-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lailatul Qadar untuk Orang Tertentu atau Umum?

Friday, May 1, 2020 | 1:30 PM WIB Last Updated 2020-05-01T06:30:12Z


Selama Ramadhan 1441 Hijriyah Redaksi menurunkan artikel dikemas dalam bentuk konsultasi agama Islam. Tanya jawab Ramadhan ini diasuh oleh Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis Lc MHI.

Pertayaan: 

Ustadz, saya banyak mendengar tentang keutamaan Lailatul Qodar bahwa nilainya lebih baik dari seribu bulan. Namun yang menjadi pertayaan saya, Ustadz, apa Lailatul Qodar itu turun khusus untuk orang tertentu dan hanya untuk orang yang mengetahui tanda – tandanya saja? Atau juga bagi orang umum yang tidak merasa tanda – tanda Lailatul Qodar tetapi dia melakukan ibadah malam, apa itu juga mendapat nilai seribu bulan?

Atas jawaban Ustadz saya haturkan terima kasih.

Anis Syifa'
Barisan Sampang

Jawaban:

Mbak Anis Syifa’ yang saya hormati, Lailatul Qodar artinya malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan dan hanya ada di bulan Ramadhan saja tidak ada di bulan lain sebagai tambahan nilai barokah bagi orang yang beribadah di bulan suci Ramadhan. Waktu turunnya Lailatul Qodar  pun yang pasti di bulan Ramadhan setiap tahun.

Pada malam ke berapa ? Ini yang banyak  riwayat hadits dari Rasulullah SAW. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghitungnya ada 46 hadits. Mungkin di malam pertama atau kedua dan seterusnya yang jelas di antara malam bulan Ramadhan itu, namun dari beberapa riwayat itu yang paling banyak dijadikan pegangan oleh para ulama’ yaitu sepuluh terakhir di bulan Ramadhan sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

“ Carilah Lailatul Qodar itu pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.” (H.R. Muttafaq alaih)



Apakah Lailatul Qodar itu hanya untuk orang tertentu atau umum untuk semua muslim ? Ada dua pendapat ulama’:

1. Sekelompok Ulama’ berpendapat bahwa Lailatul Qodar itu turun  khusus hanya bagi orang tertentu yang tampak baginya tanda Lailatul Qodar secara nyata atau melalui mimpi, dan tidak mendapatkannya  orang yang tidak menghetahui tanda-tandanya pada saat turun.
Pendapat ini didasarkan pada penafsiran hadits ‘Aisyah : Bagaimana Rasulullah jika aku bertepatan (waafaqtu) dengan Lailatul Qodar apa yang aku baca ? Maka Rasulullah menjawab : “ Bacalah ! ‘ Yaa Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun senang mengampuni maka ampunilah aku. ” (H.R. Muslim).

Kata “waafaqtu” ditafsiri oleh ulama dengan menemukan dan mengetahui Lailatul Qodar secara nyata  dan ini syarat untuk mendapatkan pahala khusus itu.

2. Sebagian Ulama yang lain berpendapat bahwa Lailatul Qodar itu umum untuk setiap orang yang melakukan ibadah malam itu walaupun tidak mengetahui dan tidak ada tanda-tanda tetap mendapat nilai keutamaan Lailatul Qodar.

Karena kata” waafaqtu” tidak  berarti harus mengetahui tanda-tandanya baik melihat atau mendengar langsung atau tidak langsung.

Al-Imam al-Thobary menjelaskan, “ Ucapan sebagian ulama’ yang mensyaratkan seseorang harus mengetahui tanda Lailatul Qodar itulah yang menyebabkan sebagian besar kaum muslimin mengira bahwa Lailatul Qodar itu  seberkas cahaya yang hanya dapat terbuka kepada sebagian orang yang beruntung dan tidak kepada yang lainnya, dengan demikian orang bilang,  Wah … si Fulan mendapatkan Lailatul Qodar. Padahal semua itu tidak ada dalil yang  pasti dalam syari’at.”(DR. Yusuf  al-Qordlowi, Fiqh al-Shiyam : 115)

Mbak Anis Syifa’ yang dimuliakan Allah SWT, Lailatul Qodar itu adalah sebuah malam yang penuh dengan fadlilah dan tidak berbentuk suatu benda apa pun dan umum bagi setiap orang yang mencarinya dan mengharapkan keutamaannya, setiap orang yang beribadah  dalam bentuk apa pun baik itu shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershodaqoh, berdo’a, beri’tikaf dan semua amalan shaleh baik dia merasa atau tidak  jika yang dilakukan itu bertepatan dengan  Lailatul Qodar, maka akan dapat nilai pahala seribu bulan atau 83 tahun.

Atau dengan kata lain, jika seseorang sebulan penuh shalat tarawih dan tadarrus Al-Qur’an  atau amal yang lain secara istiqomah pasti di antara yang dilakukan itu akan bertepatan dengan Lailatul Qodar. Walluhu a’lam bisshowab. (*)

×
Berita Terbaru Update