-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sholat Jumat Pertama di Masjid Hagia Sophia, Jamaah Meluber Sejauh 1,6 Km

Jumat, 24 Juli 2020 | 19.04 WIB Last Updated 2020-07-24T12:04:55Z


ISTANBUL (DutaJatim.com) - Suara adzan kembali mengumandang sejak 86 tahun silam  dari 4 menara Masjid Hagia Sophia Turki pada Jumat, 24 Juli 2020 siang tadi. Shalat Jumat pertama sejak pengembalian status Masjid Hagia Sophia  ini dihadiri oleh ribuan orang.

Sebanyak 1.500 kapasitas Masjid Hagia Sophia penuh oleh jamaah, sedang ribuan lainnya yang tak mendapat kesempatan masuk masjid, memenuhi jalanan, jalan raya hingga jalan setapak, di sekitaran masjid. Hingga radius 1,6 KM jauhnya dari Masjid Hagia Sophia dipenuhi oleh Muslim yang menghadiri Shalat Jumat bersejarah tersebut.

Pengeras suara berukuran besar telah dipasang di atas bangunan Masjid Hagia Sophia agar jamaah yang berada di luar bisa turut menunaikan shalat Jumat dengan baik. Ya agar mereka bisa mendengarkan khutbah Jumat.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menghadiri shalat Jumat tersebut. Dalam tangkapan siaran langsung dari Anadolu Agency, Erdogan tampak khusyuk di barisan depan ruangan masjid. Ia memilih untuk tidak menempati spot khusus untuk Sultan yang masih terjaga di dalam Masjid Hagia Sophia. Erdogan juga membacakan ayat suci Al-Quran beberapa saat sebelum adzan berkumandang.

Sebelumnya, Huriyet Daily News melaporkan, Erdogan mengundang beberapa pemimpin luar negri seperti Presiden Azerbaijan dan Emir Qatar untuk turut menghadiri shalat Jumat di masjid bersejarah tersebut. Belum ada konfirmasi apakah para pemimpin tersebut memenuhi undangan Erdogan.

Shalat Jumat perdana setelah 86 tahun ini mendapat respon antusias yang luar biasa baik oleh warga Turki maupun Muslim dunia.

Hagia Sophia, sebuah harta karun arsitektur dunia yang tak tertandingi, menjalani pekerjaan restorasi selama era Ustmaniyyah, termasuk penambahan menara untuk panggilan adzan oleh arsitek terkenal Mimar Sinan.  Di bawah Kemal Attaturk yang sekuler,  masjid itu diubah menjadi museum pada tahun 1935.

Dalam beberapa tahun terakhir para pemimpin Turki telah menyerukan penggunaannya sebagai masjid lagi dan mengizinkan pembacaan Al-Quran di sana pada acara-acara khusus.

Berbagai ulama dunia seperti Mufti Oman Syeikh Ahmed bin Hamed, ketua Harakah Islamiah Palestina Syeikh Ra’ad Salah, dan anggota Persatuan Ulama Dunia Syeikh Nawwaf At-Takruri, memuji langkah pemerintah Turki dan presidennya Recep Tayyip Erdogan atas pengembalian status masjid Hagia Sophia ini.

Pernyataan Erdogan bahwa kembalinya Hagia Sophia sebagai Masjid adalah awal pembebasan Masjid Al-Aqsha pun diamini oleh para ulama dan tokoh Muslim Palestina dan dunia.


Dunia Islam Antusias

Pengubahan status Hagia Sophia sebagai masjid berdasarkan keputusan Pengadilan Tinggi dan dekrit Presiden Turki menggembirakan hati umat Islam di seluruh dunia.

Para ​​Muslim yang datang dari berbagai negara menanti-nantikan bisa melaksanakan sholat di Masjid Hagia Sophia ini.

Keputusan soal Hagia Sophia itu tak hanya disambut meriah oleh masyarakat Turki saja, tapi juga membangkitkan antusiasme umat Islam di negara-negara lain.

Setelah keputusan pengubahan status Hagia Sophia itu, banyak keluarga Muslim di seluruh dunia, terutama di Palestina dan Suriah, menamakan anak-anak mereka yang baru lahir dengan nama “Hagia Sophia” untuk mengenang peristiwa bersejarah itu.

Hagia Sophia adalah salah satu situs yang paling banyak dikunjungi di Turki untuk wisatawan domestik dan asing.

Bangunan ini berfungsi sebagai gereja selama 916 tahun sampai penaklukan Istanbul, dan berubah menjadi masjid dari tahun 1453 hingga 1934 - hampir setengah milenium.

Pada 10 Juli 2020, pengadilan Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum, membuka jalan untuk digunakan kembali sebagai masjid setelah jeda 86 tahun.

Pada 16 Juli 2020 Direktorat Urusan Agama Turki menandatangani protokol kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengelola Hagia Sophia setelah dikonversi menjadi masjid.

Di bawah protokol itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan mengawasi pekerjaan restorasi dan konservasi, sementara Direktorat Urusan Agama akan mengawasi layanan keagamaan di masjid tersebut.

Bangunan megah warisan berbagai peradaban itu juga akan terbuka untuk wisatawan domestik dan mancanegara secara gratis.

Proses pengubahan fungsi dari museum menjadi masjid setelah keputusan pengadilan Turki berlangsung dengan aktivitas restorasi dan pemasangan karpet.

Tim polisi juga mengambil tindakan antisipasi keamanan dengan menutup sekeliling masjid Hagia Sophia dan Blue Mosque dengan penghalang besi. Sementara anjing pelacak juga menemani tim polisi untuk langkah keamanan di sana.

Ikon Kristen Tetap Dilestarikan

Otoritas Turki berkomitmen untuk tetap melestarikan gambar kekristenan di Hagia Sophia.

Namun mosaik kekristenan yang tergambar di langit-langit Masjid Hagia Sophia yang meliputi gambar Yesus, Bunda Maria, dan roh kudus Kristen akan ditutup oleh tirai ketika sholat digelar. (hdy/rpk)


×
Berita Terbaru Update