-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cangkrukan Suroboyo: Physical Dancing With Corona!

Minggu, 07 Juni 2020 | 12.29 WIB Last Updated 2020-06-07T22:43:12Z


KAJI Dolah terkesima saat melihat orang antre dana bantuan sosial tunai (BST) Rp 600 ribu di Kantor Pos Jemur Andayani Surabaya Minggu 7 Juni 2020 pagi tadi. Jumlahnya ratusan orang. Padat. Kaji Dolah geleng-geleng kepala.

"Nek wis urusan weteng, moto isok peteng. Nyowo ora penting. Mereka tak merasa genting. Nyowo regone isok-isok  mek Rp 600 ribu," kata Kaji Dolah menggumam sendiri, saat Minggu pagi tadi hendak ke kafe Cak Gas. 

Maksud Kaji Dolah, kalau sudah urusan perut orang bisa jadi gelap mata. Nyawa jadi tidak penting. Orang jadi tidak melihat hal-hal yang gawat. Nyawa harganya bisa jadi hanya Rp 600 ribu saja.

Sesampai di Kafe Cak Gas, ternyata sudah ada Papi Erfandi, Cak BDH, Cak Nur, sedang ngopi JM. Tampak pula Cak Nda baru datang mengantar kopi JM produksinya ke Kafe Cak Gas.

"Assalamualaikum Cak Kaji....," kata Cak Nda saat berpapasan dengan Kaji Dolah di depan kafe.


"Waalaikumsalam...semoga man teman selalu sehat dalam lindungan Allah SWT." 

Kaji Dolah tidak bersalaman seperti biasanya. Padahal man temannya sudah mengulurkan tangan. Bukan karena protokol kesehatan. Lalu?

"Salaman itu agar kita selamat. Tapi kalian tidak peduli dengan keselamatan kalian sendiri!"

Para man teman celingukan gagal paham apa yang dimaksud Kaji Dolah. 

"Opo kamsut...eh... eh....opo maksud sampeyan Cak Kaji?" Cak Nur penasaran dengan sikap sohibnya. 

Sambil ngudek kopi, Aku juga ikut heran.

"Sampeyan kok gak salaman? Opo wis murtad?" 

Aku bicara sarkasme. Asbun saja. Dalam dunia cangkrukan Suroboyo bicara asbun dihalalkan asal tidak membuat saling tersinggung. Murtad dalam bahasa prokem dunia kafe, maksudnya keluar dari kebiasaan. Bukan jadi mualaf agama lain.

"Lha sampeyan iki lo,  jare kaum terdidik, tapi kok malah ikut-ikutan gak protokol kesehatan, piye to Cak? Endi physical distancingnya?" 


Suara Kaji Dolah agak tinggi. Ya, mungkin, setinggi tubuhnya yang pendek itulah.....

Para man teman malah melolo. Pasalnya, Kaji Dolah dikenal gak sepaham dengan kebijakan PSBB atau new normal. Dia suka menganalisis dari sisi teori konspirasi bahwa Covid-19 hanya proyek saja. Proyek rezim.

Dia sebut nama bos Microsoft Bill Gates yang seakan wero sak durunge winarak alias tahu lebih dulu soal Corona, jauh sebelum virus ini muncul di Wuhan China, teori pembatasan populasi manusia untuk menyelamatkan bumi, hingga soal laboratorium Amerika untuk virus. Kaji Dolah suka bicara berapi-api meski api kompor di kafe cak Gas  sudah lama padam. 

"Lapo sampeyan kok njanur gunung wak Kaji?" Aku bertanya lagi.

"Kursi di kafemu iki lo Cak Gas kok gak physical distancing blas. Cak BDH duduk mepet di kursi Cak Nur? Gimana kalo Cak Nur kena Corona?"

"Yo wis ben Cak Kaji!"

"Ya jangan gitu Ustad! Tadi aku lewat kantor pos Jemur Andayani, di sana ratusan warga berdesak-desakan saat antre mengambil bansos. Lha gini ini apa Pemerintah gak tahu, bahwa itu berbahaya! Pasar-pasar diminta physical distancing, kampung-kampung diminta jadi tangguh. Tapi ini kantor yang melaksanakan program bansos milik pemerintah, kok malah melanggar aturan pshysical distancing, piye ngene iki Cak!?"

"Ya namanya saja pemerintah. Dia pinter memerintah. Belum tentu bisa melaksanakan. Ya toh..ya toh...!?" Cak Erfandi Ya Toh angkat bicara.

"Tapi itu kan wong cilik yang sudah kebal Corona, Cak Kaji," kataku. "Sudah hidup bersama Corona. Dan Insya Allah Corona juga sudah paham soal kondisi wong cilik itu," aku menambahkan.

"Itu dilema. Kantor pos saya kira sudah mengatur sebaik mungkin. Sudah menerapkan protokol kesehatan. Sudah ada penjaga. Tapi kadang di lapangan sulit. Saya kira nanti akan ada perbaikan-perbaikan penerapan physical distancing ini," kata Cak BDH.


Lingkaran Setan


Bukan hanya Kaji Dolah. Aku tadi juga melihat warga menggunakan transportasi seperti motor, angkot bahkan becak untuk menyerbu kantor pos Jemur Andayani. Bahkan aku lihat warga yang mengambil bansos juga tak jarang sambil mengajak anggota keluarga lainnya. 

Bahkan lagi, boleh kan bahkan lagi,  banyak warga tampak menggendong anak-anak mereka yang masih balita dan tanpa menggunakan masker.

Dalam benaknya mereka pasti takut juga. Tapi bagaimana lagi. Bansos Rp 600 ribu itu sudah jadi perutnya. Jadi tidak mungkin mereka hidup tanpa perut. Jumlah mereka bisa dua kali lipat dari data penerima aslinya.

Betapa tidak, ada penerima yang anak-anak, sehingga harus diantar bapaknya. Yang menerima bansos ibu-ibu harus membawa anaknya yang masih balita. Lingkaran setan ini lebih mengerikan dari setan itu sendiri.

"Wis gak usah dipikir Cak Kaji!," kata Cak Erfandi.

"Masalahnya Allah SWT telanjur kasih aku pikiran. Dan aku keturunan homo sapiens. Aristoteles juga memberikan identitas ke aku sebagai animal rationale," jawab Kaji Dolah. Biasa, dia memang sok kaji plus plus.

"Repot nek musuh ingon-ingon (binatang) sitok Iki. Wis kaji ngeyelan pisan!"kata Cak Erfandi.

"Era physical distancing sak Iki wis ambyar. Wis diganti physical dancing with Corona!" aku menimpali.

"Cocok! Iku nama lain dari hidup berdampingan dengan Corona. Jadi jangan salahkah orang yang di kantor pos iku Cak Kaji!"

"Yo wis Ben! Ambyar Yo wis Ben!" kata Kaji Dolah. 

Yo wislah! (Gatot Susanto)





Gambar dan lagu: ilustrasi (wattpad dan YouTube)


×
Berita Terbaru Update