Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Soal Salat Idul Fitri, Kiai Asep: Masjid-Masjid Mengacu ke Masjid Sunan Ampel Saja!

Jumat, 22 Mei 2020 | 10.05 WIB Last Updated 2020-05-22T03:54:05Z

Kiai Asep dan Wagub Jatim Emil Dardak saat Istighotsah di Masjid Abdul Chalim Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Kamis malam.





MOJOKERTO (DutaJatim.com) - Insya Allah Idul Fitri 1441 H jatuh pada Minggu 24 Mei 2020 lusa. Hal itu masih menunggu sidang itsbat yang digelar Kementerian Agama Jumat 22 Mei 2020 nanti malam.

Saat ini terjadi prokontra soal bolehtidaknya Salat Idul Fitri di masjid di tengah pandemi Covid-19. Namun demikian pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Prof. DR. KH Asep Saifuddin Chalim, mengimbau sebaiknya masjid-masjid berkiblat ke Masjid Sunan Ampel Surabaya saja.



Imbauan itu disampaikan Prof. DR. KH Asep  Saifuddin Chalim saat acara istighotsah di Masjid Abdul Chalim, Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (21/5/2020) tadi malam. Hadir pada acara istighotsah tersebut, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, beberapa Habib dari Pasuruan dan Probolinggo, juga puluhan Kiai dari sejumlah daerah di Jatim.
Kiai Asep memandang perlu menyampaikan imbauan itu  setelah Salat Idul Fitri di Masjid Agung Surabaya, yang semula diperbolehkan diselenggarakan, tapi kemudian dilarang oleh Pemprov Jatim.

Keputusan pelarangan penyelenggaraan Salat Idul Fitri di masjid  ini, cukup membingungkan para kiai, ulama dan takmir masjid di seluruh Jawa Timur.

Karena kebijakan yang berubah inilah, Kiai Asep mengatakan, kalau Masjid Al Akbar Surabaya membingungkan, sebaiknya berkiblat pada masjid Sunan Ampel Surabaya saja.


“Jadi kalau Masjid Sunan Ampel menyelenggarakan salat Idul Fitri, ya kita adakan Salat Id di masjid. Jika Masjid Sunan Ampel tidak menyelenggarakan ya kita ikuti,” jelas Kiai Asep.


Menurut Kiai Asep, berkiblat ke Masjid Sunan Ampel itu lebih pantas. Karena, Masjid Sunan Ampel didirikan oleh para Waliyullah, yakni Wali Songo. Selain itu, Masjid Sunan Ampel dikelola oleh orang-orang yang alim. Sehingga setiap keputusannya, sudah melalui pertimbangan yang matang. Pertimbangannya pun Islami.


Dua Protokol



Lalu bagaimana hubungannya dengan upaya pemutusan penularan wabah Covid 19 ? Ditegaskan oleh Kiai Asep, bahwa umat muslim dalam menghadapi Covid 19 harus mengikuti dua protokol. Yakni protokol Islam dan protokol Covid 19.
Protokol Islam antara lain, umat muslim harus menjaga mandi, harus menjaga wudlu minimal 5x sehari, sesuai salat 5 waktu, dan selalu berdo’a. Sedang protokol Covid ’19, ya seperti pakai masker, social distancing, cuci tangan, dll.



Sementara itu, Emil Dardak ketika dikonfirmasi tentang seruan Kiai Asep, secara diplomatis mengatakan bahwa dirinya hanya bisa bicara sesuai protokol Covid ’19, seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 


Sedang masalah pendapat Kiai Asep, Emil mengatakan tidak akan bicara dalam sudut pandang keagamaan. “Pak Kiai kan tokoh agama, ya hak Beliau untuk mengungkapkan pendapatnya," katanya. 

Sidang Itsbat


Sementara itu Kementerian Agama akan menggelar sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Syawal 1441 Hijriah, Jumat (22/5) malam. Sidang Isbat ini sekaligus juga akan menetapkan Hari Raya Idulfitri yang jatuh setiap tanggal 1 Syawal penanggalan hijriah.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Agus Salim menyatakan sidang Isbat akan digelar terbatas dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan virus corona (Covid-19).

"Sesuai protokol kesehatan, undangan untuk menghadiri sidang dibatasi hanya dihadiri Menag dan Wamenag, Majelis Ulama Indonesia, serta Komisi VIII DPR," kata Agus dalam keterangan resminya Jumat pagi. (din)



×
Berita Terbaru Update