-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lima Puisi Romantis Karya Sapardi Djoko Damono

Sunday, July 19, 2020 | 12:54 WIB Last Updated 2020-07-19T05:54:49Z


JAKARTA (DutaJatim.com) - Indonesia kehilangan salah satu  penyair romantisnya. Sastrawan Sapardi Djoko Damono yang sajak-sajaknya menjadi teman setia mereka yang dimabuk asmara berpulang ke haribaan Illahi Rabi Minggu 19 Juli 2020 pagi tadi.

Sapardi masih produktif bersyair di usianya yang senja. Bersama anak-anak muda belia, tidak jarang ia menyuguhkan puisi yang romantis dan menyentuh hati.

Yang Fana adalah Waktu menjadi salah satu puisi romantis dari Sapardi yang begitu populer. Belum lagi Hujan Bulan Juni yang bahkan sampai diangkat ke layar lebar. Padahal selain dua puisi itu, masih banyak puisi-puisi Sapardi lainnya yang juga romantis.

Berikut 5 puisi cinta paling romantis karya Sapardi Djoko Damono yang begitu menyentuh hati seperti dikutip dari gramedia.com.

1. Aku Ingin


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”


Puisi Aku Ingin menjadi salah satu karya Sapardi yang beralih wahana menjadi lagu, atau biasa disebut musikalisasi puisi.

Gimana? Nggak kalah romantis kan? Puisi ini bisa kalian temui dalam buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni.


2. Pada Suatu Hari Nanti


“Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.”

Lewat puisinya ini, eyang Sapardi seolah menyatakan alasan dirinya masih menulis hingga kini. Lewat puisinya dalam Pada Suatu Hari Nanti ini pula, eyang seolah menyelipkan wasiat bahwa kita akan kekal bersama tulisan-tulisan yang kita tinggalkan.

3. Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu

hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu”


Tanpa perlu banyak bermetafora, Sapardi membuat pembacanya menyelam jauh ke dalam kata-kata yang ia ramu. Puisi Hanya bisa kalian jumpai bersama 74 sajak lainnya dalam buku kumpulan puisi Sapardi yang berjudul Melipat Jarak.

4. Sajak-Sajak Kecil tentang Cinta


mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

mencintai cakrawala
harus menebas jarak

mencintai-Mu
harus menjelma aku”

Romantis sekali bukan eyang Sapardi ini? Ia dengan baik menjelmakan maksud hati untuk menyatakan “hanya aku yang bisa mencintaimu” dengan analogi-analogi yang begitu cantik sebagai pengantarnya. Sama dengan puisi Hanya, puisi ini bisa kalian jumpai dalam Melipat Jarak.

5. Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kauulang lagi
menjenguk wajah 
yang merasa
sia-sia, yang putih
yang pasi
itu.

Jangan sekali-
kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.

Ingat,
jangan sekali-
kali. Jangan.

Baik, Tuan.”

Beberapa dari kalian mungkin masih asing dengan puisi ini. Puisi berdialog dengan judul Menjenguk Wajah di Kolam lahir bersamaan dengan 14 puisi lainnya dalam buku kumpulan puisi yang baru saja terbit Oktober 2018 ini, yaitu Perihal Gendis. (hud)
×
Berita Terbaru Update