-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kisah Imam Shamsi Ali Berhaji: Jangan Pernah Sombong di Tanah Suci

Kamis, 30 Juli 2020 | 11.10 WIB Last Updated 2020-07-30T04:10:10Z


SELAIN ritual haji, kisah jamaah selama di tanah suci paling banyak diceritakan adalah tentang pengalaman spiritual. Kisah yang konon tentang "dibayar kontan" oleh Allah segala amal perbuatan kita saat berhaji. 

Misalnya bila kita berpikiran buruk atau kotor saat itu juga Allah SWT melibatkan kita dalam peristiwa yang buruk dan kotor tersebut. Begitu pula bila kita bersikap sombong, saat itu pula Allah SWT akan meruntuhkan kesombongan kita.


Imam Besar Masjid New York Amerika Serikay Ustadz Shamsi Ali punya pengalaman "dibayar kontan" ini saat pertama kali berhaji.

Imam Shamsi Ali melaksanakan ibadah haji kali pertama di tahun 1990. Saat itu dia masih berada di tahun ketiga menempuh pendidikan di Universitas Islam antar-Bangsa di Pakistan. Beliau berhaji sekaligus sebagai petugas haji.

 
"Saya berangkat haji sekaligus bekerja sebagai tenaga musiman (temus) bagi jamaah haji Indonesia saat itu," kata Imam Shamsi Ali seperti dikutip dari berita republika.co.id yang link tautannya dikirimkan ke redaksi DutaJatim.com Kamis 30 Juli 2020 pagi tadi.

Sebagai mahasiswa,  berangkat ke tanah suci beribadah haji adalah sesuatu peristiwa yang sangat besar. Perjalanan yang menjadi impian semua mahasiswa. 

Ditambah lagi, mendapatkan pengalaman tambahan dengan bekerja sebagai temus (tenaga musiman) dengan gaji real yang cukup baik.

Satu hal yang tidak dapat Imam Shamsi lupakan dari haji pertama itu adalah karena haji tahun tersebut terjadi peristiwa terowongan Mina yang menewaskan ribuan jamaah. Bahkan saat itu dia berada di sekitar lokasi ketika peristiwa itu terjadi.

Menengok kenangan di masa lalu, sebagai anak kampung,  berhaji adalah impian besar baginya. Ada sebentuk perasaan tidak biasa yang sulit dilukiskan dengan kata bagi Shamsi muda. 

"Antara bahagia, gembira, bangga, beruntung, seolah semua menyatu dalam perasaan ketika itu," jelas dia.

Tapi ada satu hal yang dirasakannya dan benar-benar tidak terukur dengan ekspresi kata. Yakni Ustaz yang berusia 52 tahun ini memiliki watak agak keras.

Ketika pertama kali masuk ke Masjidil Haram dan memandang Kakbah, tanpa sadar dan tak tahu alasannya, tiba-tiba meneteskan airmata. Hatinya luluh seolah merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan selama ini. 

Mengenang peristiwa berkesan ketika berhaji tentu terlalu banyak pengalaman menarik yang bisa disampaikan.  Termasuk wataknya yang keras dan cenderung percaya diri alias PD tadi. Dan salah sedikit dalam ber-PD-ria ini bisa tergelincing pada kesombongan.

"Saya masih ingat waktu pertama kali ziarah ke Jabal Nur. Ketika itu ada seorang jamaah dari Irian (Papua) yang menantang berlomba naik ke Jabal Nur. Saya ini seorang pendekar silat dan pernah juara nasional kejuaraan silat antarperguruan tinggi se-Indonesia. Jadi saya terlalu percaya diri untuk dapat menaiki gunung tersebut,"  kata Imam Shamsi.

Dan saat perlombaan dimulai ternyata terjadi sebaliknya. Betapa tidak, baru setengah perjalanan saja, dia merasa kepala pusing dan akhirnya harus beristirahat. Bahkan dua hingga tiga kali. Sedangkan jamaah dari Irian yang sudah kakek kakek berusia hampir 70 tahun tadi dengan mudah menaiki gunung Nur. Bahkan tanpa pernah berhenti. Ada apa dengan dirinya? 

Ya, belakangan Ustaz Shamsi mulai menyadari bahwa  memang malam sebelumnya dia kurang tidur. Namun hikmah dari peristiwa lomba naik Jabal Nur itu yang paling penting ialah jangan pernah angkuh dan sombong selama di tanah suci dan tetap bertawakkal kepada Allah dalam segala hal.

Haji untuk Ibunda

Tak hanya haji pertama yang berkesan, haji terakhir kali di tahun 2019 meninggalkan kesan tersendiri bagi Ustaz Shamsi. Ini karena dia menunaikan haji untuk menunaikan ibadah haji khusus bagi ibundanya.

"Kebetulan saja haji tahun lalu bersamaan dengan bulan wafatnya Ibu saya di tahun 2007 yang lalu. Maka saya berangkat khusus untuk berhaji badal atas bama Ibu saya,"ujar dia.

Setelah haji terakhir ini, Ustaz Shamsi berharap setelah Arab Saudi membuka bebas Makkah dan Madinah adalah untuk melakukan ibadah Umroh. Ada kerinduan untuk ke tanah suci dan menziarahi baginda Rasulullah di Madinah.

Meski demikian dia merasa prihatin dengan peristiwa Covid-19 yang menyebabkan ibadah haji tahun ini terkendala. Bahwa yang bisa melakukan ibadah haji hanya beberapa jamaah dari jamaah yang memang sudah mukim di Saudi Arabia.

"Harapan saya semoga corona segera berlalu dan kita kembali bisa beribadah, termasuk ibadah haji, secara normal," ujar dia. (rpbk)


×
Berita Terbaru Update