Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemprov Jatim Gelar Nuzulul Quran Online, 4.000 Hafiz dan 17 Bupati-Walikota Ngaji Al Quran

Friday, May 8, 2020 | 20:18 WIB Last Updated 2020-05-08T13:18:52Z

SURABAYA (DutaJatim.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menggelar Nuzulul Quran Online dengan melakukan Khotmil Quran Kubro 2020 pada Sabtu (9/5/2020) mendatang. Khotmil Qur'an Kubro tersebut akan digelar online pada pukul 20.30 WIB hingga 22.00 WIB di Gedung Negara Grahadi dengan penceramah utama yaitu Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA. 

Kegiatan Nuzulul Quran Online itu akan disiarkan langsung melalui siaran televisi, dan juga streaming melalui media sosial resmi Pemprov Jatim. 


Khotmil Quran Kubro 2020 secara online itu juga akan diikuti oleh Forkopimda Jawa Timur, 4.000 hafidz hafidzah, dan 17 bupati wali kota ikut membaca bergantian  pada juz ke - 30 , yaitu  Sumenep, Tuban, Banyuwangi, Jombang, Bangkalan, Bondowoso, Bojonegoro, Pasuruan, Kota Malang, Sidoarjo, Trenggalek, Madiun, Kota Kediri, Lumajang, Pamekasan, Malang, dan Probolinggo.


Sebelumnya Pemprov Jatim bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga menggelar Istighatsah Kubro secara online, pada Rabu, 8 April 2020, mulai pukul 19.30 WIB, bertepatan dengan Malam Nishfu Sya'ban. 

Istighatsah Kubro disiarkan secara langsung melalui sejumlah televisi di Jawa Timur, dipimpin oleh 19 Kiai Sepuh Pengasuh Pesantren di Jawa Timur.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk tolak pandemi Covid-19 alias Virus Corona. Dalam pandemi ini, telah mencapai ribuan korban manusia di seluruh dunia. Karena itu, tema pokoknya, “Istighatsah On Line Melawan Covid-19 dari Jatim untuk Dunia” .

Hikmah Nuzulul Quran


Terkait peringatan Nuzulul Quran sendiri, seperti dikutip dari nu.or.id,  Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar  pernah mengungkapkan, bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam sudah barang tentu harus dipelajari, dipahami lalu diamalkan supaya kita tetap menjadi manusia yang memanusiakan manusia.   


“Proses awal penurunan Al-Qur’an tidak lah mudah. Pasalnya, sampai tiga kali Nabi Muhammad mengatakan ‘saya bukanlah seorang yang dapat membaca’ seiring dengan sampai ketiga kalinya Malaikat Jibril menuntun sang Nabi untuk merapal Iqra’ (bacalah),” katanya saat membuka Seminar Nasional dan Loka Karya Kebangsaan Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) di Gedung Kemenag Kabupaten Sumenep.


Menurut Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) Jakarta ini, dari peristiwa penurunan wahyu, manusia setidaknya dapat mengambil beberapa hikmah. 

“Kenapa wahyu yang pertama turun itu berawalan dengan redaksi iqra’?” kata dia kepada sedikitnya seratus peserta yang hadir kala itu.


Perintah iqra’ pertama, sambung Kiai Nasar, mengandung pesan intelektual dimana manusia diharapkan tangkas membaca keadaan. Sementara iqra’ yang kedua mengandung pesan moral bahwa Al-Qur’an semestinya dimaknai dengan penghayatan dan dijiwai oleh iqra’ yang pertama. Adapun perintah iqra’ yang ketiga menegaskan pengendalian emosional. 


Selain itu, dalam upaya kita memahamai pesan Al-Qur’an hari ini, seorang penafsir semestinya mampu menyeimbangkan antara teks dan konteks. Sehingga, produk penafsiran yang dihasilkan memiliki bobot kontekstual dan tidak menghakimi. 


 “Tentu hal itu tidak dapat diperoleh melalui proses yang mudah dan instan, karenanya memerlukan perangkat keilmuan yang tidak parsial,” jelas Kiai Nasar yang juga Pembina FKMTHI. (gas)



No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update