-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Banjir Bandang Luwu Utara, Korban Bertambah Jadi 16 Tewas 34 Masih Hilang

Wednesday, July 15, 2020 | 20:12 WIB Last Updated 2020-07-15T13:12:55Z
Rumah warga terkubur lumpur.


MASAMBA (DutaJatim.com) –  Banjir bandang yang melanda 6 kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Senin (13/7/2020) lalu, sungguh sangat dahsyat. Hingga Rabu 15 Juli 2020, sebanyak 16 orang tewas dan 34 warga lain dinyatakan masih hilang. Sebanyak 4.930 keluarga  terdampak air bah tersebut mengungsi di sejumlah lokasi aman.

Keenam kecamatan itu ialah Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat. Dua kecamatan mengalami bencana paling parah, yakni Baebunta dan Masamba.

"Sebanyak 16 jenazah sudah bisa dievakuasi, saat ini berada di RS Hikmah, RS Andi Djemma, dan Puskesmas Baebunta," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara, Muslim Muchtar, Rabu, 15 Juli 2020.

Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani Rabu (15/7/2020) sempat menyebut korban tewas 15 orang.  "Laporan sementara hingga saat ini 15 orang meninggal dunia. Memang ada laporan temuan (jenazah lagi), semalam itu kami dapat 1  jenazah yang ditemukan di Kecamatan Malangke, kemudian ada di daerah Radda  2 orang. Jadi itu ada penambahan lagi semalam, tapi kami coba validasi kembali," ujarnya.

Terkait orang hilang akibat banjir bandang, Indah mengungkapkan, awalnya pihaknya menerima 56 orang hilang. Namun setelah ada warga yang melaporkan kembali, sehingga saat ini laporan korban hilang berjumlah 34 orang. "Sampai semalam informasi ke kami tinggal 34 korban hilang," kata Indah.

Laporan ditemukannya orang hilang itu sebagian besar berasal dari warga Desa Radda, Kecamatan Baebunta. Pemkab Luwu Utara juga masih mendata ulang laporan orang hilang dari Kota Masamba.

"Kalau di Masamba belum kami update lagi, karena belum ada lagi yang melaporkan keluarganya yang hilang," tuturnya.

Dari 4.930 keluarga terdampak banjir bandang, sebagian besar saat ini masih mengungsi di beberapa titik.  

"Warga Radda mengungsi di jalan masuk TPA Meli, ada 2 desa di situ yang menjadi tempat pengungsian, jadi kita agak terbantu kalau di sana. Nah yang di Ibu Kota Masamba ini pengungsi terpencar, karena memang ada 2 kelurahan yang kebetulan dipisah oleh sungai. Nah kami berharap, melalui media sosial itu sudah kami sampaikan nomor kontak Satgap Pusdalops, supaya mereka yang tidak terjangkau bantuan logistik atau apapun itu mereka bisa menelefon ke nomor kontak itu untuk kemudian dapat segera dijangkau," jelasnya.

Tertimbun Lumpur

Pengiriman bantuan terkendala jalur yang terputus gegara tertimbun lumpur. Jalur menuju Kota Masamba, Luwu Utara (Lutra), Sulsel belum dapat diakses pasca banjir bandang Senin (13/7) lalu. Jalur Trans Sulawesi menuju wilayah tersebut hingga saat ini masih tertutup lumpur tebal, material kayu, hingga pepohonan.

"Ini jalan nasional sampai sekarang belum bisa kami buka karena tingginya material lumpur, dan bukan hanya di jalan nasional (Jalur Trans Sulawesi) saja materialnya, itu aliran sungai sudah bukan lagi di sungai, tapi pindah ke jalan," ujar Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani seperti dikutip dari Rabu (15/7/2020).

Saat ini tim gabungan masih berjibaku membuka jalur menuju Kota Masamba yang tertutup lumpur. Namun tebalnya material lumpur menyulitkan tim mempercepat pembukaan akses ke Masamba.

"Seperti di wilayah Radda, yang dari arah Barat Luwu Utara, itu kendalanya lumpurnya merata, begitu kita bersihkan lumpur yang di jalanan itu langsung tertutup lagi karena lumpur dari samping kembali masuk ke jalan, kayak begitu terus," jelas Indah.

Pembukaan jalur Trans Sulawesi ini menjadi fokus tim gabungan agar bantuan untuk korban banjir segera masuk ke Masamba. Sementara lumpur dan material banjir yang menutupi sejumlah ruas di dalam Kota Masamba belum mampu disentuh tim gabungan.

"Yang di Masamba itu sepanjang dari Jembatan Masamba sampai bandara, yang kemudian ke belakang mengikuti alur sungai, itu lumpur sama material banjir. Belum sempat kami bersihkan karena memang kami konsentrasikan untuk membuka akses jalan nasional," imbuhnya.

Jalur darat menjadi satu-satunya akses untuk masuknya bantuan bagi pengungsi banjir bandang di Luwu Utara. Sebab, Bandar Udara Andi Djemma di Kota Masamba belum dapat berfungsi untuk masuknya bantuan karena juga tertutup lumpur.

"Kalau lewat jalur udara, sampai saat ini kan bandara belum sempat dibersihkan, karena bandara juga kan kena, sebenarnya kalau itu sudah bersih bisa untuk Pesawat Hercules, heli, tapi memang harus dibersihkan dulu. Bandara kan ini posisinya depan Rujab Bupati persis, nah itu run waynya kan sebagian besar tertutup material lumpur," jelas Indah.

Menyiasati jalur nasional yang masih tertutup, Pemkab Luwu Utara saat ini masih memaksimalkan 2 jalur alternatif untuk masuknya bantuan. Indah menyebut jalur alternatif tersebut hanya difungsikan untuk masuknya bantuan dan bukan untuk jalan umum.

"Jalur alternatif ada tapi memang harus mutar, itu ada 2 jalur alternatif, hanya sementara kami batasi untuk 1 jalur saja, karena kami khawatirnya kalau jalur ini putus kan tidak ada akses lagi masuk bantuan ke Masamba," paparnya.

Banjir bandang terjadi akibat curah hujan yang tinggi sehingga Sungai Masamba meluap pada Senin, 13 Juli 2020, sekira pukul 19.00 Wita. (det/mdc)

×
Berita Terbaru Update