-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Musim Menikah Tiba, Ini Aturan Nikah di Luar KUA di Masa Pandemi Covid-19

Minggu, 14 Juni 2020 | 19.19 WIB Last Updated 2020-06-14T12:23:03Z



SURABAYA (DutaJatim.com) -  Musim menikah telah tiba. Selain bulan Syawal, musim menikah juga pada bulan Besar bertepatan dengan bulan Idul Adha di penanggalan Hijriyah. Pasangan pengantin yang menikah di bulan ini dipercaya bakal mendapat rezeki berlimpah di kehidupan rumah tangganya. Pasangan pengantin juga akan hidup bahagia, punya anak saleh, dan jauh dari permasalahan hidup. Keluarga besar dari kedua mempelai dipercaya juga bakal turut bahagia dan sehat selalu. Amiin.

Karena itu, hari-hari ini banyak warga masyarakat mengurus surat-surat untuk menikah. Mulai surat pengantar dari RT/RW dan kantor kelurahan atau desa hingga kantor kementerian agama. Menikah tidak kenal pandemi Covid-19. Sebab calon mempelai pun sudah banyak yang mengurus surat-surat untuk proses penikahan mereka. Hanya saja tetap diberi saran agar memperhatikan protokol kesehatan sesuai status zona daerah masing-masing.

Lalu bagaimana proses menikah di masa pandemi covid-19?




Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam mengeluarkan kebijakan terbaru terkait pelayanan nikah. Dalam Surat Edaran tentang Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Nikah pada Masa Pandemi Covid-19 yang diterbitkan pada 10 Juni 2020 itu disebutkan bahwa masyarakat diperkenankan untuk melaksanakan akad nikah di luar KUA. 

Meski demikian, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi calon pengantin bila ingin melangsungkan akad nikah di luar KUA. “Dengan terbitnya edaran ini, maka calon pengantin diperkenankan untuk melangsungkan akad nikah di KUA, rumah, masjid, atau pun gedung pertemuan,” kata Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin, di Jakarta, seperti dilihat di laman kemenag.go.id Minggu 14 Juli 2020. 

Ia menambahkan, untuk pelaksanaan akad nikah di KUA dan rumah bisa dihadiri maksimal oleh 10 orang. “Sementara untuk pelaksanaan akad nikah di Masjid atau gedung pertemuan, dapat dihadiri maksimal oleh 30 orang,” tutur Kamaruddin. 

Menurut Kamaruddin, Bimas Islam menerbitkan edaran ini untuk memberikan rasa aman sekaligus tetap mendukung pelaksanaan pelayanan nikah dengan tatanan normal baru (new normal). “Dengan edaran ini, kami berharap pelayanan nikah dapat tetap dilaksanakan, namun risiko penyebaran wabah Covid-19 dapat dicegah atau dikurangi,” imbuh Kamaruddin. 

Surat Edaran Direktur Jenderal ini  meliputi panduan dan ketentuan pelaksanaan pelayanan nikah pada masa pandemi COVID-19 dengan tetap berpedoman pada Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan.

“Ini untuk melindungi pegawai KUA Kecamatan serta masyarakat pada saat pelaksanaan tatanan normal baru pelayanan nikah. Dalam setiap pelayanan, penerapan protokol kesehatan yang ketat menjadi sebuah keharusan,” kata Kamaruddin menegaskan. 

Ini sejumlah aturan dalam Surat Edaran ini, antara lain:

1. Layanan pencatatan nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan dilaksanakan setiap hari kerja dengan jadwal mengikuti ketentuan sistem kerja yang telah ditetapkan;

2. Pendaftaran nikah dapat dilakukan secara online antara lain melalui website simkah.kemenag.go.id, telepon, e-mail atau secara langsung ke KUA Kecamatan;

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2 dan/atau terkait proses pendaftaran nikah, pemeriksaan nikah dan pelaksanaan akad nikah dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan semaksimal mungkin mengurangi kontak fisik dengan petugas KUA Kecamatan;

4. Pelaksanaan akad nikah dapat diselenggarakan di KUA atau di luar KUA;

5. Peserta prosesi akad nikah yang dilaksanakan di KUA atau di rumah diikuti sebanyak-banyaknya 10 (sepuluh) orang;

6. Peserta prosesi akad nikah yang dilaksanakan di Masjid atau gedung pertemuan diikuti sebanyak-banyaknya 20% dari kapasitas ruangan dan tidak boleh lebih dari 30 (tiga puluh) orang;

7. KUA Kecamatan wajib mengatur hal-hal yang berhubungan dengan petugas, pihak Catin, waktu dan tempat agar pelaksanaan akad nikah dan protokol kesehatan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya;

8. Dalam hal  pelaksanaan akad nikah di  luar KUA, Kepala KUA Kecamatan dapat berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak terkait dan/atau aparat keamanan untuk pengendalian pelaksanaan pelayanan akad nikah dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat;

9. Dalam hal protokol kesehatan dan/atau ketentuan pada angka 5 dan angka 6 tidak dapat terpenuhi, Penghulu wajib menolak pelayanan nikah disertai alasan penolakannya secara tertulis yang diketahui oleh aparat keamanan sebagaimana form terlampir;

10. Kepala KUA Kecamatan melakukan koordinasi tentang rencanapenerapan tatanan normal baru pelayanan nikah kepada Ketua GugusTugas Kecamatan; dan

11. Kepala Kantor  Kementerian Agama Kabupaten/Kota melakukan pemantauan dan pengendalian pelaksanaan tatanan normal baru pelayanan nikah di wilayahnya masing-masing. (gas)




Foto ilustrasi: Pernikahan  Niken Anjani dengan Adimaz Pramono, putra pengusaha Dewi Motik, di tengah pandemik COVID-19 pada 6 Juni 2020. Acara digelar sederhana dan hanya dihadiri keluarga inti. Saat akad, Niken memakai kebaya brokat yang dipadukan dengan kain songket Palembang.

×
Berita Terbaru Update