandemi COVID-19 kiranya bisa menjadi bahan refleksi akan perlunya kita sebagai bangsa untuk bersatu dalam menjawab tantangan zaman. Sudah terlalu lama bangsa Indonesia terlarut dalam persoalan internal yang tidak ada habisnya. Rupanya benar apa yang sudah diprediksi oleh salah satu bapak pendiri bangsa kita, Soekarno, bahwa perjuangan anak bangsa Indonesia setelah masa kemerdekaan akan lebih sulit karena kita berjuang melawan saudara-saudara kita sendiri. 

Namun demikian, semangat WNI di Korea Selatan untuk bersatu melawan COVID-19 dan keinginan untuk terus menumbuhkan harapan masa depan yang lebih baik kepada saudara-saudara di Indonesia bisa menjadi tanda bahwa rasa persatuan itu tetap hidup meski terpisah jarak yang sangat jauh. Capaian daripada upaya-upaya yang dilakukan KBRI Seoul dan WNI di Korea Selatan kala pandemi COVID-19 juga bisa menjadi cerminan bahwa jika bangsa Indonesia bersatu maka tidaklah sulit bagi kita untuk menjadi bangsa pemenang dalam kancah kompetisi global.  (*)


×
Berita Terbaru Update