Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lika-liku 33 Mahasiswa Jatim Mudik dari Madinah: Karantina 2 Bulan di Kampus hingga Menunggu Hasil Swab di Surabaya

Kamis, 14 Mei 2020 | 03.00 WIB Last Updated 2020-05-14T01:57:28Z


MOCHAMAD ZIEN MAULANA WACHID di depan kampusnya, Universitas Islam Madinah.


Sebanyak 33 mahasiswa Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, asal Jawa Timur akhirnya bisa berkumpul dengan keluarganya di kampung halaman masing-masing, setelah menjalani karantina di Gedung BP SDM Balongsari Tama Tandes Surabaya. Saat tiba di Bandara Soekarto-Hatta Cengkareng dari Arab Saudi, mereka sempat kesulitan transportasi menuju Surabaya. Beruntung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa membantunya dengan mengirim bus ke Jakarta.


LAPORAN GATOT SUSANTO


MUSIM liburan bagi mahasiswa di Arab Saudi  tiba. Termasuk bagi para mahasiswa yang kuliah di Universitas Islam Madinah. Dan bagi mahasiswa, liburan identik dengan mudik. Pulang kampung. 


Melepas rindu dengan keluarga di tanah air. Apalagi sekarang Bulan Ramadhan dan sebentar lagi Lebaran Idul Fitri. Sebuah momen indah bersama ayah bunda dan saudara yang tidak mungkin akan mereka lewatkan.

Namun, di tengah wabah Covid-19 yang melanda sekujur dunia, mudik ke tanah air bukanlah perkara mudah. Hampir semua penerbangan dari Madinah atau ke Kota Nabi ini berhenti beroperasi. Kecuali pesawat carter untuk repatriasi. Selebihnya lockdown. 

Karena itu kampus belum membuat kebijakan soal pemulangan mahasiswa Indonesia tersebut. Ya, menunggu wabah mereda. Menunggu penerbangan reguler dibuka kembali.


Maka, para mahasiswa Indonesia pun memutar otak. Sesekali mereka menggelar rapat. Para anggota Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) tak henti-hentinya melakukan koordinasi. Mencari info sana-sini. Menjajaki berbagai peluang agar bisa pulang kampung di Indonesia.

Dan tentu saja  PPMI Madinah sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia di kampus, intens berkomunikasi dengan pihak KJRI di Jeddah dan KBRI di Riyadh. Tujuanya  agar para mahasiswa selama liburan bisa dibantu oleh KJRI dan KBRI dengan cara meminta tembusan kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk diteruskan ke kampus.

Isinya meminta agar pihak kampus mengeluarkan visa kepulangan untuk mahasiswa Indonesia yang memang ingin pulang. Namun demikian pihak kampus sendiri tidak mewajibkan para mahasiswa untuk pulang. Mereka bisa mengisi liburan dengan berbagai aktivitas di Madinah.

"Kami tak harus pulang ke Indonesia, tapi bagi yang ingin pulang dipersilakan oleh pihak kampus dengan syarat setelah ada tembusan dari Kemenlu.  Sehingga beberapa waktu kemudian keluar-lah visa kami untuk bisa pulang ke Indonesia," kata Mochamad Zien Maulana Wachid, salah seorang koordinator pemulangan mahasiswa Universitas Islam Madinah Rabu 13 Mei 2020.

Para mahasiswa biasanya mendapat tiket penerbangan untuk pulang ke Indonesia yang  merupakan fasilitas tahunan dari kampus. Tiket ini diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi.


Namun kali tidak seperti tahun - tahun sebelumnya. Hal itu karena  pandemi Covid-19 sehingga tiket tidak bisa keluar secara langsung.

"Tak seperti tahun- tahun sebelumnya di mana tiket keluar sesuai tanggal keinginan masing masing. Tetapi saat ini berbeda, mayoritas mahasiswa Indonesia ingin segera pulang tetapi untuk tiket kita harus pasrah kepada pihak yang mengurusi hal tersebut. Sehingga tidak mungkin bisa sesuai keinginan masing-masing. Kami harus menunggu," kata pemuda asal Surabaya ini.

Akhirnya tiket pertama keluar untuk penerbangan tanggal 2 Mei 2020. Namun tidak ada satu pun untuk mahasiswa Universitas Islam Madinah. Mereka harus sabar menunggu lagi.

"Sama sekali tidak ada dari universitas kami. Ada dua orang Jatim tapi dari kampus luar Kota Madinah. Tak lama kemudian tiket selanjutnya keluar melalui email dengan tanggal penerbangan 5 Mei 2020. Kali ini  mayoritas untuk mahasiswa Universitas Islam Madinah. Jumlahnya kurang lebih 160-an dari data awal, tetapi ada beberapa yang terkendala sehingga data terakhir yang pulang di tanggal 5 Mei berjumlah kurang lebih 144 orang," katanya.

Setelah tiket keluar maka para mahasiswa pun membuat grup pemulangan wilayah Jatim. Tujuannya untuk bisa sharing tentang bagaimana agar proses pulang ke Indonesia bisa lancar. Salah satunya soal transportasi dari Bandara Soekarno-Hatta ke Surabaya. Pasalnya, hampir semua transportasi dari Jakarta ke Surabaya dilakukan pembatasan gegara wabah Corona.


Para mahasiswa  pun membuat kepanitiaan untuk mencari solusi agar bisa mendapat transportasi lanjutan dari Jakarta ke Surabaya. Mereka  mencari informasi soal syarat apa saja yang harus dipenuhi, misalnya bila harus lewat jalur udara atau darat, agar bisa sampai Surabaya.

"Kemudian salah seorang teman punya kenalan di Pemprov Jatim. Dari situlah kita mulai berkomunikasi dengan beliau untuk mencari info apakah kita bisa dibantu oleh Pemprov agar  bisa sampai ke Surabaya. Kami pun mengajukan surat permohonan bantuan ke Gubernur Jatim Ibu Khofifah Indar Parawansa. Selanjutnya kami hanya menunggu konfirmasi kepastian dari pihak Pemprov untuk solusi kepulangan kami," katanya.

Fasilitas bantuan Pemprov Jatim pertama kali diberi pengantaran  ke daerah masing-masing dari Bandara Juanda. Hal ini bila para mahasiswa  turun  di Bandara Juanda. Namun ternyata mereka landing di Bandara Soekarno-Hatta sehingga pihak Pemprov Jatim masih mempertimbangkan lagi soal bantuan apa yang bisa diberikan kepada mahasiswa tersebut.

"Kami  terus koordinasi dengan pihak Pemprov, data- data apa yang diperlukan dan lain-lain.  Kami diberikan opsi untuk pakai pesawat tetapi Garuda baru ada penerbangan tanggal 8. Kemudian opsi kedua  pakai jalur darat.  Pemprov Jatim mengirim bus ke Jakarta. Setelah diskusi dengan teman-teman kami ambil opsi kedua daripada  harus menunggu sampai tanggal 8 Mei," katanya.

Selama wabah Covid-19 melanda, para mahasiswa mengaku kesulitan mencari  informasi  soal moda transportasi yang bisa dan tidak bisa digunakan di Indonesia. 

"Kami kekurangan channel untuk mendapatkan info tersebut sehingga kita berinisiatif meminta bantuan Pemprov agar bisa pulang ke Surabaya dengan aman. Tanpa tertahan di Bandara Soetta karena tidak ada penerbangan. Karena itu kami para mahasiswa dari Madinah berterima kasih kepada Gubernur Khofifah dan jajaran Pemprov Jatim karena telah membantu kepulangan kami," katanya.

Mereka terbang dari Arab Saudi pada Selasa 5 Mei 2020 pagi dan tiba di Bandara Soekarno - Hatta malam harinya pukul 19.00 WIB. Tanpa menunggu lama mereka langsung dijemput bus bantuan Pemprov Jatim malam hari itu juga.

"Keesokan harinya kami sampai di Surabaya. Langsung menjalani karantina di Gedung BP-SDM sesuai aturan protokol kesehatan. Kami jalani rapid test, di mana seorang teman kami ternyata dinyatakan reaktif. Artinya, kami harus menunggu satu teman ini untuk menjalani tes swab untuk memastikan dia benar-benar bersih dari Corona. Dan alhamdulillah, hasil tes swab teman tadi ternyata negatif. Kami akhirnya diperbolehkan pulang," kata Zien.  

Karantina di Kampus


Sebelum pulang ke Tanah Air, para mahasiswa harus pula menjalani proses panjang. Pasalnya dalam menghadapi wabah virus corona tentunya mereka harus pula selalu mengikuti arahan dari pemerintah Arab Saudi. Begitu pula ketika ada keputusan dari pemerintah soal lockdown dan dilarangnya semua warga keluar rumah.

"Kami hanya dibatasi jam-jam tertentu saja dan hanya untuk keperluan mendesak yang boleh keluar rumah. Pihak kampus mulai menutup gerbang kampus. Artinya tidak ada yang boleh keluar dari kampus. Khususnya untuk mahasiswa. Bahkan tidak ada yang boleh masuk ke kampus kecuali untuk pengiriman stok makanan di toko- toko kampus dan petugas kampus yang berkepentingan saja. Untuk dosen sendiri sudah tidak ada yang ke kampus karena lockdown sehingga pembelajaran dibuat online," katanya.

Jadwal pembelajaran di kampus sendiri tidak semua bisa dilakukan oleh dosen. Sebab via online. Jadi setiap dosen punya kebijakan masing-masing dalam mengatur jam kelas tersebut. "Terkadang dua kelas dijadikan satu pertemuan supaya lebih ringkas," katanya.

Kehidupan sehari-hari di kampus benar-benar dibatasi. Artinya benar- benar dianjurkan untuk stay di asrama masing-masing. Bagi yang ada keperluan membeli bahan pokok atau makanan di toko kampus, diharuskan segera balik ke asrama setelah selesai belanja.

Untuk itu supermarket kampus sendiri yang awalnya hanya satu, ketika masa lockdown pihak kampus menambah titik-titik/spot baru tempat perbelanjaan di kampus. Hal ini untuk menghindari penumpukan pembeli guna mengurangi risiko penularan Covid-19.

Bukan hanya itu. Salat berjamaah pun tidak diperkenankan di masjid kampus. Salat jamaah lima waktu bisa dikerjakan di kamar masing-masing. Bahkan ketika ada yang melakukan salat berjamaah, dengan jumlah terlalu banyak, meski di dalam asrama pun mereka dapat teguran dari pihak kampus.

"Jadi upaya dalam pencegahan penyebaran covid-19 di kampus cukup bagus meskipun risiko dalam kebosanan bagi mahasiswa sangat tinggi karena benar-benar tidak bisa keluar kampus. Bahkan sampai tanggal 4 Mei kemarin sebelum saya balik ke Indonesia, di sana juga belum diperbolehkan keluar kampus. Jadi masa karantina kita di kampus secara gak langsung sudah hampir 2 bulan," kata Zien. (*)


×
Berita Terbaru Update